PROKAL.CO, TENGGARONG – Jarak dan keterbatasan transportasi membuat pemenuhan air bersih di desa-desa laut Kecamatan Anggana, Kutai Kartanegara (Kukar), membutuhkan penanganan khusus. Di tengah tantangan geografis tersebut, pemerintah daerah mulai memperkuat dukungan penyediaan air melalui pembangunan fasilitas penampungan yang disiapkan untuk menampung pasokan dari wilayah darat.
Camat Anggana Rokip mengatakan, kebutuhan air bersih masyarakat di kawasan laut selama ini masih bergantung pada pengiriman dari daratan. Kondisi tersebut berdampak pada biaya yang harus dikeluarkan warga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Harga satu galon air bersih di desa-desa laut bisa mencapai Rp15 ribu. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan wilayah darat yang umumnya berkisar Rp5 ribu hingga Rp6 ribu per galon.
“Air bersih menjadi kebutuhan pokok yang cukup sulit diperoleh dan harganya jauh lebih mahal dibandingkan wilayah darat,” ujarnya saat diwawancarai, Kamis (5/11/2026).
Di wilayah laut Anggana terdapat empat desa, termasuk desa persiapan, yang menghadapi tantangan pemenuhan kebutuhan air bersih. Selain harga per galon, biaya air dalam jumlah lebih besar juga tidak sedikit. Satu drum berkapasitas sekitar 200 liter dapat mencapai Rp200 ribu, sedangkan wadah berukuran lebih besar berkisar Rp600 ribu hingga Rp700 ribu.
Pasokan air tersebut didatangkan dari wilayah darat melalui jasa pengiriman. Kondisi geografis dan jarak tempuh menjadi salah satu faktor yang memengaruhi distribusi, sehingga masyarakat perlu mengatur penggunaan air secara hemat.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Pemerintah Kecamatan Anggana berupaya menjalin kerja sama dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) dan perusahaan guna membantu penyediaan air bersih bagi masyarakat desa laut.
Dukungan juga datang dari pemerintah daerah melalui Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kukar yang telah membangun fasilitas penampungan air. Fasilitas ini disiapkan sebagai tempat menampung pasokan air bersih yang dikirim dari wilayah darat sebelum didistribusikan kepada masyarakat.
Dalam skema tersebut, perangkat desa maupun masyarakat setempat nantinya turut membantu menyalurkan air ke rumah-rumah warga. Peran masyarakat menjadi penting untuk memastikan pasokan yang tiba dapat menjangkau kebutuhan di tingkat rumah tangga.
Meski demikian, Rokip menilai penyediaan air bersih secara mandiri perlu menjadi perhatian dalam jangka panjang. Ketergantungan pada pengiriman dari daratan masih menghadapi tantangan akses transportasi dan waktu perjalanan yang cukup panjang.
Perjalanan menggunakan speedboat besar dapat memakan waktu sekitar satu setengah jam. Sementara speedboat kecil membutuhkan waktu sekitar satu jam. Jika menggunakan perahu ketinting atau perahu bermesin kecil, perjalanan bisa mencapai empat jam.
“Karena itu, kami berharap ke depan ada kebijakan dan program yang mampu menyediakan air bersih secara mandiri bagi masyarakat desa-desa laut,” harapnya.
Menurut Rokip, kondisi geografis Anggana membutuhkan dukungan kebijakan dan pembangunan infrastruktur yang tepat. Penyediaan air bersih tidak hanya perlu menjawab kebutuhan saat ini, tetapi juga memastikan masyarakat desa laut memiliki akses yang lebih terjangkau dan berkelanjutan.
Upaya pembangunan fasilitas penampungan dan kolaborasi dengan berbagai pihak menjadi langkah untuk memperkuat pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. Ke depan, solusi yang lebih mandiri diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada pasokan dari daratan sekaligus meringankan beban warga dalam memperoleh air bersih. (adv/moe)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co