Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Tekan Kehilangan Hasil Panen, 156 Pekebun Sawit Paser Dibekali Teknik Panen dan Pascapanen

Wawan • Sabtu, 18 Juli 2026 | 16:30 WIB
Pelatihan tersebut merupakan bagian dari Program Pengembangan SDM Perkebunan (SDMP) 2026 yang digelar Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) Kementerian Pertanian.
Pelatihan tersebut merupakan bagian dari Program Pengembangan SDM Perkebunan (SDMP) 2026 yang digelar Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) Kementerian Pertanian.

 

PROKAL.co, PASER – Sebanyak 156 pekebun kelapa sawit asal Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, mendapat pelatihan teknik panen dan pascapanen untuk menekan kehilangan hasil atau losses yang berpotensi mengurangi pendapatan petani.

Pelatihan tersebut merupakan bagian dari Program Pengembangan SDM Perkebunan (SDMP) 2026 yang digelar Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) Kementerian Pertanian.

Kegiatan berlangsung selama lima hari, 17-21 Juli 2026, di Balikpapan. Para peserta mendapat pembekalan mengenai teknik panen yang tepat, penanganan tandan buah segar (TBS), hingga tata cara pascapanen yang dapat menjaga kualitas buah sebelum diolah di pabrik kelapa sawit.

Wakil Direktur AKPY, Dr. Idum Satia Santi, mengatakan kehilangan hasil di tingkat kebun masih menjadi persoalan yang dapat ditekan melalui penerapan teknik panen dan pascapanen yang benar.

Menurut dia, potensi kerugian dapat muncul dari berbagai tahapan, mulai dari kesalahan menentukan tingkat kematangan buah, cara memotong tandan, brondolan yang tidak dikutip hingga keterlambatan pengiriman TBS ke pabrik.

"Panen tepat waktu, pemanenan harus sesuai standar, pengumpulan brondolan yang baik, termasuk pengiriman TBS yang cepat ke pabrik, akan sangat menentukan mutu buah, rendemen minyak, dan pada akhirnya meningkatkan pendapatan petani," ujarnya, Jumat (17/7/2026).

Idum menegaskan, peningkatan produksi tidak selalu berbanding lurus dengan peningkatan pendapatan jika kehilangan hasil masih tinggi. Buah yang dipanen terlalu muda atau terlalu matang, maupun TBS yang terlalu lama menunggu sebelum diangkut, dapat mengalami penurunan kualitas dan berdampak terhadap rendemen minyak.

Karena itu, menurutnya, setiap tahapan dalam proses panen harus dilakukan secara tepat untuk menjaga kualitas TBS sekaligus mengurangi losses yang terjadi di lapangan.

Penerapan teknik panen yang baik juga tidak dapat dipisahkan dari praktik budidaya yang benar atau Good Agricultural Practices (GAP). Kondisi tanaman yang terawat akan memudahkan kegiatan panen sekaligus membantu menjaga kualitas buah.

"Tentu saja untuk panen dan pascapanen itu tidak akan lepas dari pengetahuan mengenai teknik budidaya yang baik dan praktik budidaya yang benar," katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Paser, Djoko Bawono, mengatakan peningkatan kapasitas pekebun menjadi salah satu upaya penting untuk memperbaiki kualitas hasil panen sekaligus mengurangi kerugian di tingkat kebun.

Ia meminta para pemateri menyampaikan materi dengan bahasa yang mudah dipahami sehingga pengetahuan yang diperoleh peserta dapat langsung diterapkan dalam aktivitas perkebunan sehari-hari.

"Saya mohon kepada para narasumber dari AKPY agar dalam menyampaikan materi menggunakan bahasa yang sederhana. Kalau bahasa akademis mungkin mudah dipahami mahasiswa, tetapi bagi petani yang penting materinya mudah dicerna dan bisa langsung dipraktikkan," ujarnya.

Djoko berharap pelatihan tersebut memberikan dampak nyata terhadap kualitas TBS yang dihasilkan pekebun Paser. Dengan menekan kehilangan hasil, pekebun dinilai memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan rendemen minyak yang optimal dan nilai jual yang lebih baik.

Ia menyebut Kabupaten Paser menjadi daerah dengan jumlah peserta Program SDMP terbanyak di Kalimantan Timur pada 2026. Dari berbagai program pelatihan, tercatat 556 pekebun Paser mengikuti peningkatan kapasitas yang mencakup materi panen dan pascapanen, teknik budidaya, hingga penguatan kompetensi lainnya.

"Target kami sebenarnya mencapai seribu peserta. Namun dengan alokasi yang ada, sebanyak 556 peserta sudah menjadi capaian yang sangat baik. Kami berharap pada tahun berikutnya jumlah peserta bisa terus bertambah sehingga semakin banyak petani yang memperoleh peningkatan kompetensi," katanya.

Selain meningkatkan keterampilan teknis, Pemerintah Kabupaten Paser juga mendorong penguatan daya saing perkebunan sawit rakyat melalui sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).

Saat ini, sebanyak 13 kelembagaan pekebun di Kabupaten Paser telah mengantongi sertifikasi ISPO. Sebagian pekebun yang tergabung dalam kelembagaan tersebut juga mengikuti pelatihan panen dan pascapanen.

Melalui pelatihan ini, pekebun diharapkan mampu menerapkan standar panen dan pascapanen secara konsisten, mulai dari kebun hingga pengiriman TBS ke pabrik. Langkah tersebut diharapkan dapat menekan losses, menjaga mutu buah, meningkatkan rendemen minyak, sekaligus mendorong produktivitas dan pendapatan pekebun sawit rakyat.

Upaya tersebut menjadi bagian dari penguatan perkebunan sawit rakyat agar semakin efisien, berdaya saing, dan berkelanjutan.

Editor : Wawan
sawit paser