Listrik Kukar Kerap Padam, BEM Unikarta Tuntut PLN Beri Kepastian dan Kompensasi

Elmo Satria Nugraha • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 19:16 WIB
Aksi demonstrasi Unikarta di Kantor ULP PLN Tenggarong (Istimewa)
Aksi demonstrasi Unikarta di Kantor ULP PLN Tenggarong (Istimewa)

PROKAL.CO, TENGGARONG – Pemadaman listrik bergilir yang terjadi di sejumlah wilayah Kutai Kartanegara (Kukar) memicu keresahan masyarakat. Kondisi tersebut kemudian dibawa puluhan mahasiswa Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) ke Kantor Unit Layanan Pelanggan (ULP) PLN Tenggarong, Selasa (18/8/2026).

Melalui aksi demonstrasi tersebut, mahasiswa meminta PLN membuka informasi secara transparan mengenai penyebab gangguan listrik sekaligus memastikan persoalan serupa tidak terus berulang. Mereka menilai pemadaman tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga berdampak terhadap pelaku usaha, khususnya UMKM.

Ketua BEM Unikarta Zulkarnain mengatakan pemadaman listrik bergilir menjadi ironi bagi Kukar yang selama ini dikenal sebagai salah satu daerah penghasil batu bara di Kalimantan Timur. Menurutnya, kondisi tersebut semakin terasa kontras karena batu bara masih menjadi salah satu sumber utama pembangkit listrik di Indonesia.

“Agak terlihat aneh ketika daerah yang notabene merupakan daerah penopang justru kerap kali merasakan pemadaman listrik bergilir. Ini memunculkan pertanyaan, apa sebenarnya yang menjadi kendala?” ujarnya.

Bagi mahasiswa, persoalan listrik tidak sekadar menyangkut kenyamanan masyarakat. Keandalan pasokan listrik juga berkaitan langsung dengan keberlangsungan aktivitas ekonomi dan pelayanan masyarakat sehari-hari.

Zulkarnain menyebut BEM Unikarta sebelumnya membuka layanan pengaduan untuk menghimpun keluhan warga. Dari laporan yang masuk, terdapat pelaku UMKM yang mengaku mengalami kerugian selama periode pemadaman.

“Hal itu yang mendasari kenapa kami mengambil langkah untuk melakukan aksi demonstrasi,” katanya.

Ia meminta PLN dan pihak terkait menjelaskan secara terbuka titik gangguan serta penyebab pemadaman yang terjadi di Kukar. Menurutnya, masyarakat membutuhkan informasi yang jelas, terutama ketika pemadaman dilakukan secara bergilir.

“Jika hari ini PLN berdalih ada kerusakan internal dan eksternal, tentu informasi itu harus dibuka secara transparan kepada publik, titik-titik kerusakan dan apa penyebab kerusakannya,” tegasnya.

Dalam aksi tersebut, mahasiswa membawa empat tuntutan. Pertama, meminta keterbukaan dan klarifikasi terkait pemadaman listrik di wilayah Kukar. Kedua, mengevaluasi keterlambatan informasi mengenai pemadaman listrik bergilir.

Mahasiswa juga menuntut adanya kompensasi terhadap kerugian masyarakat selama periode pemadaman serta meminta komitmen PLN agar persoalan serupa tidak kembali terjadi.

Setelah menyampaikan aspirasi, mahasiswa kemudian berdialog dengan pihak PLN ULP Tenggarong. Dalam pertemuan tersebut, PLN menyampaikan komitmen untuk meningkatkan pelayanan dan keandalan sistem kelistrikan.

Manajer PLN ULP Tenggarong Hasmon Karaeng mengatakan pihaknya menerima aspirasi mahasiswa sebagai bagian dari ruang komunikasi dengan masyarakat.

“PLN menyambut baik penyampaian aspirasi tersebut sebagai bagian dari komunikasi dan ruang dialog bersama,” katanya.

Menurut Hasmon, PLN terus melakukan penguatan keandalan sistem melalui pemeliharaan preventif dan prediktif terhadap berbagai peralatan kelistrikan. Langkah tersebut dilakukan untuk meminimalkan potensi gangguan sekaligus menjaga pasokan listrik tetap andal.

Selain aspek teknis, PLN juga mengakui pentingnya penyampaian informasi kepada masyarakat. Informasi terkait kegiatan yang berpotensi menyebabkan penghentian sementara aliran listrik akan disampaikan sedini mungkin sepanjang kondisi dan waktu pelaksanaan memungkinkan.

“PLN terus berupaya meningkatkan penyampaian informasi kepada masyarakat terkait kegiatan yang berpotensi menyebabkan penghentian sementara aliran listrik,” ujarnya.

Meski telah menerima penjelasan PLN, BEM Unikarta memastikan persoalan tersebut tidak berhenti setelah dialog. Mahasiswa akan memantau realisasi komitmen yang disampaikan perusahaan listrik negara tersebut di lapangan.

Zulkarnain menegaskan mahasiswa memiliki fungsi kontrol sosial sehingga janji perbaikan tidak cukup hanya disampaikan dalam forum dialog.

“Kami akan terus melakukan pengawasan dan pemantauan atas komitmen yang disampaikan PLN. Kami berharap itu bukan sekadar retorika untuk menenangkan massa aksi, tetapi benar-benar direalisasikan di lapangan,” pungkasnya.

Bagi masyarakat Kukar, persoalan berikutnya bukan lagi sekadar penjelasan mengenai penyebab pemadaman, melainkan kepastian bahwa listrik dapat kembali diandalkan. Komitmen PLN untuk memperkuat sistem dan memperbaiki komunikasi kini akan diuji oleh kondisi kelistrikan di lapangan. (moe)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
kutai kartanegara