Di Atas Padam, Tapi Bara Gambut Masih Membara di Kalteng

Redaksi Prokal • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 11:00 WIB
Karhutla di Kalteng.
Karhutla di Kalteng.

PALANGKA RAYA — Kobaran api di atas permukaan lahan gambut Kalimantan Tengah memang telah berhasil dipadamkan, namun ancaman nyata belum sepenuhnya berakhir. Bara api yang masih bersemayam rapat di kedalaman tanah gambut terus memicu kepulan asap pekat, memaksa tim gabungan berpacu dengan waktu menyisir dan menyiram titik-titik rawan agar api tidak kembali menyala secara mendadak.

Upaya pendinginan intensif ini terus digencarkan di sejumlah lokasi strategis, mulai dari Kota Palangka Raya hingga Kabupaten Pulang Pisau. Langkah marathon ini diambil guna memastikan ancaman kebakaran tidak meluas dan menyasar area permukiman warga maupun jalur transportasi.

Meningkatnya intensitas Karhutla di Kalteng sepanjang Juli 2026 mencatatkan rekor signifikan. Berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPB-PK Kalteng, luas lahan yang terbakar dalam kurun waktu satu bulan tersebut mencapai 914,39 hektare. Angka fantastis ini menyumbang sekitar 65,8 persen dari total kumulatif 1.388,25 hektare lahan terbakar sepanjang periode Januari hingga Juli 2026. Lonjakan tajam ini terjadi seiring masuknya wilayah Kalteng ke puncak musim kemarau.

Salah satu lokasi dengan penanganan paling krusial berada di Kelurahan Kameloh Baru, Kota Palangka Raya, yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Pulang Pisau. Karhutla di kawasan ini dilaporkan telah berkobar selama sepekan dan posisinya kian merambat mendekati bahu jalan raya.

"Saat ini sedang ditangani sama Tim Satgas," ujar Manajer Pusdalops BPBD Kota Palangka Raya, Balap Sipet.

Dampak karhutla kini mulai dirasakan langsung oleh masyarakat perkotaan. Khusus di wilayah Kota Palangka Raya, tercatat ada 130 kejadian karhutla dengan total lahan hangus mencapai 57,89 hektare. Sebaran kabut asap tipis hingga sedang mulai terlihat mengurangi jarak pandang dan memaksa sebagian warga untuk kembali mengenakan masker saat beraktivitas di luar rumah.

Menanggapi situasi darurat ini, perhatian penuh diberikan oleh pemerintah pusat. Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Djamari Chaniago bersama Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto meninjau langsung lokasi pengeroyokan pemadaman di Pulang Pisau.

Kepala BNPB Suharyanto mengungkapkan bahwa sebanyak 500 personel Satgas Darat Gabungan yang terdiri dari unsur TNI, Polri, Manggala Agni, BPBD, BNPB, dan Masyarakat Peduli Api (MPA) telah diterjunkan ke lapangan. Tantangan terbesar petugas adalah mematikan bara tersembunyi yang berada beberapa meter di bawah permukaan tanah gambut.

"Apinya sudah tidak ada, tetapi asapnya ini yang masih tebal. Karena lahan gambut, di bawah permukaan itu masih ada bara sehingga tidak bisa ditinggal dan harus disemprot terus sampai asapnya betul-betul hilang," kata Suharyanto.

Guna mempercepat proses penyiraman di area yang sulit dijangkau, BNPB memadukan operasi darat dan udara secara terintegrasi. Helikopter water bombing dikerahkan untuk melakukan penyiraman dari udara sekaligus menyuplai air ke flexible tank berkapasitas 6.000 liter di darat melalui metode heli waterpool. Air dari tangki tersebut kemudian ditarik menggunakan pompa portabel oleh petugas darat untuk membasahi kedalaman tanah.

Tak hanya itu, BNPB juga menggenjot Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dengan mengoperasikan pesawat penyemai awan di langit Kalteng. Penurunan hujan buatan dinilai menjadi cara paling ampuh dan ampuh untuk menembus serta memadamkan total sisa-sisa bara api yang mengendap jauh di dalam lapisan tanah gambut.

Editor : Indra Zakaria
Sumber : Kalteng Pos
kalteng