Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Terjepit Rupiah Lemah dan Jalan Rusak, Harga Sembako di Krayan Melesat, Semen Tembus Rp700 Ribu

Redaksi Prokal • Senin, 8 Juni 2026 | 10:15 WIB
MELONJAK : Sulitnya akses menujukan sejumlah kecamatan di Krayan berimbas pada kenaikan harga kebutuhan masyarakat.
MELONJAK : Sulitnya akses menujukan sejumlah kecamatan di Krayan berimbas pada kenaikan harga kebutuhan masyarakat.

NUNUKAN – Beban hidup masyarakat di lima kecamatan dataran tinggi Krayan, Kabupaten Nunukan, kian menghimpit. Sejak Januari 2026 lalu, warga perbatasan ini harus mengelus dada akibat lonjakan harga sembilan bahan pokok (sembako) serta bahan pokok penting (bapokting) yang terus merangkak naik tanpa henti.

Camat Krayan, Ronny Firdaus, mengungkapkan bahwa ketergantungan yang sangat tinggi terhadap pasokan barang dari wilayah Lawas, Sarawak, Malaysia, menjadi pemicu utama di balik jeratan inflasi ini. Ironisnya, lonjakan harga di tingkat pedagang terpaksa dilakukan demi menyesuaikan membengkaknya biaya belanja di negara tetangga akibat melemahnya nilai tukar rupiah terhadap ringgit Malaysia.

"Sebagai gambaran, minyak goreng yang sebelumnya Rp23.000 kini naik menjadi Rp26.000 hingga Rp27.000 per liter. Kemudian gula pasir yang semula Rp18.000, melonjak drastis menjadi Rp25.000 hingga Rp27.000 per kilogram," ujar Ronny Firdaus memaparkan rincian harga di wilayahnya.

Kondisi jauh lebih ekstrem justru mencekik warga di Kecamatan Krayan Selatan. Camat Krayan Selatan, Oktavianus Ramli, membeberkan bahwa di wilayahnya harga gula pasir kini sudah menyentuh angka fantastis, yakni Rp30.000 hingga Rp40.000 per kilogram. Sementara minyak goreng meroket dari Rp25.000 menjadi Rp29.000 hingga Rp35.000 per liter.

Tidak hanya urusan isi perut, sektor energi dan bahan bangunan di Krayan Selatan pun ikut terbakar. Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite yang semula dijual seharga Rp12.000, kini melambung menjadi Rp25.000 hingga Rp30.000 per liter. Lonjakan paling gila terjadi pada komoditas semen yang awalnya dihargai Rp280.000, kini meroket tajam ke angka Rp500.000 hingga Rp700.000 per sak.

Oktavianus menegaskan, mahalnya harga barang di Krayan Selatan merupakan dampak domino dari hancurnya infrastruktur darat. Selain faktor kurs ringgit, tarif ongkos angkut barang ikut melejit akibat kondisi jalan yang rusak parah serta putusnya beberapa jembatan penghubung utama.

Saking parahnya medan berlumpur yang harus ditembus, durasi perjalanan logistik yang biasanya sangat singkat kini berubah menjadi sebuah perjuangan yang melelahkan dan penuh risiko amblas.

"Pada Selasa (25/5) kemarin, ada dua mobil bergerak dari Long Bawan (Kecamatan Krayan) menuju Long Layu (Krayan Selatan) membawa pasokan BBM dan sembako untuk masyarakat. Lama perjalanannya memakan waktu sampai 7 hari. Padahal, jika kondisi jalan dalam keadaan baik, waktu tempuhnya hanya 1 hingga 2 jam saja sudah sampai," pungkas Oktavianus miris. (*)

Editor : Indra Zakaria
#krayan