Di Tengah Menjamurnya Coffee Shop, Selkop Buka Jalan Kopi Bukit Biru Masuk Industri

Elmo Satria Nugraha • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 00:02 WIB
Selkop Coffee Farm Trip di Kelurahan Bukit Biru, Tenggarong (Elmo/Prokal.co)
Selkop Coffee Farm Trip di Kelurahan Bukit Biru, Tenggarong (Elmo/Prokal.co)

PROKAL.CO, TENGGARONG – Di tengah menjamurnya kedai kopi dan pesatnya industri kopi, petani di Kelurahan Bukit Biru, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), masih menghadapi persoalan sederhana: memastikan hasil panen memiliki pasar dan harga yang stabil.

Persoalan itu dibicarakan dalam Coffee Farm Trip yang digelar Selkop, sebuah kafe lokal Kukar bersama petani kopi Bukit Biru, Kamis (20/8/2026). 

Diskusi perdana ini berlangsung di pondok pertemuan kelompok tani Kelompok Tani Suka Maju, ditemani senja dan langit mendung yang menaungi kawasan Bukit Biru.

Selkop mempertemukan para petani dengan dua pegiat kopi, yakni Slamet Prayoga, pemilik Malabar Coffee Mountain Liberika Lok Bahu Samarinda, serta Harianto, pelatih dan asesor kopi profesional asal Bandung, Jawa Barat.

Pertemuan tersebut tidak sekadar membahas perawatan tanaman. Petani dan pegiat kopi berdiskusi mengenai pemrosesan kopi, kualitas biji, pemasaran, hingga peluang hilirisasi kopi lokal agar terhubung dengan kebutuhan industri.

Suparno, salah satu petani kopi Bukit Biru yang telah sekitar tiga tahun mengembangkan kopi jenis Robusta, mengatakan pemasaran saat ini masih cukup baik. Namun, persoalan harga menjadi kekhawatiran utama, terutama ketika memasuki musim kemarau.

“Keresahan kami kalau musim kemarau. Kendalanya cuma itu. Untuk pemasaran sementara ini masih cukup bagus,” kata Suparno
.
Menurutnya, petani tidak membutuhkan banyak hal jika tersedia pasar yang mampu menyerap hasil panen dengan harga yang konsisten.

“Harapan petani itu supaya harga pasar stabil. Kalau ada yang menampung hasil panen, itu sudah cukup bagi kami,” ujarnya.

Saat ini, petani Bukit Biru masih menjual hasil panen melalui pasar dan pengepul. Penjualan biasanya dilakukan satu hingga dua bulan sekali, menyesuaikan kondisi pasaran.

“Kalau di pasar masih banyak, kami menunggu. Kalau kurang, kami keluarkan. Yang menjadi kendala kami adalah bagaimana harga tetap stabil,” terang Suparno.

Kebutuhan kopi di pasar Tenggarong, kata dia, bahkan masih belum sepenuhnya dipenuhi dari produksi lokal. Sebagian pasokan masih didatangkan dari Jawa.

“Pasar Tenggarong masih kekurangan, sehingga mengambil kopi dari Jawa. Padahal di Jawa juga ada kebutuhan, sehingga pasokannya terbagi,” katanya.

Di Bukit Biru, saat ini terdapat sekitar 20 orang yang mulai mengembangkan kopi. Namun, baru Suparno yang sudah memasuki masa panen, sementara petani lainnya masih dalam tahap awal budidaya.

“Kalau satu bulan, hasilnya sekitar 50-60 kilogram sekali panen,” ungkapnya.

Di sisi lain, Harianto melihat persoalan petani tidak semata-mata terletak pada ada atau tidaknya pasar. Menurut dia, pemahaman mengenai produk dan kebutuhan industri juga menjadi bagian penting yang harus dibangun.

“Sebelumnya kita apresiasi dulu ke Selkop, mereka sudah menginisiasi untuk berbicara langsung, beraudiensi sama teman-teman petani. Sebenarnya, sepengalaman saya, yang sering saya temukan adalah petani itu mengeluhkan pemasaran,” kata Harianto.

Ia menjelaskan, petani perlu memahami posisi produknya dalam rantai industri kopi. Menjual biji kopi mentah memiliki standar dan kebutuhan yang berbeda dengan menjual kopi bubuk siap seduh.

“Petani itu mindset-nya jualan apa nih? Jualan biji kopi mentah yang memang jadi produknya si petani, atau mindset-nya mau seperti di warung jualan bubuk kopi?” ujarnya.

Menurut Harianto, di sini lah peran Selkop menjadi penting. Selkop dapat menjadi penghubung antara petani sebagai produsen bahan baku dengan industri yang mengolah kopi menjadi produk siap konsumsi.

“Selkop hadir itu sebagai partner, mitra, yang nantinya akan menyerap biji-biji kopi mentah yang dari sini tadi. Selanjutnya Selkop yang akan menjual ke yang lain. Entah itu bentuknya menjadi minuman, atau menjadi bubuk-bubuk kopi yang siap seduh,” jelasnya.

Ia menilai pola tersebut dapat membuat rantai industri kopi lokal lebih terhubung, dari kebun hingga produk yang dinikmati konsumen.

“Kalau kolaborasi berjalan, ya ini kolaborasi yang baik. Dari sini kita bisa menaikkan kopi lokal, karena sudah ada industri yang nyambung, jadi nggak ada miss, nggak ada link yang putus,” katanya.

Namun, keterhubungan antara petani dan industri juga harus diikuti peningkatan kemampuan petani dalam memahami kualitas kopi. Harianto mendorong kelompok tani memiliki orang yang secara khusus memahami quality control (QC) dan proses grading.

“Nah, itulah perlu dibentuk. Di sini ada kelompok-kelompok tani yang memang akan ditunjuk orang-orang yang konsennya itu ke QC. Nanti dari sana mereka belajar dan mendalami ilmu bagaimana meng-grading kopi, bagaimana memproses kopi dengan baik,” paparnya.

Pemahaman tersebut dinilai penting agar petani dan pembeli memiliki standar penilaian kualitas yang sama. Dengan begitu, perbedaan harga tidak menimbulkan kesalahpahaman antara kedua pihak.

“Khawatirnya, yang ngerti cuma dari Selkop. Dari sisi kelompok tani nggak ada yang ngerti produk. Pada saat mereka menyampaikan satu produk tertentu, ternyata kualitasnya nggak bagus, kita kasih harganya di bawah harga standar, mereka protes karena kemurahan belinya,” jelas Harianto.

“Padahal bukan kemurahan, karena memang kualitas yang ditaruh yang nggak bagus. Nah, ini menghindari hal seperti itu,” pungkasnya.

Bagi Suparno dan petani Bukit Biru, kebutuhan paling sederhana tetap sama: pasar yang mampu menyerap hasil kebun dengan harga yang stabil. Sementara bagi Selkop dan pegiat kopi, pertemuan di tengah kebun tersebut menjadi pintu untuk menyambungkan produksi petani dengan kebutuhan industri kopi yang terus berkembang. (moe)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
kutai kartanegara