Erau 2026 Masuk Kalender Kementerian Pariwisata, Promosi Ditargetkan Menembus Mancanegara

Elmo Satria Nugraha • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 00:03 WIB
Launching Erau Adat Kutai 2026 yang masuk Kalender Event Nusantara Kemenpar RI (Elmo/Prokal.co)
Launching Erau Adat Kutai 2026 yang masuk Kalender Event Nusantara Kemenpar RI (Elmo/Prokal.co)

PROKAL.CO, TENGGARONG – Dari tradisi yang diwariskan lintas generasi, Erau Adat Kutai 2026 kini mendapat panggung lebih luas. Festival budaya yang menjadi bagian penting identitas Kutai itu masuk dalam kalender Karisma Event Nusantara (KEN), membuka peluang promosi hingga ke tingkat internasional.

Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) resmi meluncurkan rangkaian Erau Adat Kutai 2026 di Pendopo Odah Etam, Tenggarong, Kamis (20/8/2026). Peluncuran ditandai dengan pengenalan video promosi, tema, logo, serta jadwal pelaksanaan.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar Heriansyah mengatakan masuknya Erau dalam KEN membuat promosi tidak lagi berhenti di tingkat daerah.

“Erau tahun ini masuk dalam Karisma Event Nusantara. Tentu promosinya tidak hanya berskala nasional, tetapi juga internasional,” ujar Heriansyah.

Pemkab Kukar berharap status tersebut mampu mendatangkan wisatawan dari berbagai daerah di Indonesia maupun mancanegara ke Tenggarong. Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura juga berencana memperluas jejaring dengan mengundang para sultan se-Nusantara dalam pelaksanaan Erau tahun ini.

“Pihak Sultan juga mengundang para Sultan se-Nusantara yang sah, bukan yang abal-abal,” kata Heriansyah.

Erau Adat Kutai 2026 dijadwalkan berlangsung selama sepekan, mulai 20 hingga 27 September 2026. Sehari setelahnya, 28 September, kegiatan dilanjutkan di Kota Tenggarong sekaligus dirangkai dengan peringatan Hari Ulang Tahun Kota Tenggarong ke-244.

Tahun ini, Erau mengangkat tema “Raja Menunggal Bersama Rakyatnya, Raja Menjamu Rakyatnya.”

Heriansyah menjelaskan, tema tersebut bukan sekadar slogan, melainkan berkaitan dengan makna dasar Erau sebagai momentum pertemuan antara raja atau sultan dengan rakyatnya.

“Tema ini selaras dengan makna Erau. Tadi kan ada yang dieraukan, ada yang mengeraukan, kemudian ada yang erau. Momen Erau ini merupakan pertemuan antara raja atau sultan dengan rakyatnya. Kalau sekarang, kita menyebutnya sebagai pertemuan antara Sultan dengan masyarakat Kabupaten Kutai Kartanegara,” sambungnya.

Menurut Heriansyah, Erau sendiri berasal dari kata “eroh” yang bermakna riang dan gembira. Dalam tradisi tersebut terdapat pihak yang dieraukan, yakni tokoh, raja atau sultan, sementara kerabat menjadi pihak yang mengeraukan dan seluruh rakyat menjadi bagian yang erau atau bersukaria.

Karena itu, ia menilai Erau tidak seharusnya dipahami hanya sebagai pertunjukan budaya. Berbagai prosesi di dalamnya mengandung nilai yang dapat dikenalkan kepada generasi muda.

“Makna Erau inilah yang perlu kita sosialisasikan dan internalisasikan kepada anak-anak kita. Dalam proses Erau ini banyak nilai-nilai yang terkandung dan bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari,” kata Heriansyah.

Salah satunya melalui prosesi beluluh. Prosesi tersebut dimaknai sebagai upaya meluluhkan energi negatif dan membangkitkan energi positif.
Khususnya bagaimana Sultan dalam kesehariannya memimpin, termasuk dalam menjaga budaya dan adat harus mempunyai energi yang positif.

Bupati Kukar Aulia Rahman Basri mengatakan peluncuran tersebut menjadi kick off sekaligus awal sosialisasi menuju pelaksanaan Erau Adat Kutai 2026.

“Tadi kita melaksanakan peluncuran atau kick off untuk pelaksanaan Festival Budaya Erau Adat Kutai Tahun 2026,” kata Aulia.

Ia berharap seluruh rangkaian Erau tahun ini dapat terlaksana secara utuh tanpa ada kegiatan yang terpotong. Di sisi lain, keterlibatan masyarakat juga akan diperluas, termasuk melalui olahraga tradisional dan berbagai kegiatan pendukung.

“Kita berharap kegiatan Erau tahun ini bisa lebih banyak lagi melibatkan warga masyarakat, misalnya dari kegiatan olahraga tradisional dan kegiatan lainnya, tanpa mengurangi nilai kesakralan daripada Erau itu tadi,” ujarnya.

Pemkab Kukar juga akan menyosialisasikan Erau kepada 10 kabupaten/kota di Kalimantan Timur. Langkah itu berkaitan dengan sejarah dan keterkaitan sejumlah wilayah di Kaltim dengan entitas Kerajaan Kutai.

“Jadi 10 kabupaten dan kota akan kita sosialisasikan nantinya untuk pelaksanaan Erau tahun 2026,” tuturnya.

Di balik target promosi yang lebih luas, pelaksanaan Erau tahun ini juga disiapkan melalui kerja sama Pemkab Kukar dan Kementerian Pariwisata. Namun, besaran dukungan dari Kementerian Pariwisata masih menunggu penyesuaian dan efisiensi.

Dari APBD Kukar, anggaran yang disiapkan kurang lebih masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Bedanya, mekanisme penganggaran melalui Disdikbud kini berbentuk hibah kepada Kesultanan.

Heriansyah menyebut total anggaran untuk kegiatan sakral sekitar Rp4 miliar dan kegiatan seremonial sekitar Rp4 miliar, sehingga total pelaksanaan mencapai sekitar Rp8 miliar.

Hibah tersebut tidak seluruhnya digunakan untuk acara. Anggaran juga mencakup operasional Kesultanan serta pemeliharaan kedaton, termasuk pengecatan dan perbaikan bagian bangunan yang mengalami kerusakan.

Secara umum, hibah tersebut mencakup operasional Kesultanan, kegiatan sakral selama tujuh hari sesuai pakem di kedaton, serta kegiatan seremonial seperti pembukaan, ekspo dan pentas budaya di depan Kedaton dan Lapangan Stadion Rondong Demang.

Dalam waktu dekat, Pemkab Kukar bersama Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura juga akan beraudiensi dengan Menteri Pariwisata dan Menteri Kebudayaan.

“Nanti, dalam waktu dekat, kami akan mencoba beraudiensi bersama Pak Bupati dan Ayahanda Sultan dengan Menteri Pariwisata serta Menteri Kebudayaan,” jelas Heriansyah.

Dengan masuknya Erau ke kalender KEN dan rencana menghadirkan sultan se-Nusantara, Pemkab Kukar berharap tradisi yang berakar dari sejarah Kutai itu tidak hanya tetap hidup di tengah masyarakat, tetapi juga semakin dikenal sebagai kekayaan budaya Indonesia di mata dunia. (moe)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
kutai kartanegara