PROKAL.CO, TENGGARONG – Sejumlah naskah kuno yang menyimpan jejak sejarah, adat istiadat, hingga perkembangan masyarakat Kutai Kartanegara (Kukar) masih belum sepenuhnya terungkap. Keterbatasan tenaga ahli membuat banyak manuskrip berusia puluhan hingga ratusan tahun itu belum dapat dibaca, diterjemahkan, maupun dikaji secara mendalam.
Padahal, dokumen-dokumen tersebut diyakini menyimpan informasi penting yang dapat memperkaya khazanah sejarah daerah dan menjadi sumber pengetahuan bagi generasi mendatang. Persoalan itu menjadi perhatian Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Diarpus) Kukar dalam kegiatan Sosialisasi dan Edukasi Naskah Kuno di Aula Serbaguna Perpustakaan Umum Kukar, Rabu (24/6/2026) kemarin.
Kepala Diarpus Kukar, Ridha Darmawan, mengatakan pelestarian naskah kuno tidak hanya sebatas menjaga fisik dokumen agar tidak rusak. Tahap yang lebih penting adalah mengungkap isi kandungan naskah sehingga dapat diketahui dan dimanfaatkan masyarakat. “Salah satu tantangan terbesar saat ini adalah identifikasi naskah yang belum maksimal. Setiap naskah harus didata secara lengkap, mulai dari judul, jenis tulisan, bahan yang digunakan, kondisi fisik hingga riwayat kepemilikannya,” ujarnya.
Saat ini, Ridha menyebut masih banyak naskah kuno yang telah ditemukan masih menggunakan aksara Arab Melayu. Kondisi tersebut membuat proses pembacaan tidak dapat dilakukan sembarangan dan membutuhkan tenaga yang memiliki kompetensi khusus.
“Untuk membaca naskah Arab Melayu tidak mudah. Harus ada tenaga yang mampu mengalihaksarakan ke huruf Latin, kemudian menerjemahkannya agar isi naskah bisa dipahami dan dimanfaatkan sebagai sumber pengetahuan,” katanya. Ia menjelaskan, proses pengungkapan isi naskah tidak berhenti pada alih aksara. Setelah diterjemahkan, naskah masih harus melalui kajian akademis untuk memahami konteks sejarah dan nilai pengetahuan yang terkandung di dalamnya.
Keterbatasan tenaga ahli dan dukungan anggaran menjadi kendala utama yang dihadapi pemerintah daerah dalam menjalankan tahapan tersebut. Akibatnya, banyak informasi berharga yang hingga kini masih tersimpan di balik lembaran-lembaran tua yang belum tersentuh penelitian mendalam.
Ridha menilai kondisi itu perlu menjadi perhatian bersama karena pengetahuan yang tersimpan dalam naskah kuno berpotensi hilang jika tidak segera didokumentasikan dan dikaji. Karena itu, Diarpus Kukar berencana memperkuat kolaborasi dengan akademisi, peneliti, dan berbagai lembaga yang memiliki kompetensi dalam bidang manuskrip kuno.
Langkah tersebut diharapkan dapat mempercepat proses identifikasi, alih aksara, penerjemahan, hingga penelitian terhadap naskah-naskah yang selama ini belum terungkap isinya. Selain pelestarian naskah kuno, Diarpus Kukar juga terus mendorong peningkatan budaya literasi masyarakat melalui pengembangan perpustakaan digital e-Kukar.
Saat ini platform tersebut telah menyediakan sekitar 120 ribu judul buku dengan total 187 ribu eksemplar digital yang dapat diakses masyarakat secara daring kapan saja dan di mana saja. "Kami harap upaya pelestarian naskah kuno dapat berjalan beriringan dengan penguatan literasi masyarakat. Sehingga sejarah Kukar tidak hanya tersimpan sebagai koleksi arsip, tetapi juga menjadi sumber pembelajaran yang terus hidup dan memberi manfaat bagi generasi mendatang," pintanya. (moe)
Editor : Indra Zakaria