Sempat Menyentuh Level Berbahaya! Kabut Asap Pekat Selimuti Banjarbaru, Warga Mulai Cemas

Redaksi Prokal • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 11:34 WIB
Kabut asap menyelimuti Jalan Ahmad Yani kawasan Landasan Ulin hingga Liang Anggang, Banjarbaru, Selasa (21/7) pagi. (Foto: FADLAN ZAKIRI/RADAR BANJARMASIN)
Kabut asap menyelimuti Jalan Ahmad Yani kawasan Landasan Ulin hingga Liang Anggang, Banjarbaru, Selasa (21/7) pagi. (Foto: FADLAN ZAKIRI/RADAR BANJARMASIN)

BANJARBARU — Prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kalimantan Selatan terkait ancaman kabut asap terbukti terjadi. Sejak Selasa (21/7) dini hari hingga pagi, kabut asap menyelimuti sejumlah wilayah di Kota Banjarbaru, dengan paparan paling pekat menerjang kawasan Kecamatan Landasan Ulin hingga Liang Anggang.

Bersamaan dengan munculnya asap, kualitas udara di wilayah tersebut mengalami penurunan tajam. Data pemantauan BMKG mencatat konsentrasi partikulat halus (PM2.5) mulai merangkak naik dari 34,5 mikrogram per meter kubik pada pukul 06.00 Wita hingga mencapai puncaknya di angka 46,1 mikrogram per meter kubik pada pukul 09.00 Wita.

Kondisi ini menyusul lonjakan ekstrem sehari sebelumnya pada Senin (20/7), di mana konsentrasi PM2.5 di Banjarbaru sempat menembus angka 495 mikrogram per meter kubik—sebuah angka yang masuk dalam kategori sangat berbahaya.

Fenomena ini tak ayal memicu kekhawatiran masyarakat, terutama mereka yang harus beraktivitas di luar ruangan pada pagi hari. Hayati, seorang warga Landasan Ulin, mengaku merasakan aroma asap yang sangat menyengat disertai jarak pandang yang terbatas saat berolahraga pagi.

"Pas jogging tadi memang kelihatan berkabut. Matahari sudah terbit, tapi suasananya masih seperti tertutup asap. Mudah-mudahan tidak semakin parah seperti tahun-tahun sebelumnya. Saya terpaksa mengurangi durasi olahraga di luar ruangan," keluh Hayati.

Rasa waswas serupa diungkapkan oleh Sukma, warga Landasan Ulin lainnya yang khawatir akan dampak buruk kualitas udara pekat terhadap kesehatan anak-anak sekolah. "Anak-anak kan lebih rentan. Kalau kabut asap seperti ini terus, tentu kami sebagai orang tua jadi waswas. Semoga titik apinya cepat dipadamkan supaya udara kembali bersih," tutur Sukma.

Menanggapi fenomena tersebut, Forecaster Stasiun Meteorologi Syamsudin Noor, M. Agvi, menjelaskan bahwa kemunculan asap diduga kuat berkaitan erat dengan aktivitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah sekitar Banjarbaru, salah satunya seperti yang terdeteksi di Desa Keladan Baru, Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar.

“Namun, untuk memastikan sumber dan jalur pergerakan asap secara spesifik diperlukan analisis lebih lanjut menggunakan data titik panas, citra satelit, arah angin, dan kondisi atmosfer,” jelas Agvi. Agvi mengingatkan masyarakat bahwa potensi kembalinya kabut asap di masa puncak kemarau ini masih sangat tinggi.

“Untuk lokasi dan tingkat keparahannya sangat bergantung pada keberadaan sumber asap, kondisi atmosfer, serta arah dan kecepatan angin," tutupnya. (*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : Radar Banjarmasin
kabut asap