PROKAL.co, BALIKPAPAN — Upaya pengurangan sampah di Kota Balikpapan kini diperkuat dengan menyasar lingkungan pendidikan. Sekitar 600 sekolah tingkat SD hingga SMP/MTs didorong menjadi garda terdepan dalam pengelolaan sampah sejak dari sumbernya, melalui program edukasi yang digagas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Balikpapan.
Program ini menitikberatkan pada pembentukan kebiasaan memilah dan mengelola sampah di kalangan pelajar sejak usia dini. Pemerintah menilai, sekolah merupakan ruang strategis untuk menanamkan kesadaran lingkungan yang berkelanjutan.
Kepala DLH Balikpapan, Sudirman Djayaleksana, mengatakan bahwa perubahan perilaku masyarakat dapat dimulai dari lingkungan sekolah. Menurutnya, kebiasaan yang dibangun sejak dini akan membentuk karakter generasi yang lebih peduli terhadap lingkungan.
“Kalau di rumah dimulai dari keluarga, maka di sekolah dimulai dari lingkungan sekolah. Anak-anak ini yang nantinya akan membentuk kebiasaan,” ujarnya belum lama ini.
Melalui sosialisasi yang telah menjangkau ratusan sekolah, para siswa diperkenalkan pada konsep pengelolaan sampah yang benar, mulai dari pemilahan, pengurangan, hingga pemanfaatan kembali. Langkah ini dinilai penting, mengingat produksi sampah di Balikpapan saat ini mencapai sekitar 550 ton per hari.
DLH mencatat, tanpa intervensi dari sumber, beban tempat pembuangan akhir (TPA) akan terus meningkat. Namun demikian, berbagai upaya yang telah dijalankan mulai menunjukkan hasil positif. Sekitar 120 ton sampah per hari berhasil dikurangi melalui pengolahan di sejumlah fasilitas seperti TPST (Tempat Pengolahan Sampah Terpadu), ITF (Intermediate Treatment Facility), dan MRF (Material Recovery Facility), serta kontribusi aktif masyarakat, termasuk dari lingkungan sekolah.
Saat ini, volume sampah yang masuk ke TPA berada pada kisaran 380 hingga 400 ton per hari. Angka tersebut menunjukkan adanya tren penurunan yang cukup signifikan dibandingkan total produksi harian.
Sudirman berharap keterlibatan sekolah dapat menjadi katalis dalam mempercepat terbentuknya budaya sadar sampah di masyarakat. Ia optimistis, jika kebiasaan ini terus diperkuat, dampaknya akan meluas hingga ke lingkungan keluarga.
“Kalau anak-anak sudah terbiasa, ini akan berdampak besar ke depannya. Mereka bisa membawa kebiasaan baik ini ke rumah dan lingkungan,” katanya.
Dengan menjadikan sekolah sebagai pusat edukasi lingkungan, Pemerintah Kota Balikpapan optimistis pengurangan sampah dapat dilakukan secara bertahap, sistematis, dan berkelanjutan. (adv/kominfobpn)
Editor : Wawan