NUNUKAN – Krisis infrastruktur di wilayah perbatasan kian mencapai titik yang mengkhawatirkan. Kerusakan jalan yang semakin parah berpadu dengan putusnya sejumlah jembatan di wilayah Krayan Selatan, Kabupaten Nunukan, kini berdampak serius terhadap mobilisasi warga serta tersendatnya distribusi barang kebutuhan pokok. Akibat lumpuhnya akses transportasi darat utama tersebut, stok bahan bakar minyak (BBM) dan komoditas pangan penting di pasaran dilaporkan mulai mengalami kelangkaan yang masif.
Kondisi memprihatinkan ini dibeberkan langsung oleh Camat Krayan Selatan, Oktavianus Ramli. Ia mengungkapkan bahwa hancurnya fasilitas jalan dan jembatan membuat kendaraan truk maupun mobil pengangkut logistik tidak memiliki pilihan lain selain memutar balik arah, atau bahkan sama sekali tidak berani melintasi jalur maut menuju Krayan Selatan.
"Saat ini stok barang kebutuhan mulai langka, terutama BBM dan barang pokok lainnya. Penyebabnya karena mobil pengangkut tidak bisa masuk ke Krayan Selatan akibat jalan rusak parah dan beberapa jembatan yang putus," kata Oktavianus Ramli memaparkan kondisi riil di wilayahnya.
Oktavianus menjelaskan bahwa dalam beberapa pekan terakhir, mayoritas sopir angkutan barang memilih untuk mogok atau menghentikan total perjalanan mereka ke arah Krayan Selatan. Langkah mogok jalan ini terpaksa diambil karena para sopir dihantui ketakutan besar kendaraan mereka akan amblas terjebak di kubangan lumpur sedalam lutut, tersangkut di jembatan darurat, atau mengalami kerusakan mesin yang fatal dengan biaya perbaikan yang sangat mahal.
"Mobil tidak berani masuk karena takut amblas atau nyangkut. Risiko kerusakan kendaraan juga sangat tinggi," ucap Oktavianus dengan nada cemas.
Dampak domino dari tersendatnya jalur distribusi barang ini langsung memukul telak kondisi perekonomian masyarakat setempat, yang ditandai dengan melonjaknya ongkos angkut orang dan barang hingga dua kali lipat dari tarif normal. Untuk moda transportasi ojek sepeda motor yang menjadi andalan menerobos jalan berlumpur, tarifnya meroket tajam dari yang semula hanya sekitar Rp250 ribu kini membubung tinggi menjadi Rp500 ribu untuk sekali perjalanan.
Kenaikan tarif yang mencekik leher juga terjadi pada biaya pengiriman barang per kilogram, di mana tarif lama yang berkisar di angka Rp2.500 kini melonjak drastis menjadi Rp5.000 hingga Rp7.000 per kilogram. Situasi serupa juga menimpa sektor angkutan penumpang roda empat yang mengalami kenaikan tarif signifikan akibat tingginya risiko di lapangan.
"Kenaikan juga terjadi pada tarif angkutan penumpang. Jika sebelumnya ongkos perjalanan menggunakan mobil sekitar Rp250 ribu per orang, kini masyarakat harus membayar antara Rp300 ribu hingga Rp500 ribu per orang," sebut Oktavianus merincikan beban finansial baru warga.
Kondisi pelik ini tentu saja menjadi hantaman ganda yang sangat memberatkan kehidupan warga perbatasan, yang selama ini memang memiliki ketergantungan sangat tinggi pada pasokan barang dari luar daerah. Selain harus bersabar menghadapi kelangkaan barang-barang penting, isi dompet masyarakat pun ikut terkuras habis karena terpaksa mengeluarkan biaya yang jauh lebih besar hanya demi memenuhi kebutuhan dasar harian mereka.
Melihat situasi yang kian darurat, pihak Kecamatan Krayan Selatan sangat berharap pemerintah daerah maupun pusat segera turun tangan melakukan penanganan darurat terhadap kerusakan jalan serta membangun kembali jembatan-jembatan yang putus agar nadi transportasi bisa kembali normal. Menurutnya, perbaikan infrastruktur secara kilat di wilayah perbatasan ini menjadi satu-satunya langkah mendesak yang paling konkret untuk menyudahi kelangkaan barang, menekan inflasi biaya distribusi, serta mengembalikan stabilitas harga kebutuhan pokok demi kelangsungan hidup masyarakat.(*)
Editor : Indra Zakaria