BARITO KUALA – Dunia dakwah di Kalimantan Selatan berduka sekaligus geram. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Barito Kuala (Batola) secara resmi mengeluarkan pernyataan sikap tegas mengecam aksi pembacokan terhadap pimpinan majelis taklim, Guru Husin Kaderi, yang terjadi di Kecamatan Rantau Badauh.
Insiden berdarah yang menimpa ulama kharismatik tersebut diduga dilakukan oleh pelaku yang tengah berada di bawah pengaruh minuman keras. Aksi nekat ini dinilai bukan sekadar tindak kriminal biasa, melainkan ancaman nyata terhadap tokoh agama yang selama ini menjadi pembimbing umat.
Ketua MUI Barito Kuala, KH M Abdat Rathami, didampingi Sekretaris Andin Arif Munandar Nasa'i, menegaskan bahwa penyerangan tersebut merupakan tindakan brutal yang sangat meresahkan masyarakat luas.
"Sehubungan dengan peristiwa penyerangan brutal dan keji terhadap ulama kita, Guru Husin Kaderi, kejadian ini sangat kami sesalkan. MUI Barito Kuala mengecam keras setiap tindakan kriminal, terlebih-lebih perilaku penyerangan berdarah terhadap ulama," tegas KH Abdat Rathami, Senin (27/4/2026).
MUI Batola menuntut agar keadilan ditegakkan tanpa pandang bulu. Mereka memberikan dukungan penuh kepada aparat kepolisian untuk mengusut tuntas motif di balik penyerangan tersebut secara transparan. Kejelasan hukum dianggap krusial agar tidak muncul persepsi liar di tengah masyarakat dan mencegah peristiwa serupa terulang kembali di masa depan.
Di sisi lain, apresiasi juga diberikan kepada jajaran kepolisian yang bergerak taktis. Berkat respons cepat, pelaku berhasil diringkus dalam waktu kurang dari 24 jam setelah kejadian. Kecepatan ini dinilai penting untuk meredam potensi gejolak di tingkat akar rumput yang sempat memanas pasca-kejadian.
Demi menjaga kondusivitas daerah, MUI mengimbau seluruh elemen masyarakat agar tetap tenang dan tidak terprovokasi. Masyarakat diminta untuk terus merawat persaudaraan dan keakraban sosial sembari meningkatkan penjagaan serta penghormatan terhadap para ulama.
"MUI sebagai pembimbing dan pelayan umat akan terus menegakkan amar ma’ruf nahi munkar bersama para ulama, pemerintah, dan masyarakat untuk memastikan keamanan bagi para penyiar agama di daerah kita," pungkasnya. (*)
Editor : Indra Zakaria