Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Siklus Berbahaya Melarikan Diri dari Trauma: Mengapa Menolak Rasa Sakit Justru Membawa Penderitaan Baru?

Indra Zakaria • Minggu, 21 Juni 2026 | 09:30 WIB
ilustrasi wanita sedih.
ilustrasi wanita sedih.

PROKAL.CO- Dalam dinamika kesehatan mental modern, manusia sering kali secara alami mencari jalan pintas untuk menghindari perasaan tidak nyaman, seperti kesedihan, kegagalan, maupun patah hati. Namun, sebuah paradoks psikologis yang mendalam mengingatkan kita bahwa upaya keras untuk lari dari rasa sakit justru menjadi pemicu utama lahirnya penderitaan yang jauh lebih besar di masa depan. Fenomena yang dikenal sebagai hukum ironi emosional ini menjelaskan bahwa menolak atau menekan emosi negatif tidak akan pernah melenyapkan masalah asli, melainkan hanya menumpuk bom waktu yang siap meledak kapan saja.

Ketika seseorang menolak untuk menghadapi rasa sakit primernya, mereka cenderung mengadopsi mekanisme pertahanan diri yang keliru, yang pada akhirnya melahirkan rasa sakit sekunder. Salah satu bentuk pelarian yang paling umum adalah mencari mati rasa lewat adiksi, seperti pelarian ke alkohol, obat-obatan, hingga kebiasaan belanja impulsif dan ketergantungan pada media sosial. Meski cara-cara ini mampu memberikan efek mati rasa sesaat, dampak jangka panjang yang ditimbulkannya justru jauh lebih merusak, mulai dari hancurnya kesehatan fisik, keterpurukan finansial, hingga gangguan kecemasan yang mendalam.

Selain pelarian fisik, tindakan menekan emosi atau represi juga menjadi bumerang yang berbahaya bagi kesehatan mental. Berpura-pura selalu bahagia dan mengubur trauma dalam-dalam tidak akan membuat luka tersebut sembuh dengan sendirinya, melainkan memanifestasikannya menjadi gangguan mental yang lebih berat seperti depresi kronis, atau bahkan muncul dalam bentuk penyakit fisik yang dikenal sebagai gejala psikosomatik. Di sisi lain, sikap menghindar dari komitmen atau hubungan baru karena takut terluka kembali juga menjadi jebakan emosional, sebab rasa sakit akibat penolakan memang berhasil dihindari, namun digantikan oleh penderitaan baru berupa kesepian yang menyiksa.

Para ahli menekankan bahwa satu-satunya jalan keluar untuk menyembuhkan luka batin adalah dengan bersiap melewatinya, bukan memutari atau melompatinya. Proses penyembuhan sejati dimulai ketika seseorang mampu mengakui keberadaan rasa sakit tersebut secara jujur sebagai bagian dari pengalaman manusiawi, lalu mengizinkan diri mereka untuk memproses seluruh emosi negatif tersebut secara alami tanpa terburu-buru mencari pengalihan. Rasa sakit pada dasarnya layaknya ombak yang akan pasang, mencapai puncaknya, dan perlahan surut dengan sendirinya jika tidak ditahan, sehingga menerima kehadirannya justru akan mereduksi kekuatan rasa sakit itu untuk terus menyakiti kita. (*)

Editor : Indra Zakaria
#trauma #kesehatan mental #psikologi #trauma healing