Dapur MBG Sebulu Hentikan Operasional Pasca Keracunan Massal, Pemkab Kukar Tunggu Hasil Uji Laboratorium BPOM

Elmo Satria Nugraha • Dipublikasikan Selasa, 4 Agustus 2026 | 20:22 WIB
Dapur SPPG Sebulu Ulu yang stop operasi sementara waktu (Istimewa)
Dapur SPPG Sebulu Ulu yang stop operasi sementara waktu (Istimewa)

PROKAL.CO, TENGGARONG – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sebulu Ulu di Kecamatan Sebulu menghentikan sementara operasional dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) setelah puluhan penerima manfaat mengalami gangguan kesehatan usai menyantap menu MBG, Senin (3/8/2026). Penutupan sementara dilakukan sambil menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan yang telah diamankan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutai Kartanegara.

Langkah penghentian operasional itu menjadi tindak lanjut paling nyata setelah insiden yang menyebabkan puluhan siswa dan penerima manfaat lainnya mengeluhkan mual, muntah, pusing, dan sakit perut.

Kepala SPPG Sebulu Ulu Yayasan Wadah Lumbung Inklusi, Rahmatullah Ananda Putra, mengatakan dapur MBG untuk sementara tidak beroperasi sampai proses pendalaman dan pengumpulan data selesai dilakukan.

“Untuk hari ini kami tidak beroperasi karena masih menyelesaikan penanganan terkait kejadian kemarin. Kami masih menunggu hasil pendalaman dan pengumpulan data. Setelah itu baru menunggu arahan lebih lanjut dari pimpinan,” ujarnya, Selasa (4/8/2026).

Pada hari kejadian, Rahmatullah mengungkapkan SPPG-nya menyiapkan 1.834 porsi makanan. Menu ini didistribusikan ke sekolah-sekolah penerima manfaat di Kecamatan Sebulu. Dan ia pastikan seluruh tahapan pemeriksaan telah dilakukan sesuai standar operasional sebelum makanan dibagikan.

“Kami mengikuti SOP yang berlaku. Di sini dilakukan pengecekan organoleptik terlebih dahulu, setelah itu baru didistribusikan. Di sekolah juga ada PIC sekolah yang ikut mencicipi sebelum makanan dibagikan,” katanya.

Rahmatullah menegaskan bahan baku makanan dipasok setiap hari agar tetap segar dan tidak disimpan dalam waktu lama. Termasuk menu pentol yang ramai disebut-sebut masyarakat, yang diproduksi sendiri oleh dapur SPPG dan bukan berasal dari produk beku atau frozen food.

“Untuk bahan baku kami restok setiap hari, jadi selalu baru dan tidak disimpan lama. Pentol juga kami buat sendiri, bukan produk frozen. Semua sudah sesuai SOP," ungkapnya.

Sementara itu, Dinkes Kukar bersama Dinas Ketahanan Pangan melakukan inspeksi langsung ke lokasi SPPG Sebulu Ulu untuk menelusuri penyebab kejadian per hari Selasa (4/8/2026). Selain memeriksa kondisi dapur, tim juga melakukan penyelidikan epidemiologi dan mengamankan dua paket makanan utuh sebagai sampel pemeriksaan laboratorium di Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Kepala Dinkes Kukar, Ismi Mufida, menegaskan fokus pihaknya saat ini adalah memastikan seluruh korban mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai, sedangkan penyebab pasti kejadian masih menunggu hasil uji laboratorium.

“Yang perlu dipahami dulu, urusan SPPG bukan kewenangan bidang kesehatan. Jadi kalau ditanya bagaimana SPPG-nya, itu bukan ranah saya. Yang menjadi kewenangan kami adalah penanganan kesehatannya,” ujarnya.

Ismi menjelaskan pasien pertama datang ke Puskesmas Sebulu I sekitar pukul 09.14 WITA. Jumlah pasien kemudian terus bertambah hingga malam hari dan masih berlanjut pada keesokan harinya. Dan sampai hari ini tercatat sekitar 85 pasien telah ditangani. 

"Sebanyak 82 orang menjalani rawat jalan, sedangkan tiga orang dirawat inap. Semua pasien telah mendapatkan penanganan sesuai prosedur dan kondisi mayoritas korban tidak tergolong berat," jelasnya.

Ismi juga pastikan obat-obatan maupun cairan infus yang dibutuhkan tersedia dan mencukupi. Adapun gejala yang dialami khas keracunan makanan, seperti mual, ada juga yang muntah-muntah maupun kepala pening. Namun secara umum kondisinya ia pastikan tidak berat dan masih bisa diajak berkomunikasi.

Dinkes Kukar juga masih mendalami seluruh kemungkinan sumber kontaminasi, mulai dari makanan yang dikonsumsi, bahan baku, proses pengolahan, hingga wawancara dengan petugas dapur dan pihak sekolah penerima manfaat.

Sekalipun dikabarkan salah satu komponen makanan di menu berupa pentol menjadi faktor keracunan. Ismi tidak ingin mengambil kesimpulan dini, lantaran masih ada tahapan yang perlu dilalui untuk menetapkan akibat.

“Saya belum bisa menyimpulkan makanan yang mana sebelum hasil pemeriksaan laboratorium keluar, jangan sampai nanti menyesatkan. Jadi kami menunggu hasil laboratorium,” tegas Ismi.

Hasil pemeriksaan sampel makanan di laboratorium BPOM diperkirakan baru dapat diketahui sekitar dua minggu ke depan. Selama hasil tersebut belum keluar, operasional SPPG Sebulu Ulu masih dihentikan sementara dan distribusi MBG dari dapur tersebut belum kembali dilakukan.

Penutupan sementara ini menjadi langkah kehati-hatian agar investigasi berjalan menyeluruh sekaligus memastikan keamanan pangan bagi ribuan penerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis di Kecamatan Sebulu sebelum layanan kembali dioperasikan. (moe)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
kutai kartanegara