Imbas Karhutla Mengamuk, Kota Sampit Diselimuti Asap Tebal dan Udara Masuk Kategori Tak Sehat

Redaksi Prokal • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 13:19 WIB
Kabut asap tebal di Sampit Rabu 5 Agustus 2026.(Miftah/kaltengpos.jawapos.com)
Kabut asap tebal di Sampit Rabu 5 Agustus 2026.(Miftah/kaltengpos.jawapos.com)

SAMPIT – Mencekamnya ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mulai memberikan dampak nyata bagi kehidupan warga. Pada Rabu (5/8/2026) pagi, Kota Sampit tampak pekat diselimuti kabut asap tebal yang mengganggu pernapasan dan pandangan.

Aroma sangit pembakaran mulai menusuk hidung warga berjuluk Bumi Habaring Hurung tersebut sejak malam hari. Tak sekadar mengganggu jarak pandang, kualitas udara di wilayah ini pun merosot tajam. Berdasarkan pemantauan The Weather Channel, indeks kualitas udara di Sampit menyentuh angka 167 atau masuk dalam kategori tidak sehat.

Kondisi ini memaksa warga untuk kembali mengenakan masker saat harus berkegiatan di luar rumah demi menghindari dampak buruk paparan asap. "Kabut asapnya tebal. Dada jadi sesak," ungkap Beben, salah seorang warga Sampit yang merasakan langsung pekatnya paparan asap.

Parahnya kondisi ini tak lepas dari maraknya kejadian karhutla yang melalap berbagai titik selama hampir satu bulan terakhir. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim mencatat, setidaknya terdapat delapan lokasi kebakaran yang ditangani tim gabungan hanya dalam kurun waktu satu hari.

Titik-titik api tersebut mengepung wilayah pemukiman hingga akses jalan utama, mulai dari kawasan Jalan Graha Pramuka, Sangga Buana, MT Haryono Barat, Pelita Barat, hingga beberapa titik di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman dan Tjilik Riwut.

Upaya penjinakan si jago merah pun menghadapi kendala besar di lapangan. Cuaca terik, minimnya pasokan air, serta karakteristik lahan gambut membuat proses pemadaman berlangsung amat menguras tenaga. Sering kali, api kembali menyala di permukaan akibat bara yang masih mengendap di dalam lapisan tanah gambut. Hingga awal Agustus 2026, akumulasi luas lahan yang terbakar di Kotim telah menembus angka lebih dari 321 hektare dan diperkirakan masih bisa melonjak jika kemarau terus berlanjut.

Saat ini, sinergi Satgas Karhutla yang terdiri dari Pemkab Kotim, TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, hingga para relawan terus berjibaku memadamkan api dan meningkatkan patroli pencegahan. Masyarakat pun diimbau keras untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan kemunculan titik api sekecil apa pun. (*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
kalteng