Menatap Layar, Mengabaikan Sesama: Saatnya Intelektual Muda Menyembuhkan Phubbing dengan Mindfulness

Wawan • Dipublikasikan Jumat, 14 Agustus 2026 | 12:33 WIB

 

Fortina Maulida, Mahasiswi Manajemen Universitas Siber Asia
Fortina Maulida, Mahasiswi Manajemen Universitas Siber Asia

 

PROKAL.co, PALANGKARAYA - Berapa kali dalam sehari Anda merasa sedang "berbicara dengan tembok" karena lawan bicara Anda justru asyik menggulir (scrolling) layar smartphone? Atau, secara tidak sadar, justru kita sendiri yang sering melakukan hal itu?

Fenomena ini dikenal sebagai phubbing—singkatan dari phone snubbing—sebuah perilaku mengabaikan orang di sekitar demi menatap layar gawai. Di kafe, kampus, ruang tamu, hingga meja makan, phubbing telah berubah dari kebiasaan buruk biasa menjadi "wabah" sosial yang mengikis kualitas hubungan interpersonal kita secara perlahan.

Sebagai generasi muda yang tumbuh di tengah pesatnya arus digitalisasi, kita sering merasa perlu terhubung setiap detik. Namun, ironinya, semakin kita terhubung secara maya, semakin kita terasing secara nyata.

Phubbing bukan sekadar masalah pelanggaran etika ringan. Dalam kacamata sains komunikasi, perilaku ini dampaknya sangat fatal. Teori Pelanggaran Harapan dari Judee Burgoon (1978) menjelaskan bahwa manusia memiliki harapan intuitif terhadap kontak mata dan kehadiran penuh saat berinteraksi. Ketika seseorang melakukan phubbing, ia melanggar harapan tersebut secara sepihak dan memicu reaksi emosional negatif pada lawan bicara.

Studi oleh Roberts dan David (2016) dalam jurnal Computers in Human Behavior menegaskan hal serupa: phubbing menurunkan kepuasan hubungan sosial secara drastis. Saat perhatian visual terpecah, otak kita gagal membaca isyarat bahasa tubuh, ekspresi wajah, dan nada suara. Akibatnya, empati mati rasa.

Bagi si "korban", diabaikan demi layar gawai rasanya setara dengan penolakan sosial. Teori Kebutuhan Dasar Manusia dari Kipling Williams (2009) mengungkap fakta mengejutkan: pengabaian semacam ini mengaktifkan area otak yang sama dengan area pemroses rasa sakit fisik. Otak meresponsnya sebagai ancaman terhadap rasa memiliki (sense of belonging), memicu lonjakan hormon stres kortisol yang jika terjadi berulang kali bisa berujung pada kecemasan hingga depresi.

Bahkan pelaku phubbing sendiri tidak lepas dari dampak buruk. Upaya konstan membagi perhatian antara layar dan dunia nyata (multitasking) menciptakan kelelahan mental akut (brain fog).

Apa solusi untuk memulihkan fokus saat berkomunikasi dan menghindari phubbing? Jawabannya bukan dengan membuang smartphone, melainkan dengan melatih mindfulness (kesadaran penuh).

Pakar medis Jon Kabat-Zinn (2003) mendefinisikan mindfulness sebagai kondisi kesadaran penuh pada momen saat ini, secara sengaja dan tanpa sikap menghakimi. Dalam konteks komunikasi, mindfulness mengajak kita untuk kembali "hadir utuh" (be present) di depan lawan bicara.


Praktik ini bertumpu pada kesabaran dan kemauan melepaskan dorongan kepuasan instan (dopamine hit) yang ditawarkan notifikasi gawai. Ini bukan soal bersikap kaku, melainkan tentang secara sadar memilih orang di depan kita daripada algoritma di genggaman.

Sebagai mahasiswa dan agen perubahan sosial, kita bisa memulai tradisi baru melalui beberapa langkah konkret:

1. Jauhkan Gawai secara Fisik: Saat mulai berdiskusi atau makan bersama, letakkan ponsel di dalam tas atau balik layarnya ke bawah. Menghilangkan pemicu visual adalah langkah pertama menghentikan distraksi.

2. Praktikkan Active Listening: Arahkan panca indera sepenuhnya kepada lawan bicara. Dengarkan bukan sekadar untuk membalas ucapan, tetapi untuk memahami perasaan dan pesan mereka.

3. Pahami Batas Multitasking: Otak manusia tidak dirancang untuk benar-benar melakukan multitasking. Kembalikan fokus pikiran pada kesadaran awal secara aktif. Menghargai satu interaksi dalam satu waktu adalah kunci komunikasi berkualitas.

Phubbing adalah tanda bahwa kita sedang dijajah oleh alat yang kita buat sendiri. Namun, kita selalu punya pilihan. Kualitas hubungan, kedalaman empati, dan kesehatan mental kita terlalu berharga untuk ditukar dengan beberapa guliran linimasa tanpa arah.

Sebagai generasi terpelajar, mari kita pelopori budaya komunikasi yang lebih manusiawi. Matikan layar sejenak, fokus tatap mata orang di depan Anda, dan hadirlah sepenuhnya. Karena pada akhirnya, koneksi paling berharga tidak pernah membutuhkan sinyal internet.

Editor : Wawan
paser