Wajah Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Mataram perlahan berubah. Perubahan terlihat pada sisi pembinaan terhadap warga binaan
pemasyarakatan (WBP). Salah satunya dengan membuka kunjungan di hari libur yang dikhususkan untuk anak, lansia, serta difabel.
Minggu ketiga Januari, sekitar pukul 09.00 Wita loket kunjungan di Lapas Mataram mengantre sejumlah keluarga WBP. Mereka didominasi perempuan dan anak. Kedatangan mereka khusus untuk mengunjungi teman, ayah dan suami yang tengah menjalani hukuman.
Setiap tiga pekan sekali, di hari Minggu, Lapas Mataram membuka keran kunjungan untuk keluarga WBP. Tetapi, kunjungan ini dikhususkan untuk anak-anak, lansia, serta difabel.
Hari kunjungan tersebut begitu dinanti Iwan (bukan nama sebenarnya). Ketika namanya dipanggil tahanan pendamping (tamping), bahwa ada keluarganya yang datang, Iwan bergegas menuju aula Lapas Mataram.
Dengan bergegas Iwan melewati lorong di samping aula. Wajahnya semringah ketika melihat anak dan istrinya telah duduk menunggu. Bibir Iwan mengembang. Memberikan senyum terbaik untuk anaknya yang masih berusia sekitar lima tahun.
Iwan dan puluhan WBP lainnya menunjukkan rona yang sama pada hari itu. Kebahagiaan. Tak ada lagi sekat yang menghalangi rindu mereka bertemu dengan anak. Meski hanya dilakukan tiga minggu sekali, Iwan bersyukur Lapas Mataram mau memberikan kebijakan terkait kunjungan tersebut.
”Alhamdulillah karena Lapas mau mengkhususkan hari untuk kunjungan anak,” kata Iwan.
Lapas Mataram tidak sekadar memberi kebijakan hari kunjungan saja. Karena yang datang merupakan anak-anak, Lapas menambahkan sejumlah wahana permainan. Misalnya, jungkat-jungkit, perosotan, ayunan, hingga permainan memancing ikan.
Iwan menyebut, permainan yang disediakan lapas mampu menutup kesan penjara yang kaku dan seram. ”Dengan seperti ini akhirnya anak, terutama yang kecil, berpikir kalau ini tempat bermain, bukan penjara,” sebut pria yang tersangkut kasus pencurian tersebut.
Budi, WBP lainnya mengutarakan hal serupa. Kata dia, jika kunjungan di hari biasa, antara Senin hingga Sabtu, anaknya tak mungkin ikut berkunjung. ”Kalau pas itu kan ramai sekali. Kasian kalau anak dibawa pas hari kunjungan biasa,” ujar dia.
Kalapas Mataram Tri Saptono Sambudji mengatakan, kunjungan anak merupakan bagian dari pembinaan yang dilakukan Lapas Mataram. ”Selain anak, kunjungannya digabung dengan lansia dan difabel,” kata Tri.
Ketika kunjungan di hari kerja, kondisi aula Lapas Mataram sangat padat. Kecenderungan untuk ketidaknyamanan tentu dirasakan lansia dan difabel. Begitu juga anak-anak.
Karena itu, Lapas Mataram menelurkan kebijakan untuk kunjungan di hari libur. Tujuannya, memberi kesempatan kepada anak, lansia, dan difabel untuk mengunjungi keluarga mereka di dalam lapas.
”Kenapa kami buka hari Minggu? Agar anak-anak yang sekolah atau kuliah tidak mengorbankan kegiatan belajar mereka di sekolah maupun kampusnya,” terang dia.
Selain menyiapkan wahana permainan, Lapas Mataram juga memberikan balon kepada anak yang datang berkunjung. Tri menyebut, cara-cara seperti itu untuk menghilangkan kesan bahwa mereka berada di dalam lapas.
Tidak saja mengenai wahana permainan. Di kunjungan anak, Tri melarang WBP untuk merokok. Aula diubah menjadi ruangan tanpa asap rokok. ”Kita beri pengertian kepada WBP untuk tidak merokok. Kasian dong anak kalau ada yang merokok,” ujarnya.
Ada tujuan lebih penting mengenai kunjungan anak, selain untuk mempererat silaturahmi keluarga dan petugas. Yakni, faktor keamanan.
Tri mengatakan, kondisi Lapas Mataram sudah sangat padat. Kapasitasnya melebihi dari isi standar setiap blok di Lapas Mataram. Dengan kondisi seperti itu, potensi kerawanan rentan terjadi. Sedikit provokasi bisa membuat ratusan WBP berulah dan membuat repot petugas.
”Karena itu kita redam dengan kegiatan seperti ini. Memberi kesempatan kepada WBP yang mempunyai anak untuk bertemu,” sebut Tri.
Meski kunjungan dikhususkan untuk anak, difabel, dan lansia, bukan berarti pengamanan menjadi kendor. Pihak lapas tetap melakukan pemeriksaan dengan ketat bagi setiap pengunjung yang melalui pintu masuk.
Lapas tak ingin ada barang ilegal, seperti narkoba dan handphone yang masuk ke dalam. ”Ketat tapi humanis. Pemeriksaan kita lakukan juga. Namanya orang berniat jahat, bisa saja melakukan segala cara,” ujar dia.
Lebih lanjut, pada tahun ini Lapas Mataram berencana untuk pindah ke Kuripan, Lombok Barat (Lobar). Lapas Mataram yang baru akan menempati lahan seluas sekitar 3,7 hektare. Dengan luasan tersebut, kapasitasnya tentu bertambah. Setiap fasilitas di lapas juga akan semakin luas.
Blok warga binaan pemasyarakatan (WBP) dibuat untuk bisa menampung 1000 orang. Jauh lebih banyak, sekitar empat kali lipat dibandingkan dengan kapasitas di Lapas Mataram saat ini. Penambahan juga akan dilakukan untuk fasilitas kesehatan dan sarana olahraga.
Bukan itu saja, yang paling penting adalah keberadaan ruang pembinaan. Di lapas baru, ruang pembinaan berupa bengkel kerja, diperkirakan bisa menampung hingga 200 warga binaan.
Di tempat baru nanti, Tri memastikan kunjungan anak akan tetap diberlakukan. WBP masih bisa menemui anak mereka di setiap tiga pekan sekali. ”Tetap ada. Kegiatan ini berkelanjutan, termasuk di lapas baru nanti,” pungkas dia. (was/r2/jpnn)
Editor : amir-Amir KP