PALANGKA RAYA — Masyarakat di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng) diimbau untuk bersiap menghadapi cuaca terik nan menyengat. Berdasarkan rilis prakiraan cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sebagian besar wilayah Bumi Tambun Bungai didominasi kondisi cerah berawan hingga berawan.
Kendati dinaungi awan, tak ada tanda-tanda guyuran hujan yang akan menyiram tanah Kalteng. Sebaliknya, suhu udara diprakirakan meroket tajam hingga menyentuh angka maksimum 35 derajat Celsius, dengan Puruk Cahu dan Nanga Bulik menjadi daerah berhawa paling membakar.
Di Puruk Cahu, suhu udara bergerak di kisaran 24–35 derajat Celsius dengan kelembapan 58–93 persen dan hembusan angin 7 km/jam. Kondisi yang tak jauh berbeda terjadi di Nanga Bulik, di mana suhu maksimum juga mencapai 35 derajat Celsius dengan tingkat kelembapan berkisar antara 41–90 persen.
Suhu tinggi ini merata menghiasi 14 kabupaten/kota di Kalteng. Ibu Kota Provinsi, Palangka Raya, diprakirakan berada di kisaran 24–34 derajat Celsius. Angka serupa (24–34°C) juga membayangi wilayah Tamiang Layang, Pulang Pisau, Kuala Kapuas, Kasongan, dan Buntok.
Sementara itu, Pangkalan Bun dan Sukamara masing-masing mencatatkan suhu tertinggi 34°C dan 33°C. Di pesisir, Kuala Pembuang menjadi daerah dengan hembusan angin terencang mencapai 23 km/jam, disusul Sukamara dan Sampit dengan kecepatan angin sekitar 16 km/jam.
Dari sisi kelembapan udara, Pulang Pisau dan Muara Teweh berada di tingkat paling pekat dengan angka maksimum mencapai 98 persen. Kondisi cuaca terik tanpa hujan ini makin mempertegas bahwa Kalteng telah memasuki masa kritis musim kemarau. BMKG memprakirakan puncak musim kemarau 2026 di sebagian besar wilayah Kalteng berlangsung sepanjang Agustus hingga September.
Seiring meningkatnya potensi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), BMKG memberikan peringatan tegas mengenai ancaman penurunan kualitas udara akibat paparan asap karhutla. "Masyarakat diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila kualitas udara memburuk, serta tetap mewaspadai kemudahan terjadinya kebakaran hutan dan lahan di sekitarnya," bunyi rilis imbauan BMKG.
Bagi warga yang terpaksa beraktivitas di luar rumah, BMKG menyarankan untuk tetap memantau pembaruan kualitas udara secara berkala dan selalu menggunakan masker guna mengantisipasi pekatnya paparan asap. (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co