PROKAL.CO, TENGGARONG – Kondisi dan persoalan setiap pelaku usaha mikro tidak selalu sama. Karena itu, Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Diskop UKM) Kutai Kartanegara (Kukar) mulai mengembangkan pola pembinaan yang disesuaikan dengan kebutuhan dan tingkat kesiapan masing-masing usaha melalui inovasi SIGAP UMKM.
SIGAP UMKM merupakan singkatan dari Sistem Inkubasi dan Penguatan Tata Kelola UMKM yang digagas Kepala Bidang Pemberdayaan Usaha Mikro Diskop UKM Kukar Santi Effendi sebagai upaya membuat pembinaan usaha mikro lebih terarah, terukur dan tepat sasaran.
Melalui model tersebut, pembinaan tidak berhenti pada pelatihan. Pelaku usaha terlebih dahulu didata dan diverifikasi, kemudian menjalani asesmen untuk melihat kebutuhan serta tingkat kesiapan usahanya.
Hasil asesmen itu menjadi dasar untuk melakukan segmentasi, menyusun rencana pengembangan, memberikan pendampingan, hingga melakukan monitoring dan evaluasi.
“Melalui SIGAP UMKM, kami ingin mengetahui terlebih dahulu kondisi dan kebutuhan pelaku usaha. Dari hasil asesmen tersebut, pendampingan diarahkan pada kebutuhan yang benar-benar menjadi prioritas sehingga pembinaan lebih tepat sasaran dan hasilnya dapat dipantau,” ujar Santi Effendi, Senin (14/9/2026).
Kebutuhan pendampingan dapat berbeda pada setiap pelaku usaha. Mulai dari pengurusan legalitas, peningkatan kualitas produk dan kemasan, pencatatan keuangan, pemasaran dan digitalisasi, akses pembiayaan, hingga pengembangan jejaring serta kemitraan.
Model tersebut juga dilengkapi indikator perkembangan usaha untuk melihat perubahan kondisi peserta sebelum dan setelah mendapatkan pendampingan.
Perkembangan itu antara lain dilihat dari kelengkapan legalitas, tata kelola usaha, pencatatan keuangan, kualitas produk dan kemasan, pemasaran digital, kapasitas produksi, serta peluang memperoleh pembiayaan dan membangun kemitraan.
Kepala Diskop UKM Kukar Muhammad Reza memberikan dukungan terhadap penerapan SIGAP UMKM sebagai bagian dari upaya memperkuat tata kelola pembinaan usaha mikro di Kukar.
Santi mengatakan, uji coba menjadi bagian penting sebelum model tersebut dikembangkan lebih luas. Hasil monitoring dan evaluasi akan digunakan untuk melihat apakah pola yang diterapkan sudah sesuai dengan kondisi pelaku usaha sekaligus menyempurnakan model pembinaan.
“Tidak harus langsung besar, tetapi ada kemajuan yang jelas dari kondisi awal menuju kondisi usaha yang lebih baik,” katanya.
Menurutnya, keberhasilan pembinaan tidak semata-mata diukur dari banyaknya pelatihan atau kegiatan yang digelar. Ukuran yang lebih penting adalah perubahan nyata pada usaha setelah pelaku UMKM mendapatkan pendampingan.
Melalui SIGAP UMKM, Diskop UKM Kukar berharap terbentuk sistem pembinaan yang lebih fokus dan berkelanjutan, sehingga pelaku usaha dapat berkembang secara bertahap menuju UMKM yang lebih mandiri dan siap naik kelas.
Semangat yang dibawa melalui inovasi tersebut adalah “UMKM Berdaya, Ekonomi Daerah Jaya.” (moe)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co