Di Bawah Jembatan Pela, Mahasiswa Unikarta Maknai Kemerdekaan Lewat Pesut Mahakam

Elmo Satria Nugraha • Dipublikasikan Senin, 17 Agustus 2026 | 17:57 WIB
 Pengibaran bendera merah putih di Jembatan Pela, Kota Bangun (Ist/Wamapala Unikarta)
 Pengibaran bendera merah putih di Jembatan Pela, Kota Bangun (Ist/Wamapala Unikarta)

PROKAL.CO, TENGGARONG – Sang Merah Putih berkibar di bawah Jembatan Desa Pela, Kecamatan Kota Bangun, Kutai Kartanegara (Kukar), Senin (17/8/2026). Di tempat yang jauh dari seremoni perayaan kemerdekaan pada umumnya, pengibaran bendera justru menjadi pengingat tentang lingkungan dan pembangunan yang masih membutuhkan perhatian.

Kegiatan tersebut digagas Wahana Mahasiswa Pencinta Alam (Wampala) Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) bersama Nurul Yaqin Siswa Pencinta Alam (Nuryaspala), dengan dukungan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Pela.

Ketua Umum Wampala Unikarta, Aldi Almadani, mengatakan pengibaran Merah Putih di bawah jembatan bukan sekadar perayaan HUT ke-81 RI. Momentum tersebut menjadi cara mahasiswa mengajak masyarakat melihat kemerdekaan dari perspektif yang lebih luas, termasuk keberlanjutan lingkungan.

“Bagi kami, perjuangan kemerdekaan juga tidak hanya tentang manusia. Alam dan satwa juga membutuhkan ruang untuk hidup,” ujar Aldi.

Desa Pela dipilih bukan tanpa alasan. Kawasan tersebut merupakan salah satu habitat pesut Mahakam, mamalia air tawar yang dilindungi sekaligus menjadi ikon Sungai Mahakam.

Bagi Aldi, keberadaan pesut menjadi pengingat bahwa sungai yang menjadi bagian penting kehidupan masyarakat masih menyimpan ekosistem yang harus dipertahankan.

“Pesut Mahakam tidak bisa berbicara kepada kita. Tetapi keberadaannya menjadi pengingat bahwa Sungai Mahakam masih menyimpan kehidupan yang harus kita jaga,” katanya.

Namun, pesan kemerdekaan yang dibawa mahasiswa tidak berhenti pada persoalan lingkungan. Usia Indonesia yang telah mencapai 81 tahun juga dinilai menjadi momentum untuk melihat kembali berbagai persoalan masyarakat yang belum sepenuhnya terselesaikan.

Aldi menyoroti masih adanya masyarakat yang menghadapi keterbatasan dalam memperoleh kesejahteraan, termasuk akses kesehatan, pendidikan dan infrastruktur.

“Setelah 81 tahun Indonesia merdeka, masih banyak hal yang harus kita perjuangkan. Untuk masyarakat, untuk lingkungan, dan untuk generasi yang akan datang,” tegasnya.

Di lokasi yang sama, Jembatan Pela menjadi bagian lain dari pesan yang ingin disampaikan. Infrastruktur tersebut seharusnya menjadi penghubung sekaligus membuka akses masyarakat, namun hingga kini belum dapat dimanfaatkan secara optimal.

Badan jembatan disebut telah selesai dibangun sejak 2004. Namun, keberadaannya belum sepenuhnya memberikan manfaat sebagaimana yang diharapkan masyarakat Desa Pela.

Kondisi itu menjadi ironi tersendiri. Jembatan yang berdiri di tengah kawasan permukiman dan aktivitas masyarakat justru menjadi simbol bahwa pembangunan tidak cukup hanya dengan membangun fisiknya, tetapi juga memastikan infrastruktur tersebut benar-benar dapat digunakan.

Karena itu, pengibaran Merah Putih di bawah Jembatan Pela menjadi simbol lain dari peringatan kemerdekaan tahun ini. Bendera dikibarkan bukan hanya untuk mengenang perjuangan masa lalu, tetapi juga untuk mengingatkan bahwa masih ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.

“Merah Putih tidak hanya harus berkibar di tempat-tempat yang mudah dijangkau. Ia juga harus hadir di tempat-tempat yang mengingatkan kita bahwa masih ada persoalan yang belum selesai,” pungkas Aldi. (moe)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
kutai kartanegara