PALANGKA RAYA – Menghadapi ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang terus meningkat di puncak musim kemarau, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengambil langkah cepat dengan memperkuat penanganan lewat jalur udara. Berpusat di Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya, dua unit pesawat disiagakan untuk menyisir langit Kalimantan Tengah demi menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) serta patroli pemantauan titik api.
Strategi penyemaian garam atau Natrium Klorida (NaCl) ini difokuskan pada gumpalan awan potensial guna memicu hujan buatan. Upaya tersebut sangat krusial untuk membasahi lahan-lahan gambut yang mulai mengering sekaligus membantu memadamkan kobaran api di wilayah yang sulit dijangkau lewat darat.
Penata Penanggulangan Bencana Ahli Pertama BNPB, Dadang Rhamdani, menjelaskan bahwa saat ini satu armada pesawat difokuskan penuh untuk menyemai bahan semai, sementara satu pesawat lainnya dikerahkan untuk memantau keberadaan hotspot, kepulan asap, dan pemetaan luasan area yang terbakar dari udara.
Dalam setiap kali mengudara untuk misi modifikasi cuaca, pesawat mampu mengangkut hingga 1.000 kilogram bahan semai NaCl. Pesawat diterbangkan berdasarkan analisis ketat terhadap kondisi atmosfer serta keberadaan awan potensial, sehingga proses pemicuan hujan dapat berjalan presisi dan efektif.
Sejak pertengahan Juni hingga awal Agustus 2026, BNPB mencatat akumulasi operasi udara di Kalteng telah menembus 39 kali penerbangan dengan total waktu mengudara mencapai lebih dari 80 jam. Tak kurang dari 39.000 kilogram NaCl telah disebar di berbagai wilayah rawan kebakaran menggunakan armada Cessna Grand Caravan.
Sinergi antara guyuran hujan buatan dari Operasi Modifikasi Cuaca dan ketajaman pantauan patroli udara ini diharapkan mampu membendung laju Karhutla, meminimalkan dampak kabut asap, serta menjaga ekosistem hutan dan lahan di Kalimantan Tengah tetap aman sepanjang musim kemarau. (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co