PROKAL.CO, TENGGARONG – Malam akhir pekan di Jam Bentong, Tenggarong, Sabtu (11/7/2026), terasa berbeda. Ratusan warga memadati kawasan ruang publik itu untuk menikmati pertunjukan seni, menyimak diskusi, hingga melihat beragam aktivitas komunitas yang berlangsung dalam satu ruang. Suasana yang semula hanya menjadi tempat singgah berubah menjadi titik temu masyarakat lintas usia.
Momen tersebut menjadi penanda dimulainya Jonok Bekesahan di Jam Bentong (JBDJB), sebuah konsep kegiatan yang disiapkan Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) untuk menghidupkan ruang-ruang publik melalui kolaborasi komunitas. Tidak berhenti pada satu kegiatan, agenda ini direncanakan berlangsung rutin setiap bulan dengan lokasi bergilir di sejumlah ruang publik.
Mengusung tema "Dari Jam Bentong Etam Kembangkan Pariwisata, Budaya dan Ekonomi Kreatif Berbasis Kawasan", kegiatan ini menghadirkan panggung seni, pameran komunitas, atraksi olahraga tradisional, seni tari, musik, seni rupa, hingga talkshow bertajuk "Kolaborasi Komunitas dan Instansi untuk Memaksimalkan Keberadaan Ruang Publik". Diskusi tersebut menghadirkan pegiat literasi Erwan Riyadi, Anggota Komisi IV DPRD Kukar Akbar Haka Saputra, Kabid Ekonomi Kreatif Dispar Kukar Zikri Umulda, dan Kabid Pemasaran Pariwisata Dispar Kukar Awang Ivan Akhmad.
Plt Kepala Dinas Pariwisata Kukar Awang Agus Darmawan melalui Kabid Pemasaran Pariwisata Awang Ivan Akhmad mengatakan, Jonok Bekesahan menjadi langkah awal membangun ruang publik yang benar-benar dimanfaatkan masyarakat, bukan sekadar infrastruktur yang berdiri tanpa aktivitas.
"Ini merupakan langkah awal kolaborasi kami dalam memanfaatkan ruang publik sebagai wadah bagi komunitas untuk menyelenggarakan kegiatan seni dan kreatif. Fasilitas yang telah dibangun pemerintah harus diramaikan dengan aktivitas masyarakat sesuai arahan Bupati agar ruang-ruang publik tidak hanya menjadi bangunan, tetapi benar-benar hidup," ujarnya.
Kondisi efisiensi anggaran justru menjadi momentum memperkuat kolaborasi. Ivan menyebut pemerintah berperan sebagai fasilitator, sedangkan komunitas menjadi motor penggerak berbagai kegiatan secara swadaya.
"Dengan kondisi efisiensi anggaran, kami memilih memperkuat kolaborasi. Pemerintah menyediakan fasilitas, sementara komunitas bergotong royong menyelenggarakan kegiatannya secara mandiri," katanya.
Konsep tersebut dinilai lebih berkelanjutan dibanding hanya mengandalkan festival berskala besar yang membutuhkan anggaran tinggi dan hanya berlangsung pada waktu tertentu.
"Kami juga mengurangi ketergantungan pada event besar. Event besar memang penting, tetapi hanya berlangsung sesekali dan membutuhkan biaya besar. Melalui kegiatan komunitas yang rutin seperti ini, lebih banyak pelaku seni lokal bisa terlibat," jelasnya.
Ke depan, Jonok Bekesahan ditargetkan menjadi agenda bulanan. Selain di Jam Bentong, kegiatan serupa akan bergilir ke Taman Musik, Taman Kota Raja, hingga ruang publik lainnya dengan karakter yang berbeda-beda.
Dispar Kukar lanjut Ivan, mendorong agar setiap ruang publik nantinya akan memiliki identitas tersendiri. Taman Musik, misalnya, lebih difokuskan sebagai pusat pertunjukan musik, sementara ruang terbuka lain dapat dimanfaatkan untuk teater, seni pertunjukan, maupun aktivitas komunitas lainnya.
Tak hanya menjadi panggung hiburan, Jonok Bekesahan juga akan dikembangkan sebagai ruang dialog. Pemerintah berencana menghadirkan OPD, pelaku usaha, hingga berbagai pemangku kepentingan dalam diskusi yang membahas pengembangan ekonomi kreatif dan pariwisata.
"Harapannya Jam Bentong tidak hanya menjadi tempat pertunjukan, tetapi juga ruang berdiskusi dan bertukar gagasan antara komunitas dengan pemerintah," tuturnya.
Dispar Kukar juga menyiapkan berbagai fasilitas pendukung agar ruang publik semakin nyaman digunakan komunitas. Langkah itu sekaligus diharapkan mendorong regenerasi pelaku seni melalui pertemuan antara seniman senior dan generasi muda.
"Pemerintah tidak bisa membangun ekosistem kreatif sendirian. Dibutuhkan kolaborasi dengan komunitas, pelaku usaha, dan berbagai pihak agar kegiatan seperti Jonok Bekesahan bisa terus berjalan dan berkembang," tegas Ivan.
Ramainya Jam Bentong pada pelaksanaan perdana Jonok Bekesahan menjadi gambaran bahwa ruang publik akan hidup ketika diisi aktivitas yang dekat dengan masyarakat. Melalui agenda rutin tersebut, Kukar tidak hanya berupaya memperkuat sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, tetapi juga membangun ruang bersama tempat komunitas tumbuh, berkarya, dan saling berkolaborasi. (moe)
Editor : Indra Zakaria