Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Dibalik Kekalahan Belgia atas Spanyol: Tangisan Courtois Saat Diganti, Debut Kejam bagi Senne Lammens

I
Thibaut Courtois saat digantikan Senne Lammens.
Thibaut Courtois saat digantikan Senne Lammens.

Advertisement

PROKAL.CO-  Mimpi Belgia di Piala Dunia 2026 harus terkubur secara tragis di Stadion SoFi, Inglewood. Skuad berjuluk De Rode Duivels dipaksa menyerah 1-2 oleh Spanyol dalam laga perempat final yang penuh drama, ditandai dengan tangisan Thibaut Courtois dan blunder fatal kiper pengganti, Senne Lammens.

Petaka Belgia dimulai pada awal babak kedua ketika Courtois merasakan nyeri di pahanya usai melakukan tendangan gawang. Meski sempat bertahan, rasa sakit itu terus muncul setiap kali ia melepaskan tendangan jarak jauh. Pelatih Belgia, Rudi Garcia, akhirnya mengambil keputusan berani dengan menarik keluar kiper Real Madrid tersebut pada menit ke-71 saat skor masih imbang 1-1.

Courtois berjalan keluar lapangan sambil menyeka air mata yang membasahi pipinya. Seusai laga, penjaga gawang berusia 34 tahun itu mengungkapkan perasaannya terkait pergantian tersebut. "Saya ingin terus bermain, tetapi pelatih menginginkan seseorang yang berada dalam kondisi 100 persen," ujar Thibaut Courtois. "Saya ingin mencoba bertahan mungkin 5 sampai 10 menit lagi karena secara performa di depan gawang saya merasa baik, saya melakukan penyelamatan dan tidak terganggu dengan hal itu. Saya hanya terganggu saat harus menendang bola jauh."

Kepergian Courtois menjadi awal petaka. Kurang dari 20 menit setelah masuk, Senne Lammens melakukan kesalahan fatal yang langsung dihukum oleh Spanyol. Kiper muda Manchester United itu gagal menangkap dengan sempurna tembakan spekulasi dari bek tengah Spanyol, Pau Cubarsí. Bola yang terlepas langsung disambar oleh Mikel Merino untuk mencetak gol kemenangan Spanyol pada menit ke-88.

Thibaut Courtois sedih ditarik keluar.
Thibaut Courtois sedih ditarik keluar.

Advertisement

Bagi Lammens, ini menjadi debut Piala Dunia yang sangat kejam, mengingat ini baru penampilan ketiganya bersama tim nasional. Meski demikian, rekan-rekannya di lini belakang enggan menyalahkan kiper berusia 24 tahun itu sepenuhnya. "Ini adalah momen pembelajaran baginya," kata bek Belgia, Brandon Mechele. "Itu bukan bola yang paling mudah. Saya pikir bola memantul tepat di depannya. Kami sebagai bek juga seharusnya bisa membantunya dengan mungkin lebih sigap mengantisipasi bola muntah."

Courtois juga memberikan pembelaan dan dukungan moral kepada juniornya yang sedang terpuruk tersebut. "Dia adalah pria yang kuat. Dia memiliki kepribadian yang tangguh. Saya yakin dia akan baik-baik saja," tambah Courtois.

Perjuangan Belgia di laga ini sebenarnya sangat luar biasa mengingat mereka tampil pincang sejak sebelum laga dimulai. Kapten Youri Tielemans mengalami cedera saat pemanasan, menyusul Amadou Onana yang sudah lebih dulu absen karena cedera lutut parah. Namun, generasi emas yang tersisa seperti Kevin De Bruyne dan Romelu Lukaku, berpadu dengan darah muda seperti Jeremy Doku dan Charles De Ketelaere, sukses membuat Spanyol frustrasi.

Pelatih Belgia Rudi Garcia memberi pelukan kepada Thibaut Courtois
Pelatih Belgia Rudi Garcia memberi pelukan kepada Thibaut Courtois

Belgia bahkan menjadi tim pertama yang berhasil membobol gawang Spanyol di Piala Dunia kali ini lewat sundulan De Ketelaere pada menit ke-41, mengakhiri rekor clean sheet Spanyol selama 649 menit. Sayang, momentum itu sirna di menit-menit akhir babak kedua.

Walau kembali pulang tanpa trofi, Courtois menegaskan bahwa pencapaian Belgia yang konsisten menembus perempat final di tiga dari empat edisi Piala Dunia terakhir adalah hal yang patut dibanggakan. "Di turnamen-turnamen besar, kami hampir selalu tampil baik," tegas Courtois. "Sering kali kami mendapat kritik bahwa generasi emas kami tidak pernah memenangkan apa pun. Tapi ingat, kami adalah Belgia. Kami bukan Spanyol, Inggris, atau Prancis." (*)

Advertisement
Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
ProkalIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Heboh Teori Konspirasi Final Piala Dunia 2026: Argentina 'Dipaksa' Mengalah dari Spanyol demi Mafia?

Heboh Teori Konspirasi Final Piala Dunia 2026: Argentina 'Dipaksa' Mengalah dari Spanyol demi Mafia?

Heboh Teori Konspirasi Final Piala Dunia 2026: Argentina 'Dipaksa' Mengalah dari Spanyol demi Mafia? Kekalahan pahit Timnas Argentina atas Spanyol di partai pamungkas Piala Dunia 2026 masih berbuntut

Madrid Jadi Lautan Merah! Ribuan Fans Hingga Raja Felipe VI Sambut Kepulangan Sang Juara Dunia Spanyol

Madrid Jadi Lautan Merah! Ribuan Fans Hingga Raja Felipe VI Sambut Kepulangan Sang Juara Dunia Spanyol

Timnas Spanyol mendapat sambutan spektakuler setibanya di Madrid usai menjuarai Piala Dunia 2026. Raja Felipe VI, Perdana Menteri Pedro Sanchez, hingga ribuan suporter ikut merayakan keberhasilan La R

Cetak Sejarah Baru! Piala Dunia 2030 Resmi Digelar di 6 Negara dan 3 Benua

Cetak Sejarah Baru! Piala Dunia 2030 Resmi Digelar di 6 Negara dan 3 Benua

Kombinasi tuan rumah ini juga menandai kolaborasi perdana antara dua konfederasi berbeda (UEFA dan CAF) yang memimpin gelaran utama turnamen.  Berkat statusnya sebagai tuan rumah, enam negara yaitu Sp

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer