NUNUKAN — Warga di Pulau Nunukan kembali harus mengelus dada. Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang parah mendadak melumpuhkan aktivitas harian warga sejak tiga hari terakhir. Terhentinya pasokan BBM ke wilayah perbatasan ini memicu krisis energi lokal yang membuat rakitan botol bensin di pinggir jalan mendadak lenyap bak ditelan bumi.
Berdasarkan pantauan di lapangan, kelangkaan hebat ini mulai merayap sejak Sabtu (1/8/2026). Sepanjang jalur utama yang menghubungkan Kecamatan Nunukan Selatan hingga wilayah Kecamatan Nunukan, deretan botol eceran yang biasanya berjejer rapi di depan toko warga tampak kosong melompong. Tak hanya pedagang manual, mesin-mesin pertamini otomatis pun ikut gulung tikar karena kehabisan stok.
Wandi, seorang warga Kelurahan Nunukan Timur, menuturkan bahwa para pedagang eceran sebenarnya sempat memberikan sinyal bahaya sebelum krisis benar-benar memuncak pada awal pekan. "Memang penjual bilang mau susah lagi BBM. Jadi langsung isi full. Tadi teman sempat keliling cari memang tidak ada yang jual," kata Wandi.
Pekerja Terpaksa Absen, Bensin Botolan Meroket Rp 35 Ribu
Imbas mengeringnya pasokan BBM ini langsung menghantam sendi kehidupan dan mobilitas warga lokal. Indra, seorang pekerja kantoran di Nunukan, mengaku terpaksa tak masuk kerja lantaran tangki sepeda motornya tak menyisakan bensin sedikit pun untuk membawa dirinya ke kantor.
"Dari kemarin mau ngisi BBM tapi memang tidak ada. Sempat teman bantu keliling carikan tadi tidak dapat juga. Mau tidak mau hari ini tidak turun kerja," keluh Indra pasrah. Di tengah situasi serba langka tersebut, hukum pasar pun berlaku tajam. Warga yang beruntung menemukan sisa pasokan BBM eceran harus merogoh kocek sangat dalam.
Aidil, warga lainnya, menceritakan pengalamannya berburu bensin hingga ke kawasan Jalan Ujang Dewa, Nunukan Selatan. Di lokasi tersebut, ia mendapati pedagang yang menjual sisa stok bensin menggunakan kemasan botol plastik besar dengan harga melonjak dramatis. "Tadi dapat satu botol besar. Harganya Rp 35 ribu rupiah. Dan waktu saya dapat, orang sudah ramai membeli. Jadi cuma sebentar langsung habis lagi," pungkas Aidil.
Kondisi darurat ini memicu desakan dari masyarakat agar pihak terkait dan pemerintah daerah segera turun tangan mengurai simpul distribusi BBM ke Pulau Nunukan sebelum kelumpuhan ekonomi warga semakin meluas. (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co