Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Polisi Tunggu Hasil Autopsi

Wawan-Wawan Lastiawan • 2023-05-17 10:43:26
Kusrin Wandoyo, ayah mendiang DV (19), ditemui media ini di rumahnya, Senin (15/5) kemarin. Keluarga meyakini DV meninggal karena dibunuh, bukan karena gantung diri.
Kusrin Wandoyo, ayah mendiang DV (19), ditemui media ini di rumahnya, Senin (15/5) kemarin. Keluarga meyakini DV meninggal karena dibunuh, bukan karena gantung diri.

BALIKPAPAN-Kasus temuan perempuan yang diduga mengakhiri hidup dengan gantung diri di sebuah ruko di kawasan Jalan Jenderal Sudirman pada Jum’at (5/5) lalu masih terus berproses di kepolisian.

Kapolresta Balikpapan AKBP Anton Firmanto mengatakan, kasus tewasnya perempuan berinisial DV (19) tersebut masih dalam proses penyelidikan melalui pemeriksaan saksi. "Pastinya (kepada) saksi-saksi kami lakukan pemeriksaan," ujar Anton.

Disinggung soal hasil autopsi terhadap jenazah DV, Anton menyebut kepolisian juga masih menunggu hasilnya.  "Kita tunggu saja lah. Kalau sekarang belum keluar (hasil autpsi). Nanti kami sampaikan kalau sudah keluar," singkat Anton. 

Diberitakan sebelumnya, sesosok mayat perempuan berusia 19 tahun ditemukan tewas dalam posisi tergantung di sebuah ruko tiga lantai di kawasan Balikpapan Permai, Kelurahan Damai, Balikpapan Selatan, 5 Mei 2023 kemarin.

Perempuan yang tak mengantongi identitas tersebut kemudian teridentivikasi sebagai DV, dara 19 tahun yang beralamat di Kelurahan Margo Mulyo, Kecamatan Balikpapan Barat.

Ayah mendiang DV, Kusrin Wandoyo mengaku curiga anak bungsunya tidak meninggal karena bunuh diri. Kecurigaan Kusrin berdasarkan kejanggalan yang dia temukan pada tubuh mendiang anaknya. Misalnya, pada jenazah DV,  ada lebam di bagian pipi kiri, di telapak tangan dan di perut. Tak hanya itu, pada bagian organ intim korban juga mengalami pendarahan.

“Darahnya sudah mengering. Ada yang menduga darah menstruasi, tapi tidak ditemukan pembalut di ruko tempat dia bekerja,” kata pria 49 tahun ini kepada wartawan, Selasa (15/5).

Kejanggalan tersebut, ditemui Kusrin saat melihat jenazah DV di RS Bhayangkara, tak lama setelah ditemukan meninggal gantung diri.

Selain kejanggalan pada tubuh korban, posisi DV saat ditemukan juga dinilai tak lazim bagi korban gantung diri. Kusrin menyebut, biasanya korban gantung diri memiliki ciri-ciri seperti lidah menjulur, mata melotot, keluar feses. Pada jenazah DV, ciri-ciri korban gantung diri tak nampak. Pada organ intim korban juga ditemukan darah yang sudah mengering.

“Malah seperti orang tidur. Posisi gantungnya juga tidak meyakinkan sebagai korban gantung diri. Ada juga darah yang sudah mengering di mulut DV,” kata dia, Senin (15/5). 

Keluarga DV beberapa kali sudah meminta informasi hasil autopsi kepada pihak berwajib. Namun hingga detik ini, hasil autopsi belum juga tuntas. “Katanya nunggu hasilnya dari Surabaya,” ujar Kusrin.

Dirinya meminta agar kepolisian terbuka dalam pengungkapan kasus ini. Keluarga, sebut Kusrin hanya meminta keadilan. “Saya hanya minta keadilan. Kasus ini dibuka seterang-terangnya, jika memang ada pihak yang bertanggung jawab harus dihukum setimpal,” pinta Kusrin.

Selain harus kehilangan putri bungsunya, Kusrin juga dibuat kecewa dengan sikap RC, pria yang mempekerjakan DV yang juga pemilik ruko tempat DV ditemukan tewas. Sejak awal, RC tak menunjukkan itikad baik untuk memberikan bantuan kepada keluarga almarhum DV.

“Dia datang ke kami saja tidak pernah. Seluruh biaya untuk mengurusi jenazah juga kami tanggung sendiri,” kata Kusrin.

Kuasa hukum keluarga korban, Hendrik Kalalembang mendesak kepolisian untuk membuka tabir di balik kematian DV. Sebab, ada beberapa kejanggalan yang jadi pertanyaan keluarga korban.

“Kami akan bersurat ke Kapolresta Balikpapan, Kapolda Kaltim, Kapolri dan Komnas HAM. Kami mendesak agar kasus ini bisa dibuka seterang-terangnya,” kata Hendrik.

Hendrik, meneruskan, berdasarkan temuan, dia menduga DV meninggal setelah dianiaya lalu digantung untuk mengaburkan fakta. “Kalau dari kebiasaan kan korban gantung diri ada ciri-cirinya. Ini korban sama sekali tidak punya ciri-ciri gantung diri. Makanya kami menduga ini merupakan pembunuhan,” tegas Hendrik.

Di sisi lain, Hendrik juga kecewa dengan langkah kepolisian membuka garis polisi di tempat kejadian perkara  (TKP).  “Jadinya kan seolah-olah sudah ada kesimpulan. Padahal keluarga belum menerima kejelasan apapun dari kepolisian,” kata dia. (hul)

Editor : Wawan-Wawan Lastiawan
#balikpapan