PROKAL.CO, TENGGARONG – Ribuan pelanggan PDAM Tirta Mahakam di Kecamatan Anggana dan Sangasanga, Kutai Kartanegara (Kukar), terdampak penghentian operasional akibat intrusi air laut di Sungai Mahakam. Kondisi ini terjadi setelah kemarau berkepanjangan membuat air laut masuk lebih jauh ke sungai dan meningkatkan kadar klorida air baku.
Direktur Utama Perumda Tirta Mahakam Suparno mengatakan kadar klorida di sumber air bahkan mencapai 3.600, jauh di atas ambang batas 250 yang menjadi batas operasional perusahaan.
“Salah satu kendala kita kenapa PDAM di dua kecamatan itu kita hentikan karena kadar kloridanya sudah melampaui ambang batas 250. Itu kan ambang batas kita untuk bisa dilakukan operasi, kemarin sampai 3.600 sehingga kita menghentikan operasi di dua kecamatan itu,” kata Suparno saat diwawancarai melalui telepon, Jumat (28/8/2026).
Penghentian operasional tersebut berdampak pada sekitar 7.500 pelanggan di dua kecamatan. Rinciannya, sekitar 3.800 pelanggan berada di Anggana, sementara sisanya merupakan pelanggan di Sangasanga.
Suparno menegaskan penghentian distribusi bukan dilakukan secara sengaja, melainkan untuk menjaga kualitas air yang diterima masyarakat. Jika operasi dipaksakan ketika kadar klorida masih tinggi, kondisi tersebut dikhawatirkan berdampak terhadap kesehatan pelanggan.
“Kami mohon kepada masyarakat untuk memahami, penghentian ini tidak ada unsur sengaja dari Perumda Tirta Mahakam, tetapi ini semata-mata juga harus menjaga kualitas air yang nantinya akan dipergunakan untuk masyarakat pelanggan kita,” ujarnya.
Untuk sementara, PDAM mengimbau masyarakat menggunakan air yang masih tersedia secara terbatas untuk kebutuhan mandi, cuci dan kakus (MCK). Sebab, air yang terdampak intrusi masih memiliki rasa asin—atau hanta.
“Kami khawatirkan saja kalau ini tetap dioperasikan. Kami tetap akan melakukan imbauan bahwa air yang didistribusikan ini kalau bisa untuk sementara ini untuk MCK. Karena memang kualitasnya atau rasanya masih hanta, kayak asin-asin gitu," jelasnya.
Selain kualitas air dan kesehatan masyarakat, intrusi air laut juga berpotensi memengaruhi peralatan instalasi PDAM. Air baku yang sebelumnya tawar berubah menjadi asin sehingga dikhawatirkan mengganggu perangkat seperti pompa injeksi.
“Kenapa itu dilakukan? Karena memang nanti kita khawatirkan akan mempengaruhi peralatan yang kita miliki, seperti pompa injeksi. Itu kan yang tadinya air bakunya tawar, kemudian asin. Ini kan juga akan mempengaruhi,” katanya.
Saat ini PDAM terus memantau kualitas air Sungai Mahakam untuk menentukan kapan operasional dapat kembali dilakukan. Pemantauan dilakukan dengan memperhatikan kondisi pasang dan surut sungai.
“Saat ini upaya-upaya yang kami lakukan adalah pertama tetap memantau kualitas air Mahakam, dengan kadar berapa yang bisa kita operasikan,” ungkap Suparno.
PDAM Tirta Mahakam turut menyiapkan langkah mitigasi dengan mengambil pasokan air dari Loa Janan melalui kerja sama dengan PDAM Samarinda. Air tersebut akan dibawa menggunakan mobil tangki untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat, khususnya di Anggana.
“PDAM tentunya tidak berdiam diri. Ini juga lagi berupaya, salah satunya adalah kami mengambil air dari Loa Janan, dari Samarinda, dengan PDAM Samarinda untuk memberikan suplai, terutama untuk kebutuhan masyarakat,” ujarnya.
Suparno mengakui pasokan tersebut belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan pelanggan terdampak. Namun, langkah itu menjadi upaya untuk mengurangi dampak penghentian distribusi.
“Saya yakin ini tidak akan bisa terpenuhi, tetapi ini bagian mitigasi kita, mengurangilah,” katanya.
PDAM juga membuka akses bagi masyarakat yang ingin mengambil air di instalasi Anggana. Selain itu, mobil tangki akan terus didistribusikan dengan menggunakan sumber air yang memenuhi syarat.
“Seperti kita ketahui tadi, beberapa masyarakat sudah mulai mengambil di instalasi kami di Anggana. Kami persilahkan. Kami tetap akan dropping mobil tangki dengan sumber air yang memang memenuhi syarat,” jelasnya.
Suparno berharap hujan segera turun di wilayah hulu Sungai Mahakam. Pasokan air dari hulu diharapkan mampu menahan masuknya air laut ke wilayah sungai.
“Dan kami berharap mudah-mudahan dalam minggu ini juga terjadi hujan di wilayah hulu, terutama itu, sehingga intrusi air laut itu juga dapat tertahan oleh air yang dari hulu,” harapnya.
Ancaman kekeringan juga menjadi perhatian untuk wilayah pesisir Kukar lainnya. Selain Anggana dan Sangasanga, wilayah pesisir yang disebut Suparno meliputi Muara Jawa, Samboja dan Muara Badak.
Untuk saat ini, Muara Jawa masih relatif aman karena sumber air bakunya berasal dari sumur dalam. Namun, kondisi tersebut tetap berpotensi terpengaruh apabila kemarau berkepanjangan.
“Tetapi jika kemarau ini berkelanjutan, maka tidak menutup kemungkinan kapasitasnya juga akan menurun,” katanya.
Karena itu, Suparno meminta masyarakat mulai menghemat penggunaan air bersih. Masyarakat juga diminta menampung air selama pasokan masih dapat mengalir.
“Maka terkait dengan ini, kami imbau kepada masyarakat untuk pertama menampung air bersih selama itu masih bisa mengalir. Kemudian yang kedua juga dengan cara menghemat dan bijak dalam menggunakan air bersih,” harap Suparno. (moe)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co