Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Dikepung Titik Api Baru, Heli Water Bombing Pun Belum Cukup Taklukkan Karhutla di Kotim

Redaksi Prokal • Rabu, 15 Juli 2026 | 10:30 WIB
Kebakaran lahan di Kotim.(BPBD)
Kebakaran lahan di Kotim.(BPBD)

 

SAMPIT — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) masih belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda. Tim gabungan di lapangan terus berkejaran dengan waktu untuk memadamkan sejumlah titik api, terutama di Desa Eka Bahurui, Kecamatan Mentaya Hulu, yang telah membara selama 11 hari berturut-turut dan terus dipantau intensif melalui patroli udara.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim, Multazam, mengonfirmasi bahwa kondisi di Desa Eka Bahurui menjadi salah satu yang paling mengkhawatirkan karena api belum sepenuhnya bisa dijinakkan sejak pertama kali berkobar pada awal Juli lalu.

“Desa Eka Bahurui sejak tanggal 3, sekarang tanggal 14, memang 11 hari, masih terbakar. Visual melalui patroli udara BNPB tetap memonitor wilayah tersebut,” ujar Multazam saat memberikan keterangan resmi.

Meskipun upaya pemadaman dari udara telah dilakukan sebanyak dua kali menggunakan helikopter water bombing dan sempat membuat kepulan asap menipis, bara api kembali muncul ke permukaan. Karakteristik lahan gambut yang menyimpan panas di bawah permukaan tanah menjadi alasan utama sulitnya memadamkan api secara permanen dari udara.

Menurut Multazam, metode pemadaman yang paling efektif untuk lahan gambut adalah melalui jalur darat. Namun, tim di lapangan menghadapi kendala besar berupa sulitnya akses dan minimnya ketersediaan sumber air di sekitar titik kebakaran. Di Desa Eka Bahurui, petugas bahkan harus bekerja ekstra keras membuka jalur rintisan baru sepanjang 750 meter di tengah hutan agar selang pemadam bisa menjangkau titik api dari sumber air terdekat.

Selain di Eka Bahurui, kebakaran di Desa Soren juga telah memasuki hari keenam. Meskipun intensitas apinya dilaporkan mulai mengecil, petugas tetap disiagakan di lokasi agar kebakaran tidak kembali membesar.

Tantangan bagi BPBD Kotim semakin berat seiring munculnya sejumlah titik api baru di beberapa wilayah secara bersamaan, mulai dari kawasan Lembur Kuring, Jalan Jenderal Sudirman Kilometer 11, hingga Desa Ramban di Kecamatan Mentaya Hilir Utara. Beberapa lokasi baru ini bahkan tidak dapat diakses oleh kendaraan pemadam besar roda enam, sehingga petugas terpaksa berjalan kaki membawa mesin pompa portabel demi memblokir pergerakan api.

Kebakaran skala kecil akibat kelalaian manusia juga sempat terjadi di Jalan MT Haryono Barat yang dipicu oleh aktivitas warga membakar sampah di pinggir jalan, meski untungnya kejadian tersebut bisa segera diatasi sebelum meluas ke permukiman.

Banyaknya titik kebakaran baru yang muncul dalam waktu bersamaan ini membuat kekuatan armada dan personel BPBD Kotim kini berada di batas maksimal. Multazam mengakui bahwa stamina para petugas di lapangan mulai terkuras habis karena harus membagi fokus ke banyak lokasi sekaligus, sementara mereka tetap dituntut bersiaga secara bergantian sepanjang malam demi mengantisipasi potensi kebakaran susulan. (*)

Editor : Indra Zakaria
kalteng karhutla