TIDENG PALE – Kabupaten Tana Tidung terus membuktikan diri sebagai daerah dengan kekayaan perairan yang luar biasa. Salah satu komoditas primadona yang kini menjadi motor ekonomi nelayan lokal adalah udang galah. Tidak tanggung-tanggung, hasil tangkapan alami dari wilayah ini telah berhasil menembus pasar luar daerah seperti Tarakan hingga Berau.
Kepala Bidang Perikanan pada Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (DKPPP) Tana Tidung, Herni, mengungkapkan bahwa potensi udang galah di Bumi Upun Taka masih sangat menjanjikan. Sebagai gambaran, pengiriman dari titik produktif seperti Desa Buong Baru mampu mencapai angka yang fantastis dalam satu kali distribusi.
“Untuk pemasaran saat ini masih di sekitar lokal dan ke Tarakan, kadang ke Berau. Dari Buong Baru itu rutin mengirim, kadang seminggu sekali atau dua minggu sekali. Sekali kirim bisa mencapai 200 sampai 300 kilogram,” ujar Herni pada Rabu (15/4/2026).
Menariknya, udang galah yang dipasarkan tersebut bukan berasal dari tambak budidaya, melainkan hasil tangkapan alami di sungai-sungai yang masih asri. Para nelayan setempat tetap setia menggunakan alat tangkap tradisional yang ramah lingkungan seperti bubu dan jala.
Melimpahnya populasi udang ini diakui Herni tidak lepas dari ketegasan masyarakat dalam menjaga ekosistem. Aturan adat diberlakukan dengan ketat, terutama larangan penggunaan racun atau alat tangkap yang merusak lingkungan, baik bagi warga lokal maupun pihak luar.
“Di sana itu dijaga. Orang luar tidak boleh sembarangan masuk apalagi merusak. Masyarakat hanya menggunakan alat tangkap ramah lingkungan, makanya sumber daya udang galah tetap banyak,” tegasnya.
Kondisi perairan yang masih alami, yang ditandai dengan keberadaan predator seperti buaya, justru dipandang sebagai indikator kesehatan ekosistem yang terjaga. Menurut Herni, keseimbangan alam inilah yang membuat kualitas dan kuantitas udang galah tetap stabil. Dalam waktu dua malam saja, seorang nelayan bisa membawa pulang belasan kilogram udang galah berkualitas.
Sebagai bentuk dukungan, pemerintah daerah melalui DKPPP telah menyalurkan ratusan unit bubu pada tahun 2023 untuk menunjang produktivitas nelayan. Meski permintaan serupa mulai bermunculan dari wilayah lain seperti Kapuak di Kecamatan Muruk Rian yang kaya akan potensi lele rawa dan udang, pemerintah masih terkendala ketersediaan anggaran.
“Potensinya masih banyak, tapi memang tidak merata. Biasanya ada di wilayah tertentu seperti anak sungai yang masih alami, terutama di bawah pohon nifah,” pungkas Herni. (ana)
Editor : Indra Zakaria