PROKAL.CO, TENGGARONG – Benih padi yang ditebar langsung ke kawasan berair di Danau Semayang, Kecamatan Kenohan, Kutai Kartanegara (Kukar), bukan metode tanam tanpa dasar. Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kukar menyebut pola tersebut merupakan bagian dari praktik pertanian yang telah lama dilakukan masyarakat setempat.
Sebanyak satu ton benih padi ditaburkan di kawasan Danau Semayang saat Bupati Kukar Aulia Rahman Basri bersama Distanak melakukan penanaman pada 2 September 2026. Benih tersebut diperuntukkan bagi lahan sekitar 100 hektare.
Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Distanak Kukar Muhammad Farid mengatakan, masyarakat Semayang telah mempraktikkan pola pertanian di kawasan danau sejak sekitar 1996.
Pola serupa kembali dilakukan pada 2015 dan saat itu petani disebut berhasil memanen hasil tanamannya.
"Tanaman di Semayang itu sebenarnya sudah dilakukan oleh masyarakat di Danau Semayang. Itu di tahun 1996, kalau tidak salah. Kemudian tahun 2015 pernah dilakukan dan pernah panen di sana," kata Farid, Selasa (8/9/2026).
Karena itu, kehadiran pemerintah daerah dalam penanaman kali ini bukan untuk memperkenalkan pola pertanian baru. Menurut Farid, pemerintah datang untuk memberikan dukungan kepada masyarakat yang kembali mengembangkan pertanian di kawasan tersebut.
Sebelum pemerintah melakukan penanaman, masyarakat disebut sudah lebih dahulu menanam padi. Tanaman milik warga yang telah ditanam tersebut kini berusia sekitar 12 hingga 22 hari.
"Jadi hadirnya Pak Bupati di sana dan kami (Distanak) adalah membantu, menyemangati kepada petani. Ada bentuk perhatian dari pemerintah daerah untuk petani di Semayang," ujarnya.
Farid menjelaskan, pertanian menjadi salah satu alternatif sumber penghasilan bagi masyarakat Semayang yang selama ini banyak bergantung pada sektor perikanan.
Ketika aktivitas sebagai nelayan terkendala, masyarakat dapat beralih sementara ke pertanian untuk menambah sumber pendapatan.
"Karena di sana adalah nelayan. Jadi ketika mereka sudah tidak bisa nelayan lagi, mereka beralih ke pertanian," katanya.
Metode penanaman yang dilakukan juga menjadi perhatian karena benih tidak ditanam di tanah secara konvensional. Benih justru ditebar langsung ke dalam air dengan metode yang dikenal sebagai Tabela Dar atau tanam benih langsung dalam air.
Menurut Farid, metode tersebut bukan hal baru. Tabela Dar sebelumnya pernah diterapkan di daerah Banjar dan tanaman disebut dapat tumbuh.
"Dulu pernah dilakukan di daerah Banjar. Namanya Tabela Dar, tanam benih langsung dalam air. Itu sudah pernah dicoba dan tumbuh," ujarnya.
Dalam metode tersebut, benih yang ditebar akan tenggelam ke dalam air. Ketika permukaan air berangsur surut, benih kemudian tumbuh di lahan yang sebelumnya tergenang.
Distanak menyebut metode tersebut memiliki pertimbangan tersendiri, termasuk untuk menghadapi gangguan hama dan hewan pada fase awal pertumbuhan tanaman.
Jenis padi yang digunakan yakni Inpari 32, varietas yang dinilai cukup baik dalam ketahanan terhadap penyakit. Tanaman diperkirakan membutuhkan waktu sekitar 110 hari hingga memasuki masa panen.
Farid memastikan tanaman yang telah ditanam di kawasan Danau Semayang sudah menunjukkan pertumbuhan. Pengalaman masyarakat yang sebelumnya berhasil memanen padi di kawasan tersebut juga menjadi salah satu dasar pemerintah dalam mendorong kembali pola pertanian itu.
"Jadi itu memang perhatian, bantuan dari kami, supaya petani membantu petani untuk menambah lagi luas tanam," katanya.
Pemerintah daerah berharap pertanian di kawasan Danau Semayang dapat menjadi pilihan tambahan bagi masyarakat, terutama ketika aktivitas perikanan menghadapi keterbatasan akibat kondisi alam. (moe)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co