MARTAPURA – Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kabupaten Banjar bergerak cepat meredam kepanikan massal di Desa Kayu Bawang, Handil Halabiu, Kecamatan Gambut. Menyusul kehebohan video amatir pengejaran bola cahaya merah yang santer disebut sebagai sosok mistis kuyang pada Jumat (12/6/2026) malam, otoritas terkait kini mulai mengungkap tabir di balik fenomena ganjil tersebut.
Alih-alih mengaitkannya dengan dunia supranatural, DPKP Banjar justru mengendus adanya faktor buatan manusia di balik teror visual yang meresahkan warga dalam tiga malam terakhir tersebut. Kepala Bidang Pemadaman, Penyelamatan dan Sarana Prasarana DPKP Kabupaten Banjar, M. Kasyaf R, menegaskan bahwa pihaknya memilih mengedepankan pendekatan logika, keamanan, dan ketertiban masyarakat. Untuk itu, DPKP telah menerjunkan personel Bhabinkamtibmas Desa Kayu Bawang guna melakukan verifikasi dan pemantauan ketat di lapangan.
"Kami sudah arahkan Bhabinkamtibmas Desa Kayu Bawang, Handil Halabiu, Kecamatan Gambut. Jadi kalau ada gangguan lagi, mereka yang turun memastikan secara objektif di lokasi," ujar Kasyaf saat dikonfirmasi, Jumat (12/6/2026) malam.
Langkah pelibatan aparat kepolisian dan perangkat desa ini dinilai krusial. Selain untuk mengidentifikasi sumber asli cahaya, kehadiran petugas di lapangan juga bertujuan untuk mencegah terjadinya gesekan atau tindakan destruktif akibat kepanikan warga yang telanjur meluas.
Kasyaf memaparkan, secara teknis belum ada bukti ilmiah maupun dasar kuat yang bisa mengaitkan bulatan merah terbang itu dengan makhluk halus. Sebaliknya, berbagai kemungkinan logis kini sedang diselidiki, termasuk potensi penggunaan teknologi modern atau aksi jahil oknum tertentu. "Tidak menutup kemungkinan gangguan tersebut berasal dari ulah oknum yang sengaja menimbulkan ketakutan di tengah masyarakat, penggunaan perangkat drone (pesawat tanpa awak), atau faktor-faktor teknis lainnya yang perlu diverifikasi lebih lanjut," ungkap Kasyaf secara gamblang.
Ia menambahkan, di era digital saat ini, modifikasi perangkat terbang seperti drone yang dilengkapi lampu LED berwarna merah sangat memungkinkan untuk diterbangkan secara rendah pada malam hari, sehingga bisa mengecoh mata telanjang dan memicu misinterpretasi di tengah masyarakat yang masih kental dengan basis mitologi lokal.
Guna mengantisipasi kembalinya teror malam tersebut, Bhabinkamtibmas bersama elemen kemandirian desa berkomitmen akan langsung melakukan penyergapan ke titik koordinat jika objek bercahaya itu kembali menampakkan diri.
Pihak DPKP Kabupaten Banjar juga mengeluarkan imbauan keras agar masyarakat tidak lagi menyebarkan spekulasi liar yang bisa memperkeruh suasana di ruang digital maupun dunia nyata.
"Masyarakat diimbau untuk tetap tenang, berpikir jernih, dan tidak mudah terpancing oleh informasi atau video yang belum dapat dipastikan kebenarannya. Jika melihat sesuatu yang mencurigakan, segera laporkan ke aparat berwenang agar bisa ditindaklanjuti dengan cepat dan tepat," pungkas Kasyaf. (*)
Editor : Indra Zakaria