Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Pasar Tana Tidung Terbengkalai, Bupati Ibrahim Ali: Kami Tak Bisa Paksa Relokasi Jika Pedagang Merugi

Redaksi Prokal • 2026-02-11 13:00:00
Meski sempat difungsikan, hingga saat ini pasar Betayau yang dibangun beberapa tahun lalu tidak dimanfaatkan para pedagang. (SOPIAN/RADAR TARAKAN)
Meski sempat difungsikan, hingga saat ini pasar Betayau yang dibangun beberapa tahun lalu tidak dimanfaatkan para pedagang. (SOPIAN/RADAR TARAKAN)

TIDENG PALE – Bupati Tana Tidung, Ibrahim Ali, akhirnya angkat bicara menanggapi sorotan publik terkait sejumlah bangunan pasar yang terbengkalai di Kabupaten Tana Tidung. Ia menegaskan bahwa kondisi tersebut bukan disebabkan oleh pengabaian pemerintah, melainkan dilema ekonomi dan budaya yang dihadapi para pedagang di lapangan.

Ibrahim Ali mengungkapkan, pemerintah daerah sebenarnya telah berulang kali melakukan upaya persuasif untuk memindahkan para pedagang ke fasilitas pasar yang baru, seperti yang ada di Sesayap Hilir dan Betayau. Namun, kendala utama yang dihadapi adalah lokasi pasar yang dianggap tidak strategis karena jauh dari pusat permukiman warga.

"Kalau pasar jauh dari pemukiman, masyarakat malas ke sana. Dagangan pedagang akhirnya tidak laku, pendapatan menurun, dan otomatis mereka akan kembali ke tempat semula yang lebih ramai," ujar Ibrahim Ali pada Rabu (11/2/2026).

Bupati menjelaskan, bangunan-bangunan pasar tersebut merupakan aset yang sudah ada sejak awal masa kepemimpinannya. Meski telah dilakukan beberapa kali percobaan relokasi, pola yang sama selalu berulang: pedagang mencoba bertahan sebentar, namun akhirnya menyerah karena sepinya pembeli.

Bagi Ibrahim Ali, masalah ini bukan sekadar soal pemanfaatan gedung, melainkan soal keberlangsungan hidup masyarakat kecil. Ia menekankan bahwa pemerintah tidak bisa hanya mengedepankan ketegasan administratif tanpa mempertimbangkan aspek kemanusiaan dan ekonomi.

“Pedagang kita ini hidup dari hasil jualan harian. Kalau dipindahkan ke tempat yang tidak ramai, siapa yang bertanggung jawab ketika mereka kalah secara ekonomi? Kita harus melihat urgensinya,” tegas Bupati.

Ia mencontohkan kasus di Sesayap Hilir, di mana budaya masyarakat dan kebiasaan berbelanja sangat mempengaruhi keberhasilan sebuah pasar. Ketidakefektifan relokasi di sana menjadi pelajaran bahwa infrastruktur fisik tidak akan berfungsi tanpa adanya ekosistem ekonomi yang mendukung.

Kini, Pemerintah Kabupaten Tana Tidung tengah mengevaluasi langkah strategis selanjutnya agar bangunan-bangunan tersebut tidak terus menjadi aset mati. Namun, Ibrahim Ali memastikan bahwa kebijakan apa pun yang diambil ke depan tidak boleh mengorbankan kesejahteraan para pedagang kecil yang menjadi tulang punggung ekonomi lokal. (*)

Editor : Indra Zakaria