Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Saat Keresahan Sulit Didengar, Genta Aksara Hadirkan Panggung untuk Bersuara di Jantung Tenggarong

Elmo Satria Nugraha • Minggu, 28 Juni 2026 | 17:22 WIB
Panggung Ekspresi: Genta Aksara yang digelar Pixelarasi bersama Muda Sinergi di Jam Bentong Tenggarong (Istimewa)
Panggung Ekspresi: Genta Aksara yang digelar Pixelarasi bersama Muda Sinergi di Jam Bentong Tenggarong (Istimewa)


PROKAL.CO, TENGGARONG – Tidak semua keresahan menemukan telinga yang mau mendengar. Di tengah derasnya arus informasi dan rutinitas, banyak orang memilih memendam isi kepala karena merasa tak memiliki ruang untuk menyampaikan apa yang dirasakan.

Premis itulah yang dihidupkan dalam Panggung Ekspresi: Genta Aksara, kolaborasi komunitas Pixelarasi bersama Muda Sinergi di kawasan Jam Bentong, Tenggarong, Sabtu (27/6/2026) malam. Mengusung tema "Mungkin, Kita Hanya Ingin Didengar", kegiatan ini mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk tidak sekadar berbicara, tetapi juga belajar saling mendengar.

Panggung Ekspresi: Genta Aksara yang digelar Pixelarasi bersama Muda Sinergi di Jam Bentong Tenggarong (Istimewa)
Panggung Ekspresi: Genta Aksara yang digelar Pixelarasi bersama Muda Sinergi di Jam Bentong Tenggarong (Istimewa)

Biasanya dikenal sebagai ruang berkumpul warga, malam itu kawasan Jam Bentong bertransformasi menjadi panggung harapan. Beragam ekspresi seni bergantian mengisi suasana, mulai dari penampilan musik akustik, pembacaan puisi, monolog, drama, hingga sesi panggung ekspresi yang seluruhnya diramaikan oleh pemuda-pemudi lokal Kutai Kartanegara (Kukar).

Founder Pixelarasi, Alfiah Nur Azmi, menjelaskan bahwa Genta Aksara lahir dari keinginan menghadirkan ruang yang mampu menampung suara-suara yang selama ini hanya dipendam.

"Genta berarti lonceng, sedangkan Aksara kami maknai sebagai aksi dan rasa. Lewat Genta Aksara, kami ingin menyuarakan apa yang selama ini mungkin hanya tersimpan dalam diri," ujarnya.

Genta Aksara, lanjut Azmi, bukan sekadar pertunjukan seni. Setiap penampilan menjadi medium bagi peserta untuk menyampaikan kegelisahan, pengalaman, harapan, maupun pandangan mereka terhadap kehidupan.

Azmi meyakini, setiap orang memiliki cerita yang layak didengar. Karena itu, ruang-ruang seperti ini perlu terus dihadirkan agar masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga dapat saling memahami melalui pengalaman yang dibagikan.

Semangat itu juga sejalan dengan identitas Pixelarasi sebagai komunitas literasi. Bagi mereka, literasi tidak berhenti pada kebiasaan membaca buku.

"Literasi itu luas. Kita belajar membaca keadaan, membaca situasi, lalu mendiskusikan apa yang kita pikirkan. Di situlah kami berkumpul dan saling bertukar gagasan," jelasnya.

Genta Aksara menjadi agenda perdana Pixelarasi sejak komunitas tersebut berdiri setahun lalu. Meski baru pertama kali digelar, Alfiah berharap kegiatan serupa dapat menjadi agenda berkelanjutan dengan melibatkan lebih banyak anak muda.

"Kami berharap kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut dan ke depan bisa lebih meriah, sehingga semakin banyak orang yang memiliki ruang untuk menyampaikan isi pikirannya," pintanya.

Malam kemudian ditutup dengan sesi menyalakan lilin bersama. Cahaya-cahaya kecil yang menyala di kawasan Jam Bentong menjadi simbol sederhana bahwa harapan selalu dapat tumbuh ketika seseorang memiliki ruang untuk berbicara, dan ada orang lain yang bersedia mendengarkan.

Barangkali, seperti tema yang mereka usung malam itu, banyak keresahan tidak selalu meminta solusi. Terkadang, masyarakat hanya membutuhkan satu hal yang paling sederhana: didengar. (moe)

Editor : Indra Zakaria
#kutai kartanegara