PROKAL.CO, TENGGARONG – Bangunan dan mesin pengolahan sudah tersedia, tetapi pabrik rumput laut di Kecamatan Muara Badak, Kutai Kartanegara (Kukar), belum dapat beroperasi penuh. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kukar masih membutuhkan sekitar Rp10 miliar untuk menuntaskan fasilitas pendukung sebelum pabrik tersebut bisa dimanfaatkan.
Kondisi ini membuat upaya hilirisasi rumput laut di Kukar masih menunggu penyelesaian infrastruktur penunjang. Padahal, pabrik tersebut disiapkan untuk mengolah komoditas rumput laut menjadi produk bernilai tambah, dimulai dari tepung yang nantinya dapat dikembangkan menjadi berbagai produk turunan.
Plt Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kukar Burhanuddin mengatakan, kebutuhan anggaran sekitar Rp10 miliar itu dihitung untuk menyelesaikan berbagai fasilitas di lingkungan pabrik agar siap beroperasi.
“Kalau mau dioperasikan berdasarkan hitungan teman-teman masih perlu sekitar Rp10 miliar. Termasuk penunjang semua fasilitas yang ada di sekitarnya,” terang Burhanuddin, belum lama ini.
Ia menjelaskan, mesin pengolahan sebagai komponen utama sudah tersedia dan telah melalui tahap uji coba. Bangunan utama juga sudah ada. Namun, sejumlah pekerjaan pendukung masih harus dituntaskan, termasuk penyesuaian lantai bangunan agar sesuai dengan kebutuhan operasional.
“Mesinnya sudah ada, tempatnya juga sudah ada di dalam. Cuma fasilitas penunjangnya masih membutuhkan,” jelasnya.
Penyelesaian fasilitas tersebut sebelumnya telah direncanakan melalui anggaran yang tersedia. Namun, kondisi keuangan negara dan rasionalisasi anggaran membuat sejumlah kebutuhan lanjutan belum dapat direalisasikan.
Disperindag Kukar kini masih mengupayakan agar dukungan anggaran kembali tersedia pada 2027. Dengan begitu, pekerjaan yang tersisa dapat dilanjutkan hingga pabrik siap digunakan.
“Pabriknya sudah ada, mesinnya sudah ada, tinggal dilanjutkan. Kami berharap tahun depan masih ada anggarannya lagi untuk penyelesaian,” ujarnya.
Pabrik di Muara Badak itu diproyeksikan menjadi bagian dari pengembangan hilirisasi rumput laut di Kukar. Komoditas tersebut tidak hanya dipasarkan sebagai bahan mentah, tetapi juga diolah agar menghasilkan nilai tambah melalui produk turunan.
Burhanuddin menyebut, tepung rumput laut menjadi salah satu produk awal yang direncanakan. Setelah tahap hilirisasi berjalan, pengembangan akan diarahkan pada berbagai produk olahan lainnya.
“Untuk hilirisasi nanti dari tepung. Hasilnya tepung, kemudian direncanakan tepung itu dikembangkan menjadi turunan-turunan lainnya,” tutup Burhanuddin. (adv/mo3)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co