Kaltim Darurat Kekeringan dan Karhutla, PW Muhammadiyah Kaltim Serukan Aksi hingga Salat Istisqa

Redaksi Prokal • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 09:38 WIB
Muhammadiyah.
Muhammadiyah.

 

SAMARINDA- Musim kemarau panjang yang melanda wilayah Kalimantan Timur (Kaltim) dalam beberapa bulan terakhir memicu situasi kritis. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), curah hujan di sebagian besar wilayah Kaltim berada jauh di bawah normal. Kondisi ekstrem ini memicu maraknya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta krisis air bersih yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat.

Menanggapi krisis lingkungan dan kemanusiaan tersebut, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Kalimantan Timur menerbitkan seruan resmi yang mengajak seluruh elemen masyarakat dan pemerintah untuk mengambil langkah nyata, baik secara fisik, spiritual, maupun sosial.

1. Tanggap Darurat dan Aksi Kemanusiaan Berbasis Fikih Kebencanaan

Ketua PWM Kaltim, KH. Muhammad Jafron, menegaskan bahwa penanganan krisis ini merupakan kewajiban bersama. "Muhammadiyah memandang bencana kekeringan dan karhutla ini sebagai musibah yang memerlukan respons cepat, terpadu, dan berkelanjutan. Berdasarkan Fikih Kebencanaan, pemberian pertolongan kepada korban bencana adalah kewajiban kelompok masyarakat yang berkelebihan sumber daya, bukan sekadar rasa kasihan," ujar KH. Muhammad Jafron.

Seluruh elemen Muhammadiyah di Kaltim — mulai dari Lazismu, Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), Aisyiyah, hingga tingkatan cabang dan ranting — diminta untuk segera bergerak aktif di lapangan dengan mendistribusikan air bersih ke wilayah-wilayah terdampak kekeringan. Kemudian  bersama masyarakat dan pihak terkait melakukan upaya pemadaman dan pencegahan karhutla. Lalu mendirikan posko-posko kesehatan dan logistik bagi warga yang terdampak asap dan kekurangan pangan.

2. Peluncuran Gerakan Shodaqoh Air

Selain aksi darurat, Muhammadiyah Kaltim juga meluncurkan Gerakan Shodaqoh Air untuk membantu warga yang kesulitan mendapatkan air bersih.

"Dalam kerangka Fikih Air, air merupakan kebutuhan pokok (basic need) dan hak asasi manusia yang wajib dipenuhi. Gerakan Shodaqoh Air ini sejalan dengan nilai al-Mā’ūn yang menjadi ruh amal usaha Muhammadiyah," jelas Sekretaris PWM Kaltim, H. Amir Hady.

Ia juga menambahkan imbauan bagi masyarakat yang memiliki kemampuan lebih. "Masyarakat yang memiliki kelebihan sumber daya — baik air, sumur bor, tangki air, maupun dana — kami minta untuk berkontribusi. Semua bantuan agar dikoordinasikan melalui MDMC atau Lazismu PWM Kaltim agar tepat sasaran," tambahnya.

3. Seruan Shalat Istisqa’ dan Perbanyak Istigfar

Sebagai ikhtiar spiritual, PWM Kaltim mengajak umat Islam di Kalimantan Timur untuk menyelenggarakan Shalat Istisqa’ (shalat memohon hujan) berjamaah, sesuai dengan Fatwa Tarjih No. 9 Tahun 1999.

"Dalam kondisi kemarau panjang dan musim kering, umat Islam disunnahkan untuk memohon kepada Allah agar diturunkan hujan. Kami mengimbau warga Muhammadiyah dan masyarakat muslim pada umumnya untuk memperbanyak istigfar, melakukan tobat, dan melaksanakan shalat istisqa’ berjamaah di masjid atau lapangan terbuka," tutur KH. Muhammad Jafron.

4. Refleksi Kebencanaan dan Mitigasi Lingkungan

PWM Kaltim mengingatkan bahwa bencana ini juga harus menjadi bahan introspeksi bersama atas perlakuan manusia terhadap alam.

"Bencana bukan semata-mata hukuman atau murka Allah, melainkan ujian (balā’) untuk mengukur kualitas keimanan sekaligus media introspeksi atas kerusakan lingkungan akibat perilaku eksploitatif. Oleh karena itu, di samping ikhtiar spiritual, kita wajib melakukan ikhtiar nyata: mitigasi bencana berbasis ilmu pengetahuan, menjaga kelestarian lingkungan, dan menahan diri dari perbuatan yang merusak alam," tegas H. Amir Hady.

5. Sinergi Lintas Sektor

Mengakhiri seruannya, PWM Kaltim mengajak seluruh pihak untuk memperkuat kolaborasi dalam menghadapi krisis iklim ini.

"PWM Kaltim mengajak seluruh elemen masyarakat, MDMC, Lazismu, pemerintah daerah, TNI/Polri, perusahaan, dan ormas lainnya untuk bersinergi dalam penanganan darurat ini. Semoga Allah SWT segera menurunkan rahmat-Nya berupa hujan yang membawa berkah, mengakhiri kekeringan, dan memulihkan bumi Kalimantan Timur," tutup KH. Muhammad Jafron. (*)

 

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
muhammadiyah