Desa Bilebante sejatinya sudah ada sejak 100 tahun lalu. Berada di Kecamatan Pringgarata, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, dengan luas 28.365 kilometer persegi yang dihuni 4.264 jiwa, dan rata-rata penduduk usia produktif.
DI Desa Bilebante, masyarakat Sasak hidup berdampingan dengan masyarakat Hindu. Melebur dengan harmonis, menjadi kebanggaan masyarakat desa. Bilebante merupakan singkatan dari dua kata, bile yang berarti buah maja (bahasa Indonesia), dan bante berarti semak belukar (bahasa Sasak). Artinya adalah pohon bile yang ditumbuhi atau dililit semak belukar yang mengikat sangat kuat.
Filosofi yang ada di Bilebante juga kuat. Masyarakat di sana sangat menjunjung wujud gotong royong sebagai simbol kekuatan persatuan.
Dulunya Bilebante bukan desa wisata hijau. Penambangan pasir bahkan dulunya lebih mendominasi. Namun, masyarakat di sana sadar pentingnya kondisi masa depan untuk perkembangan daerah.
Munculnya ide desa wisata hijau berawal dari sekumpulan ibu-ibu setempat. Zaenab yang mengawalinya dari Kopwan Putri Rinjani. Programnya adalah Pijar (sapi, jagung, dan rumput laut). Banyak yang studi banding terkait pembuatan tortila dari bahan dasar jagung dan rumput laut. Dari situlah muncul ide desa wisata. Masyarakat bersama pemerintah bahu-membahu membangun potensi Bilebante.
Dilansir dari laman dwhbilebante, lebih 400 orang berpartisipasi dalam segala pelatihan. Nah, 66 persen di antaranya adalah usia produktif di bawah 35 tahun, dan mayoritas dari jumlah tersebut adalah perempuan. Dengan pengelolaan maksimal yang dilakukan masyarakat setempat, manfaatnya juga harus maksimal diterima seluruh masyarakat.
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno yang pernah bertandang ke kawasan tersebut sangat mengapresiasi perkembangan Desa Bilebante. Dia bahkan sempat merasakan beberapa fasilitas yang luar disediakan. Salah satunya kuliner. “Sangat nyaman dan luar biasa tempatnya. Jamu dan spa di Desa Wisata Hijau Bilebante bisa jadi alternatif pengunjung. Jamunya saya beri nama Lemon Gress Tea Uno atau LGT Uno,” ungkapnya.
Anda yang hendak berencana ke sana tak perlu risau untuk tempat tinggal. Sebab di sana juga disediakan home stay bagi setiap wisatawan. “Yang datang ke sana pasti disuguhkan dengan pemandangan alam yang luar biasa. Bersepeda dengan latar belakang Gunung Rinjani serta hamparan sawah yang hijau. Menyusuri kampung Hindu-muslim yang harmonis. Sungguh luar biasa,” sambungnya. (dra/k16)
Editor : Indra Zakaria