PROKAL.CO, SAMARINDA - Kabupaten Kutai Timur (Kutim) di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) menjadi salah satu wilayah paling terdampak kebijakan penurunan kuota produksi batu bara dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026.
Kebergantungan tinggi terhadap sektor tambang membuat tekanan langsung terasa di tingkat perusahaan.
Disebutkan Plt Kepala Dinas Transmigrasi dan Tenaga Kerja (Distransnaker) Kutai Timur (Kutim) Trisno, sebagian besar perusahaan tambang di wilayahnya mengalami tekanan.
Baca Juga: Rencana Penambahan Rombel SMA Negeri di Bontang Diprotes Sekolah Swasta, MKKS Nilai Sudah Sesuai Ini
“Terdapat enam perusahaan besar batu bara, dari enam itu ada lima yang terdampak,” ujarnya.
Koordinasi dengan perusahaan telah dilakukan sejak Oktober 2025 untuk mengidentifikasi dampak kebijakan RKAB, termasuk potensi pemutusan hubungan kerja (PHK).
“Perusahaan menyampaikan bahwa potensi ada, khusus terkait PHK berkenaan dengan RKAB masih dalam proses,” jelasnya.
Dampak paling nyata terlihat dari penurunan drastis kuota produksi di sejumlah perusahaan.
Dia mencontohkan, salah satu perusahaan yang sebelumnya memproduksi jutaan ton harus memangkas target secara signifikan.
Baca Juga: Kementan RI Percepat Tanam di Grobogan, Alsintan Disalurkan Antisipasi Kemarau
“Contoh kasus, tahun 2025 produksinya 2,3 juta ton, tetapi diturunkan menjadi 952 ribu ton. Ada juga yang dari 1 juta ton menjadi 350 ribu ton,” paparnya.
Penurunan tersebut tidak bisa dianggap sepele karena berdampak langsung pada aktivitas ekonomi daerah.
“Ini kan signifikan sekali. Tidak bisa dianggap hal remeh,” tegasnya.
Dia menambahkan, struktur ekonomi Kutim masih sangat bergantung pada sektor pertambangan.
“Sekitar 70 persen masih bergantung dengan sektor pertambangan,” katanya.
Dengan kondisi tersebut, sedikit saja penurunan di sektor tambang dapat memberikan efek besar terhadap perekonomian daerah secara keseluruhan.
Baca Juga: Wali Kota Samarinda Bantah Isu Rehab Balai Kota Rp 17,5 M Program Baru
Pemerintah daerah pun berupaya agar dampak tersebut tidak meluas ke masyarakat.
“Harapannya masyarakat tidak terdampak signifikan dan mampu survive,” tuturnya. (far)
RADEN RORO MIRA
Editor : Faroq Zamzami