PROKAL.CO, TENGGARONG – Penaburan benih padi di kawasan Danau Semayang, Kutai Kartanegara (Kukar), dinilai perlu dilanjutkan dengan pengawalan dan pengamatan secara penuh. Akademisi pertanian mendorong agar perkembangan tanaman dipantau hingga terlihat hasil nyata di lapangan.
Rektor Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) yang juga akademisi pertanian, Ince Raden, mengatakan keberhasilan penanaman tidak cukup dinilai dari proses penyemaian atau penaburan benih. Hal yang lebih penting adalah melihat bagaimana tanaman tersebut berkembang setelah berada di lapangan.
“Yang paling penting menurut hemat saya adalah pengamatan kita saat ini. Apakah terjadi pertumbuhan padi itu di lapangan,” ujarnya.
Menurut Ince, sejumlah faktor perlu diperhatikan dalam pengamatan tersebut. Mulai dari kualitas benih, kondisi air, karakteristik tanah, hingga ketinggian permukaan lahan yang menjadi tempat benih ditaburkan.
Kondisi lingkungan juga dapat memengaruhi perkembangan tanaman. Terlebih, kawasan Danau Semayang memiliki karakter lahan yang berbeda dengan areal persawahan pada umumnya.
Ince menjelaskan, benih dengan kualitas baik memiliki peluang untuk masuk ke dalam tanah ketika ditaburkan pada permukaan air. Namun, perkembangan selanjutnya tetap bergantung pada kondisi lingkungan yang mendukung.
“Kalau dia benih yang memang bernas, biasanya dia jatuh atau masuk ke dalam tanah. Seperti kita punya benih yang bernas, kita letakkan di atas permukaan air. Kalau yang bagus, itu pasti tenggelam,” jelasnya.
Karena itu, Ince belum ingin memberikan penilaian apakah metode penaburan benih di Danau Semayang tersebut berhasil atau tidak. Dia menilai kesimpulan harus didasarkan pada kondisi tanaman yang benar-benar terlihat setelah beberapa waktu.
“Jadi kita tidak menjastifikasi bahwa berhasil atau tidak, tapi kita perlu ada bukti,” tegasnya.
Menurutnya, pengamatan secara berkala penting untuk mengetahui respons tanaman terhadap kondisi lingkungan di kawasan danau. Hasil pengamatan tersebut nantinya dapat menjadi bahan evaluasi untuk menentukan apakah metode serupa layak dikembangkan pada area yang lebih luas.
Ince juga menilai keterlibatan petani setempat penting dalam proses pengawalan. Pengetahuan masyarakat mengenai karakter lahan dan pola tanam di kawasan Danau Semayang dapat menjadi bagian dari evaluasi bersama dengan pendampingan teknis dari pihak terkait.
Dia mendorong agar perkembangan tanaman tidak berhenti dipantau setelah kegiatan penaburan selesai. Kondisi tanaman dalam beberapa waktu ke depan justru menjadi bagian penting untuk membuktikan efektivitas metode yang diterapkan.
“Apakah memang setelah Pak Bupati ke Danau Semayang menyemai dalam kondisi seperti itu, padahannya seperti apa sekarang? Ada atau enggak? Itu paling bagus untuk mengklarifikasi,” tuturnya.
Dengan pengawalan tersebut, hasil penanaman tidak hanya menjadi kegiatan simbolis, tetapi dapat memberikan data lapangan mengenai respons tanaman padi terhadap kondisi Danau Semayang.
Hasil pengamatan itu pula yang nantinya dapat menjadi dasar untuk menentukan langkah berikutnya, termasuk kemungkinan pengembangan pola tanam di kawasan tersebut. (moe)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co