Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Berabad-abad Menggema; Menjaga Warisan Adat Lawas Kutai dengan Nutuk Beham

Elmo Satria Nugraha • Kamis, 23 April 2026 | 22:26 WIB
Prosesi nutuk beham di Desa Kedang Ipil (Elmo/Prokal.co)
Prosesi nutuk beham di Desa Kedang Ipil (Elmo/Prokal.co)
 
 
PROKAL.CO, TENGGARONG – “Duk… duk… dung… dung…”. Denting alu yang bertemu lesung itu bukan sekadar bunyi. Ia adalah denyut warisan ratusan tahun masyarakat adat Kutai yang masih hidup hingga hari ini. Di Balai Adat Desa Kedang Ipil, Kecamatan Kota Bangun Darat, suara itu menggema, menyatukan generasi demi generasi dalam satu ritus yang tak lekang oleh waktu: Nutuk Beham.
Prosesi nutuk beham di Desa Kedang Ipil (Elmo/Prokal.co)
Prosesi nutuk beham di Desa Kedang Ipil (Elmo/Prokal.co)
 
 
Belasan warga berdiri berjejer, menumbuk padi dengan ritme nyaris seperti musik. Tak ada raut lelah, hanya senyum yang mengembang. Di balik gerak yang berulang itu, tersimpan makna mendalam tentang syukur, kebersamaan, dan penghormatan kepada leluhur.
 
Nutuk Beham merupakan tradisi menumbuk padi untuk memisahkan kulit hingga menjadi beras. Namun bagi masyarakat Kedang Ipil, ia bukan sekadar proses produksi pangan, melainkan ritual adat sebagai ungkapan syukur atas hasil panen.
Prosesi nutuk beham di Desa Kedang Ipil (Elmo/Prokal.co)
Prosesi nutuk beham di Desa Kedang Ipil (Elmo/Prokal.co)
 
 
Kepala Adat Kedang Ipil, Murad, menjelaskan bahwa tradisi ini selalu dilaksanakan setelah panen sebagai bagian dari rangkaian adat.
 
“Sejak awal, setelah panen hasil ladang selesai, kami melaksanakan adat Nutuk Beham sebagai bentuk rangkaian kegiatan adat,” ujarnya.
 
Persiapannya tidak singkat. Warga bergotong royong selama sekitar satu pekan, mulai dari menyiapkan kayu bakar, panggung, hingga kebutuhan lainnya.
 
“Persiapannya cukup panjang, sekitar satu minggu. Kami mulai dari mengumpulkan kayu bakar, menyiapkan panggung, hingga berbagai keperluan lainnya,” katanya.
 
Lebih dari itu, Nutuk Beham juga sarat nilai spiritual. Masyarakat meyakini adanya “roh padi” yang harus dihormati sebelum hasil panen dikonsumsi.
 
"Adat ini merupakan wujud rasa syukur kepada leluhur dan juga kepada ‘roh padi’ yang kami yakini ada. Sebelum mengonsumsi hasil panen baru, harus dilakukan ritual terlebih dahulu,” jelas Murad.
 
Bahkan, ada aturan adat yang mengikat. Warga yang memiliki ladang tidak diperbolehkan mengonsumsi beras hasil panen baru sebelum ritual ini dilaksanakan.
 
Dalam prosesnya, hasil panen dikumpulkan secara sukarela oleh warga, kemudian direndam, disangrai, didinginkan, hingga ditumbuk bersama sebelum digunakan dalam prosesi ritual.
 
“Puncak kegiatan dilaksanakan pada hari Sabtu dalam bentuk ritual sebagai ungkapan syukur atas hasil bumi yang telah diberikan,” tambahnya.
 
Ritual ini juga dipimpin oleh belian atau pemimpin adat, yang memiliki peran penting dalam prosesi sekaligus dalam praktik pengobatan tradisional.
 
Meski telah diwariskan turun-temurun, Murad mengakui tradisi ini kini menghadapi tantangan, terutama dari sisi regenerasi.
 
“Adat ini merupakan warisan leluhur yang harus dijaga, namun saat ini menjadi tantangan karena minat generasi muda mulai berkurang,” ujarnya.
 
Pengaruh perkembangan zaman dan teknologi disebut menjadi salah satu faktor yang membuat generasi muda kurang tertarik mempelajari tradisi tersebut.
 
“Kami berharap ada dukungan dari berbagai pihak, baik media, komunitas, maupun pemerintah daerah, untuk membantu mengenalkan dan melestarikan adat ini kepada generasi muda,” harapnya.
 
Tradisi yang dahulu hanya dilakukan secara internal oleh masyarakat ini mulai dibuka untuk umum sejak 2011 melalui Festival Nutuk Beham. Sejak saat itu, kegiatan ini rutin digelar dengan dukungan Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara.
 
Bupati Kukar Aulia Rahman Basri menegaskan, Nutuk Beham bukan sekadar tradisi, tetapi simbol penting dalam kehidupan masyarakat agraris di daerah tersebut.
 
“Kegiatan Nutuk Beham di Desa Kedang Ipil ini merupakan salah satu simbol dari proses panen yang dilakukan masyarakat setempat,” ujarnya saat membuka Festival Nutuk Beham, Kamis (23/4/2026).
 
Menurutnya, proses menumbuk padi hingga menjadi beras merupakan bagian dari tradisi yang harus terus dijaga keberlanjutannya.
 
Aulia menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam menjaga adat istiadat lokal agar tidak tergerus zaman.
 
“Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara memiliki komitmen besar untuk menjaga dan melestarikan adat istiadat seperti ini, serta mendorong agar kegiatan ini terus dilaksanakan setiap tahun,” tegasnya.
 
Ia juga berharap generasi muda dapat terlibat langsung agar tradisi ini tetap hidup. Dengan melibatkan dinas terkait untuk melakukan mobilisasi agar pelajar bisa menyaksikan langsung tradisi ini.
 
“Kami juga berharap ke depan ada keterlibatan generasi muda, termasuk pelajar, untuk melihat langsung proses nutuk beham agar mereka mengenal dan memahami tradisi ini,” pinta Aulia.
 
Di tengah modernisasi yang kian cepat, denting Nutuk Beham masyarakat adat Kedang Ipil menjadi pengingat—bahwa identitas sebuah daerah tak hanya dibangun dari masa depan, tetapi juga dijaga dari warisan masa lalu. (moe)
Editor : Indra Zakaria
#kutai kartanegara