SAMPIT — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hebat yang melanda wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) masih belum mampu dijinakkan sepenuhnya oleh petugas. Dua lokasi karhutla, yakni di Desa Eka Bahurui, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, serta Desa Soren, Kecamatan Kota Besi, hingga kini masih terus membara dan membutuhkan penanganan super intensif dari tim gabungan.
Tragedi lingkungan di Desa Eka Bahurui bahkan menjadi prioritas utama penanganan darurat lantaran api di lokasi tersebut tidak kunjung padam meski upaya pemadaman telah berlangsung selama 11 hari berturut-turut. Sementara itu, amukan si jago merah di Desa Soren juga masih belum berhasil ditaklukkan sepenuhnya dan kini telah memasuki hari keenam.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, menjelaskan bahwa berdasarkan pantauan udara, saat ini masih terdapat puluhan titik panas (hotspot) yang tersebar di wilayah Kotim. Namun, perhatian utama seluruh tim penyelamat terfokus pada kebakaran di Desa Eka Bahurui yang sudah memasuki hari ke-11 dan Desa Soren di hari ke-6 karena dampaknya yang kian meluas.
Hingga pertengahan Juli 2026, BPBD Kotim mencatat setidaknya ada 325 titik panas yang tersebar di berbagai wilayah dengan total luas lahan terbakar yang sudah mencapai 142,99 hektare, di mana Kecamatan Kota Besi menjadi wilayah penyumbang titik panas terbanyak. Khusus untuk kebakaran di Desa Eka Bahurui dan Desa Soren, estimasi akumulasi lahan yang hangus terbakar diperkirakan telah melampaui angka 20 hektare.
Perjuangan tim gabungan di lapangan menghadapi tantangan yang sangat berat karena faktor cuaca ekstrem yang sangat panas dan minimnya curah hujan. Terlebih lagi, karakteristik lahan di kedua wilayah tersebut didominasi oleh lahan gambut kering, yang membuat bara api tetap tersimpan kokoh di bawah permukaan tanah dan sewaktu-waktu bisa kembali memicu kobaran api di atas permukaan meskipun petugas telah berulang kali melakukan penyiraman.
Bahkan bantuan udara dari BNPB yang mengerahkan dua unit helikopter pengebom air (water bombing) di kawasan Desa Eka Bahurui dan sekitarnya belum mampu memadamkan api secara total. Kondisi ini mulai memicu kekhawatiran besar di kalangan warga, mengingat kepulan asap pebal yang pekat berpotensi merusak kualitas udara dan mengancam kesehatan masyarakat, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
Guna mengatasi situasi darurat ini, personel BPBD bersama jajaran TNI, Polri, Manggala Agni, pihak swasta, dan para relawan terus bahu-membahu melumpuhkan titik api di garis depan. Multazam pun menegaskan bahwa keberhasilan penanganan bencana karhutla ini tidak akan maksimal tanpa adanya kepedulian dari masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan setiap temuan titik api sekecil apa pun kepada petugas agar bisa langsung ditangani sebelum meluas.(*)
Editor : Indra Zakaria