Beseprah Jadi Warisan Budaya Takbenda 2026, Tradisi Duduk Sama Rendah dari Kutai Naik Kelas

Elmo Satria Nugraha • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 13:01 WIB
Tradisi Beseprah saat Erau tahun 2025 lalu (Elmo/Prokal.co)
Tradisi Beseprah saat Erau tahun 2025 lalu (Elmo/Prokal.co)

PROKAL.CO, TENGGARONG – Hamparan kain putih dibentangkan. Di atasnya, berbagai hidangan tersaji. Orang-orang kemudian duduk bersila dan makan bersama tanpa sekat, tanpa memandang siapa yang datang sebagai pejabat, bangsawan, tokoh masyarakat, maupun warga biasa. Dalam tradisi Beseprah, jarak sosial seperti dilepas sejenak.

Tradisi makan bersama masyarakat Kutai yang lekat dengan rangkaian Erau itu kini mendapat pengakuan lebih tinggi. Beseprah resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia pada 2026.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Kartanegara, Heriansyah, menyambut penetapan tersebut sebagai langkah penting untuk menjaga identitas budaya Kutai agar tidak sekadar bertahan sebagai ritual tahunan, tetapi terus dikenal dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Kita juga sangat bersyukur bahwa Beseprah masuk dalam Warisan Budaya Takbenda. Tahun ini merupakan bagian dari upaya kita supaya Beseprah juga diakui, tidak hanya secara nasional, tetapi bahkan internasional,” ujarnya, Rabu (9/9/2026).

Bagi masyarakat Kutai, Beseprah bukan sekadar agenda makan bersama. Tradisi ini identik dengan duduk bersila di atas tikar atau kain panjang sambil menikmati hidangan secara bersama-sama. Dalam pelaksanaannya, masyarakat dari latar belakang berbeda duduk berdampingan tanpa sekat status sosial.

Makna itulah yang membuat Beseprah memiliki tempat khusus dalam kebudayaan Kutai. Tradisi tersebut menjadi simbol kebersamaan, persatuan, rasa syukur, sekaligus kedekatan antara pemimpin dan masyarakat. Dalam rangkaian Erau, Beseprah juga menjadi ruang perjumpaan ketika Sultan Kutai hadir dan berkomunikasi langsung dengan rakyat.

Heriansyah mengatakan nilai utama tersebut penting dipertahankan karena generasi muda tidak cukup hanya mengenal Beseprah sebagai kegiatan adat. Mereka juga perlu memahami pesan yang ada di balik tradisi itu.

“Kalau kita tidak mendaftarkan, nanti bisa diklaim oleh pihak lain. Beseprah memiliki nilai historis yang cukup bagus untuk generasi muda kita,” katanya.

Salah satu pesan yang paling kuat adalah filosofi “berdiri sama tinggi, duduk sama rendah”. Dalam Beseprah, perbedaan status sosial seolah menghilang ketika semua orang duduk bersama menikmati hidangan dalam satu ruang. Kajian mengenai Beseprah juga menunjukkan tradisi tersebut merepresentasikan kesetaraan, gotong royong, persatuan, dan solidaritas sosial masyarakat Kutai.

“Beseprah mengajarkan berdiri sama tinggi, duduk sama rendah, di mana Sultan berkomunikasi dengan masyarakatnya,” ujar Heriansyah.

Nilai itu, menurutnya, tidak berhenti dalam kegiatan adat. Semangat mendengarkan suara masyarakat juga dapat diterapkan dalam tata kelola pemerintahan modern.

“Nilai tersebut juga sudah diakomodasi dalam kegiatan-kegiatan pemerintah, seperti Musrenbang, yaitu bagaimana kita mendengarkan aspirasi dari bawah. Ini menjadi bagian dari upaya kita untuk melestarikan adat, istiadat, dan budaya,” jelasnya.

Secara historis, Beseprah memang memiliki hubungan erat dengan Erau yang telah diwariskan turun-temurun. Tradisi ini juga dipahami sebagai cara Sultan Kutai menjamu sekaligus mendekatkan diri dengan rakyat, sehingga aktivitas makan bersama berkembang menjadi ruang berbagi cerita, menyampaikan persoalan, dan membangun hubungan sosial.

Dalam pelaksanaan Erau belakangan ini, pemandangan ribuan orang duduk berbanjar di sekitar Museum Mulawarman menjadi salah satu gambaran paling mudah untuk melihat bagaimana tradisi itu tetap hidup. Hidangan khas Kutai tersaji di atas kain panjang, sementara warga dan tamu dari berbagai latar belakang duduk bersama.

Penetapan sebagai WBTB Indonesia 2026 karena itu bukan sekadar tambahan daftar kebudayaan yang mendapat pengakuan negara. Bagi Kukar, status tersebut menjadi tanggung jawab baru untuk memastikan Beseprah tidak berhenti sebagai simbol budaya dalam perayaan Erau, melainkan tetap dipraktikkan, dipahami maknanya, dan diwariskan.

Heriansyah berharap pengakuan nasional tersebut dapat menjadi pijakan untuk membawa Beseprah lebih jauh. Sebab, ketika sebuah tradisi tetap hidup di tengah masyarakat dan nilai-nilainya terus dipahami generasi muda, warisan budaya tidak hanya tersimpan dalam dokumen, tetapi benar-benar tumbuh bersama zaman. (moe)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
kutai kartanegara