Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Emas Hijau dari Sembakung: Kaltara-Sabah Sulap 33.000 Hektare Mangrove Jadi Tambang Karbon Dunia

Indra Zakaria • Sabtu, 11 April 2026 - 08:30 WIB
Penanaman mangrove dalam program Tree Planting Activity sebagai bagian dari kerja sama “Cross-Regional Blue Economy Initiative” antara Kaltara dan Sabah, Malaysia, di Desa Tepian, Kecamatan Sembakung, Rabu (8/4) lalu. (DKISP KALTARA)
Penanaman mangrove dalam program Tree Planting Activity sebagai bagian dari kerja sama “Cross-Regional Blue Economy Initiative” antara Kaltara dan Sabah, Malaysia, di Desa Tepian, Kecamatan Sembakung, Rabu (8/4) lalu. (DKISP KALTARA)

SEMBAKUNG – Komitmen Kalimantan Utara (Kaltara) dalam menjaga paru-paru dunia semakin nyata melalui aksi kolaborasi lintas negara. Gubernur Kaltara, Zainal Arifin Paliwang, secara langsung memimpin penanaman mangrove di Desa Tepian, Kecamatan Sembakung, sebagai bagian dari inisiatif strategis Cross-Regional Blue Economy bersama Pemerintah Negeri Sabah, Malaysia. Langkah ini bukan sekadar upaya penghijauan, melainkan transformasi besar untuk menjadikan ekosistem pesisir sebagai pilar ekonomi baru yang berkelanjutan.

Potensi Raksasa di Desa Tepian

Proyek percontohan yang dikembangkan di wilayah ini mencakup lahan seluas 33.000 hektare yang terdiri dari perpaduan ekosistem mangrove dan lahan gambut. Gubernur Zainal menegaskan bahwa kawasan ini memiliki nilai strategis yang luar biasa dalam menyerap karbon dunia sekaligus menjaga keseimbangan lingkungan pesisir. Kerja sama dengan Sabah memungkinkan adanya transfer pengetahuan dan mekanisme pengelolaan yang lebih modern guna memaksimalkan potensi tersebut.

"Ini kegiatan ekonomi biru di Desa Tepian. Kita bekerja sama dengan Sabah untuk menanam mangrove dan memberdayakan masyarakat agar mampu mengelola potensi ekonomi karbon secara mandiri," ujar Zainal Arifin Paliwang saat meninjau langsung progres di lapangan.

Satu hal yang menjadi pembeda dalam program ini adalah keterlibatan langsung warga lokal. Masyarakat Desa Tepian diposisikan sebagai kunci utama yang mengelola dan menjaga kawasan tersebut. Pemerintah memastikan bahwa mereka tidak hanya menjadi penonton di tanah sendiri, melainkan pelaku ekonomi yang akan merasakan dampak langsung dari kelestarian lingkungan yang mereka jaga. Pelatihan dan pendampingan terus diberikan agar warga siap menghadapi era ekonomi hijau.

Visi besar dari misi hijau ini adalah mengomersialkan kemampuan serapan karbon hutan mangrove dan gambut Kaltara di pasar global. Pemprov Kaltara menargetkan pada tahun 2030, proses penjualan karbon sudah bisa mulai berjalan. Jika rencana ini terealisasi, pendapatan dari perdagangan karbon akan menjadi sumber kemakmuran baru bagi masyarakat Desa Tepian dan sekitarnya tanpa harus merusak alam.

Keberhasilan di Desa Tepian ini nantinya akan menjadi cetak biru (blueprint) bagi pengembangan desa-desa pesisir lainnya di seluruh wilayah Kalimantan Utara. Dengan garis pantai yang luas dan potensi hutan bakau yang melimpah, Kaltara optimis dapat memperkuat kerja sama regional di Borneo sekaligus membuktikan bahwa pelestarian alam bisa berjalan beriringan dengan kesejahteraan ekonomi masyarakat. (dkisp)

Editor : Indra Zakaria
#kaltara