Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Penampakan Badak Terakhir di Hutan Mahakam Ulu, Usianya Lebih Muda dan akan Ikut Program Bayi Tabung

Muhamad Yamin • Senin, 15 Juni 2026 | 15:20 WIB
Pari, badak Kalimantan betina.
Pari, badak Kalimantan betina.
 
PROKAL.CO SAMARINDA - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur telah menggelar Rapat Koordinasi Penyelamatan Badak Pari Mahulu Tingkat Provinsi di Kota Balikpapan pada 8 Juni 2026 lalu. 
 
Rakor ini merupakan sebuah momentum sejarah sekaligus langkah darurat nasional demi menyelamatkan subspesies Badak Kalimantan (Dicerorhinus sumatrensis harrissoni) dari ancaman kepunahan total. 
 
Langkah taktis ini menjadi sangat krusial mengingat kondisi populasi badak di alam liar sudah berada di titik paling kritis.
 
Saat ini, hanya tersisa dua individu badak betina di Kalimantan, satu berada di Suaka Badak Kelian bernama Pahu dalam kondisi terpantau penuh. Sementara satu betina lagi bernama Pari Mahulu masih bertahan di alam bebas. 
 
Membiarkan Badak Pari Mahulu tetap terisolasi di alam liar tanpa pasangan membawa risiko yang sangat tinggi, sebab jika satwa ini mati tanpa terpantau, seluruh material biologisnya akan hancur dan spesies ini akan punah selamanya. 
 
Sehingga translokasi atau pemindahan Badak Pari Mahulu tidak hanya upaya menyelamatkan badak itu sendiri, namun juga menyelamatkan material bioligis terakhir dari Badak Kalimantan.
 
Tim ahli reproduksi badak Indonesia, drh Muhammad Agil, mengatakan translokasi dilakukan untuk mencegah hilangnya materi genetik terakhir spesies tersebut.
 
Ia menjelaskan kondisi tubuh Pari berdasarkan pemantauan visual dinilai cukup baik dan diperkirakan masih memiliki peluang reproduksi yang lebih besar dibandingkan badak betina lain bernama Pahu yang saat ini berada di Suaka Badak Kelian.
 
"Harapannya dia lebih muda dari Pahu sehingga punya potensi untuk berhasil dikoleksi sel telurnya dan kita bisa mengembangkan program bayi tabung dengan menggunakan sperma Badak Sumatera yang ada di Way Kambas," katanya.
 
Menurut Agil, keberadaan Pari di suaka akan membuka peluang pengambilan sampel biologis yang selama ini tidak mungkin dilakukan saat satwa tersebut hidup bebas di alam.
 
Sampel tersebut berupa jaringan kulit maupun mukosa atau lapisan lendir pada gusi yang dapat dikembangkan menjadi kultur sel untuk kepentingan teknologi reproduksi modern.
 
"Dari kulit dan mukosa gusi itu kita bisa mendapatkan materi fibroblast atau cell line. Dari situ kita bisa mengembangkan gamet atau sel sperma dan sel telur artifisial," jelasnya.
 
Tak hanya program bayi tabung, material biologis tersebut juga berpotensi digunakan dalam program kloning guna menghasilkan individu baru yang memiliki materi genetik identik dengan Pari.
 
"Kalau kita mendapatkan cell line dari Pari, maka kita punya kesempatan melakukan program kloning. Itu akan menjadi individu baru dengan genetik 100 persen sama dengan Pari," ujarnya.
 
Agil menegaskan risiko terbesar apabila Pari tetap dibiarkan hidup sendiri di alam adalah hilangnya seluruh materi biologis berharga ketika satwa tersebut mati tanpa terdeteksi.
 
Ia mencontohkan sejumlah kasus kematian badak di alam yang baru diketahui setelah tubuh satwa mengalami pembusukan sehingga jaringan hidupnya tidak lagi dapat dimanfaatkan untuk kepentingan konservasi.
 
"Jangan sampai kita hanya bisa memanfaatkan tulangnya untuk membangun kerangka Badak Kalimantan di museum, tapi sel hidupnya sudah tidak ada karena mati di alam," katanya.
 
Menurutnya, dalam hitungan jam setelah kematian, sel-sel hidup dan protein akan mengalami kerusakan sehingga peluang penyelamatan materi genetik hilang sepenuhnya.
 
Karena itu, pemindahan Pari ke Suaka Badak Kelian dinilai sebagai kesempatan terakhir untuk menyelamatkan spesies Badak Kalimantan dari kepunahan.
 
"Dengan berada di suaka, kapan saja kita bisa melakukan tindakan untuk memperbanyak material biologis yang nantinya dimanfaatkan melalui teknologi reproduksi berbantu. Harapannya dalam jangka panjang Badak Kalimantan bisa terselamatkan dari kepunahan," tuturnya. (*)
Editor : Indra Zakaria
#badak kalimantan