TARAKAN – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tarakan merilis data yang cukup memprihatinkan terkait penanganan HIV/AIDS. Dalam satu dekade terakhir, jumlah Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) di Bumi Paguntaka hampir menyentuh angka seribu jiwa, namun tingkat kepatuhan berobat masih menjadi tantangan besar.
Berdasarkan data Dinkes Tarakan periode 2015 hingga Oktober 2025, tercatat akumulasi sebanyak 995 kasus HIV/AIDS. Sayangnya, dari jumlah tersebut, hanya sekitar 380 orang yang tercatat rutin menjalani pengobatan Antiretroviral (ARV).
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Tarakan, Rinny Faulina, mengungkapkan bahwa rendahnya kesadaran berobat ini dipicu oleh dua faktor utama: kondisi fisik yang tampak sehat dan stigma sosial.
“Banyak yang merasa masih sehat karena belum muncul infeksi oportunistik (gejala berat). Sehingga mereka merasa belum perlu berobat,” jelas Rinny, Senin (22/12/2025).
Selain itu, rasa takut akan "label negatif" dari keluarga dan masyarakat membuat banyak penyintas memilih menutup diri daripada mengakses layanan kesehatan. Padahal, pengobatan ARV merupakan kunci utama untuk menekan replikasi virus dan harus dijalani seumur hidup.
Rinny menekankan bahwa pengobatan tidak seharusnya menunggu jatuh sakit. Hingga Oktober 2025, diperkirakan baru sekitar 50 ODHA baru yang memulai pengobatan. Dinkes terus berupaya meruntuhkan tembok stigma agar para penyintas mau mengakses layanan ARV demi kualitas hidup yang lebih baik dan mencegah penularan lebih lanjut di masyarakat. (*)
Editor : Indra Zakaria