PROKAL.co, BALIKPAPAN- Nama Naura Irawan atau yang akrab disapa Ola mulai mencuri perhatian di dunia hiburan. Gadis cilik asal Balikpapan ini berhasil menembus industri perfilman nasional dengan membintangi film layar lebar Tanah Dayak, sebuah karya horor yang mengangkat kearifan lokal Kalimantan.
Ola menjadi satu-satunya perwakilan dari Balikpapan dalam film tersebut. Meski masih duduk di bangku Sekolah Dasar di SD Patra Dharma 1 Balikpapan, bakatnya di dunia modeling dan akting sudah terlihat sejak usia dini. Kesempatan besar pun datang ketika ia dipercaya bergabung dalam produksi film yang menjalani proses syuting pada 10 April 2026 di Desa Kinipan, sebuah wilayah pedalaman yang dikenal dengan kekayaan budaya Dayaknya.
Dalam film ini, Ola memerankan karakter anak dari kepala suku Dayak, sebuah peran penting yang menuntut penghayatan kuat terhadap budaya lokal. Sosok ayah dalam cerita diperankan oleh Rizki, yang juga dikenal sebagai Bupati Lamandau. Kehadiran tokoh daerah dalam produksi ini menjadi bentuk dukungan terhadap pengembangan industri film berbasis budaya.
Film “Tanah Dayak” diproduksi oleh Borneo Pictures dan PH Trazz, serta disutradarai oleh Tarmizi Abka. Mengusung genre horor fiksi, film ini terinspirasi dari dinamika sejarah Kalimantan, termasuk bayangan konflik masa lalu seperti Tragedi Sampit, yang kemudian dikemas dengan nuansa budaya Dayak yang autentik.
Sebanyak 98 persen proses syuting dilakukan langsung di pedalaman, menghadirkan suasana alami yang memperkuat atmosfer cerita. Film ini juga melibatkan aktor-aktor baru berbakat, termasuk Jalu Adinagoro yang memerankan tokoh kepala suku Dayak.
Perjalanan menuju lokasi syuting bukanlah hal mudah. Tim produksi harus menempuh perjalanan darat hingga tiga hari untuk mencapai lokasi. Namun, tantangan tersebut justru menjadi pengalaman berharga bagi Ola dalam menapaki kariernya di dunia seni peran.
Dengan semangat dan dedikasi tinggi, Ola menjadi representasi generasi muda berbakat dari Balikpapan yang mampu bersaing di kancah nasional. Meski mendapat kesempatan besar, ia tetap menunjukkan sikap rendah hati.
“Aku masih banyak belajar. Senang bisa ikut syuting film ini, tapi aku ingin terus berkembang supaya lebih baik lagi,” ujarnya.
Ia juga mengaku bersyukur atas kesempatan yang diberikan. “Aku ingin melakukan yang terbaik dan membanggakan orang tua,” tambahnya.
Kehadiran Ola di film ini tidak hanya menjadi kebanggaan daerah, tetapi juga diharapkan mampu menginspirasi anak-anak Indonesia untuk berani bermimpi. Film “Tanah Dayak” sendiri diharapkan tidak sekadar menjadi tontonan, tetapi juga sarana memperkenalkan kekayaan budaya Kalimantan ke tingkat nasional.
Editor : Wawan