Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Jejak Gurita Fredy Pratama: Berawal dari Banjarmasin, Kini Jadi Kartel Misterius di Segitiga Emas Asia

Redaksi Prokal • Senin, 29 Juni 2026 | 08:57 WIB
Gembong narkoba Fredy Pratama yang jadi buron Interpol.
Gembong narkoba Fredy Pratama yang jadi buron Interpol.

PROKAL.CO – Sebelum namanya mencuat sebagai salah satu buron kakap yang paling dicari oleh kepolisian lintas negara, Fredy Pratama mengawali imperium bisnis haramnya dari tanah kelahiran. Pria kelahiran 25 Juni 1985 tersebut perlahan membangun jejaring gelapnya dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Bersama orang-orang terdekatnya, gembong narkoba ini mengendalikan operasi peredaran barang haram tersebut di seluruh penjuru Pulau Borneo.

Berdasarkan informasi yang dihimpun oleh pihak kepolisian, sepak terjang Fredy di Kalimantan Selatan sudah terdeteksi sejak tahun 2009. Ia memulai bisnisnya dengan mengedarkan sabu dan ekstasi. Seiring berjalannya waktu, aktivitas pria yang juga dikenal dengan nama alias Miming dan Mojopahit ini kian meluas. Tidak lagi terbatas di Kalimantan Selatan, ia mulai mendistribusikan narkotika yang dipasok dari kawasan segitiga emas atau Golden Triangle menuju sejumlah kota besar di Pulau Jawa.

Aktivitas ilegal yang kian masif tersebut akhirnya tercium oleh aparat kepolisian, yang langsung bergerak memburu Fredy dan jaringannya. Untuk menghindari penangkapan, Fredy memutuskan melarikan diri ke luar negeri sejak tahun 2014. Kabar yang beredar menyebutkan bahwa putra dari Lian Silas ini bersembunyi di salah satu kawasan hutan di Thailand, negara asal istrinya, meskipun hingga kini belum ada konfirmasi resmi mengenai keberadaan pastinya.

Pelarian tersebut nyatanya tidak menghentikan roda bisnis gelapnya. Dari luar negeri, pergerakan jaringan Fredy justru semakin agresif dan bertransformasi dari pemain lokal menjadi kartel internasional. Fredy mengendalikan pasokan narkoba berskala besar dari luar negeri untuk didistribusikan kepada para bandar dan pengedar di Indonesia. Gurita jaringannya tidak hanya melibatkan orang-orang dekat, tetapi juga menyeret oknum aparat yang kini telah diadili akibat terlibat dalam sindikat tersebut.

Ketangguhan sindikat ini sempat diakui oleh Komjen Wahyu Widada saat menjabat sebagai Kepala Bareskrim Polri pada tahun 2023. Ia menyatakan bahwa jaringan yang dikendalikan Fredy dari luar negeri beroperasi dengan sangat rapi dan memanfaatkan alat serta pola komunikasi khusus yang kerap mengecoh petugas saat penyelundupan dilakukan ke Indonesia. Kendati demikian, polisi tidak tinggal diam dan langsung meluncurkan operasi khusus dengan sandi Operasi Escobar demi memberangus seluruh jaringan ini hingga ke akarnya.

Dalam perkembangannya, Polri juga menggandeng Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan atau PPATK untuk menjerat jaringan ini dengan pasal Tindak Pidana Pencucian Uang. Langkah joint operation ini membuahkan hasil yang mencengangkan, di mana catatan transaksi keuangan dari jaringan Fredy diketahui bernilai sangat fantastis. Sepanjang periode 2012 hingga 2023, sebanyak 606 rekening yang terkoneksi dengan sindikat ini telah diblokir, dengan total perputaran uang mencapai Rp 51 triliun atau berkisar Rp 5 triliun setiap tahunnya.

Selain pemblokiran rekening, dalam rentang waktu tahun 2020 hingga 2023, Polri sukses menyita aset senilai Rp 10,5 triliun yang terdiri dari aset langsung peredaran narkoba, 10,2 ton sabu, jutaan butir ekstasi, serta ratusan miliar rupiah hasil pencucian uang. Upaya mempersempit ruang gerak Fredy kembali membuahkan hasil signifikan setelah salah satu orang kepercayaan sekaligus pengatur keuangannya, Frans Antoni, berhasil diringkus oleh Bareskrim Polri.

Hingga saat ini, pihak kepolisian melalui Kasubdit III Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, Kombes Zulkarnain Harahap, menyatakan bahwa pemeriksaan intensif terhadap Frans Antoni masih terus berjalan. Meski belum bisa membeberkan informasi lebih dalam, jejak perlindungan Fredy terhadap kaki tangannya tersebut sudah mulai terkuak. Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, Brigjen Pol Eko Hadi Santoso, mengungkapkan bahwa selama dua tahun pelariannya di Thailand, Frans Antoni berpindah-pindah tempat dengan bantuan langsung dari orang suruhan Fredy yang merupakan warga negara Thailand.

Penangkapan Frans Antoni ini menjadi angin segar sekaligus langkah krusial bagi kepolisian untuk semakin dekat dalam menangkap Fredy Pratama. Sosok di balik penyelundupan besar yang mampu memasok hingga ratusan kilogram narkoba per bulan ke Indonesia ini terus diburu. Pihak kepolisian menegaskan bahwa fokus penyidikan saat ini akan diarahkan pada pembongkaran seluruh aliran dana serta pengejaran intensif terhadap Fredy Pratama dan anggota jaringan lain yang masih masuk dalam daftar pencarian orang. (*)

Editor : Indra Zakaria
#fredy pratama