Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Truk "Monster" dan Aksi Pencurian Baut Hantui Jembatan Patah Sampit: Perbaikan Hanya Bertahan Seumur Jagung

Redaksi Prokal • Selasa, 28 April 2026 | 09:20 WIB
Petugas UPTD Perawatan Jalan dan Jembatan Dinas SDABMBKPRKP Kotim saat melakukan pemeliharaan Jembatan Patah di Jalan Kapten Mulyono Sampit, Senin (27/4). (Foto SDABMBKPRKP Kotim)
Petugas UPTD Perawatan Jalan dan Jembatan Dinas SDABMBKPRKP Kotim saat melakukan pemeliharaan Jembatan Patah di Jalan Kapten Mulyono Sampit, Senin (27/4). (Foto SDABMBKPRKP Kotim)

SAMPIT – Kondisi Jembatan Sei Mentawa 1, atau yang lebih akrab di telinga warga sebagai "Jembatan Patah" di Jalan Kapten Mulyono, kini kembali berada dalam fase kritis. Kerusakan berulang pada jalur vital di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur ini dipicu oleh dua faktor utama: gempuran truk bertonase "monster" dan hilangnya komponen jembatan yang diduga kuat akibat tangan jahil pencuri.

Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, Bina Konstruksi, Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (SDABMBKPRKP) Kotim telah menerjunkan tim untuk melakukan pemeliharaan pada Senin (27/4/2026). Namun, pengawas lapangan UPTD Pemeliharaan Jalan dan Jembatan, Alfian, mengakui bahwa langkah tersebut hanyalah solusi jangka pendek yang bersifat "tambal sulam".

"Perbaikan yang kami lakukan saat ini terbatas pada penggantian kayu ulin yang patah dan baut-baut yang lepas atau hilang. Tidak ada perbaikan total karena keterbatasan anggaran," jelas Alfian. Mirisnya, material kayu yang digunakan untuk menambal lantai jembatan pun merupakan kayu ulin bekas bongkaran proyek terdahulu, bukan material pengadaan baru.

Alfian memperingatkan bahwa dengan kondisi struktur yang sudah longgar dan material seadanya, ketahanan jembatan ini hanya akan bertahan maksimal dua hingga tiga bulan saja. Selain masalah teknis, ia menyoroti hilangnya pelat-pelat besi dan baut yang diduga sengaja dicuri. "Kalau tidak dicuri, tidak mungkin komponen seberat itu hilang begitu saja," tegasnya.

Namun, musuh terbesar bagi Jembatan Patah tetaplah kendaraan berat yang tidak menaati aturan. Meskipun secara teknis jembatan tersebut hanya mampu menahan beban maksimal 10 ton, kenyataan di lapangan berbicara lain. Truk kontainer besar dengan muatan yang diperkirakan melebihi 20 ton masih bebas melenggang melintasi jembatan ini.

Upaya pembatasan akses bagi kendaraan berat sebelumnya pernah dilakukan, namun langkah tersebut gagal total karena minimnya pengawasan. Portal penutup jalan dilaporkan pernah ditabrak oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Alfian menekankan bahwa urusan penertiban ini tidak bisa hanya dilakukan oleh pihaknya, melainkan memerlukan gerak bersama dengan instansi lain.

"Ini harus lintas koordinasi, terutama dengan Dinas Perhubungan untuk pengawasan dan penutupan jalan bagi kendaraan berat. Kami hanya menangani teknisnya," ujarnya.

Meskipun sempat ada wacana perbaikan total pada tahun 2026, hingga kini realisasi pergantian lantai jembatan secara menyeluruh belum menemukan titik terang. Selama langkah permanen belum diambil, Jembatan Patah akan terus menjadi ancaman mematikan bagi warga Sampit yang melintas di jalur padat tersebut. (*)

Editor : Indra Zakaria
#sampit