Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Kekalahan Dinasti Tang di Pertempuran Sungai Talas, Secarik Kertas Menjadi Pampasan Perang Termahal

Indra Zakaria • 2026-02-15 13:45:00
Ilustrasi: Kertas yang dibawa tawanan Dinasti Tang kepada Kekhalifahan Abbasiyah mengubah dunia.
Ilustrasi: Kertas yang dibawa tawanan Dinasti Tang kepada Kekhalifahan Abbasiyah mengubah dunia.


BAGHDAD — Pertempuran Sungai Talas (Juli 751 M) adalah salah satu titik balik paling krusial dalam sejarah dunia. Ini adalah satu-satunya konfrontasi militer skala besar antara Kekhalifahan Abbasiyah (Arab) dan Dinasti Tang (Tiongkok). Pertempuran ini dimenangkan Abbasiyah dan kemenangannya ini mengubah drastis banyak hal.

Meskipun secara militer ini adalah kemenangan besar, dampak jangka panjangnya jauh lebih signifikan daripada sekadar wilayah. Yakni islamifikasi Asia Tengah. Kemenangan ini menghentikan ekspansi Tiongkok ke arah barat. Sejak saat itu, wilayah Asia Tengah (seperti Uzbekistan, Kirgistan, dan Kazakhstan) perlahan-lahan beralih dari pengaruh Buddha/Konfusianisme menjadi wilayah mayoritas Muslim.

Kemunduran Dinasti Tang. Tak lama setelah kekalahan ini, Dinasti Tang diguncang oleh Pemberontakan An Lushan di dalam negeri, yang membuat mereka kehilangan kendali atas wilayah barat selamanya.

Yang paling menarik adalah, terungkapnya rahasia kertas. Ini adalah dampak yang paling terkenal. Di antara tawanan perang Tiongkok terdapat para pengrajin kertas. Dari mereka, peradaban Muslim belajar cara membuat kertas. Teknologi ini kemudian menyebar ke Baghdad, Mesir, Spanyol, dan akhirnya ke seluruh Eropa, memicu revolusi ilmu pengetahuan.

Gelombang pengungsi dan tawanan perang dari wilayah perbatasan Sungai Talas (Asia Tengah) mulai tiba di ibu kota Kekhalifahan Abbasiyah. Namun, di antara ribuan prajurit Dinasti Tang yang tertangkap, terdapat sekelompok pengrajin yang membawa rahasia yang diprediksi akan mengubah wajah peradaban manusia selamanya: Teknologi Pembuatan Kertas.

Berakhirnya Era Perkamen yang Mahal

Selama berabad-abad, para ilmuwan dan juru tulis di Baghdad harus bergantung pada perkamen (kulit hewan) yang sangat mahal atau papirus yang rapuh dan sulit didapat dari Mesir. Namun, para pengrajin asal Tiongkok ini telah mendemonstrasikan metode ajaib menggunakan limbah kain linen, kapas, dan serat tumbuhan untuk menciptakan lembaran putih yang halus, ringan, dan murah.

Seorang pejabat tinggi di istana menyatakan: "Ini adalah pampasan perang paling berharga yang pernah kita terima. Pedang bisa patah, tetapi ilmu yang tertulis di atas lembaran ini akan abadi."

Pabrik Kertas Pertama di Dunia Islam

Laporan dari lapangan menyebutkan bahwa Khalifah telah memerintahkan pembangunan bengkel kerja khusus di Baghdad yang dialiri air sungai yang melimpah. Prosesnya meliputi penghancuran serat menjadi bubur (pulp), penyaringan, hingga pengeringan menjadi lembaran tipis.

Para ahli kimia lokal bahkan dikabarkan mulai bereksperimen dengan menambahkan kanji agar tinta tidak merembes, membuat kualitas kertas ini melampaui standar aslinya di Tiongkok.

Dampak Luar Biasa: Ledakan Ilmu Pengetahuan

Dengan biaya produksi yang turun drastis, para pengamat memprediksi dampak berikut akan segera terjadi. Ilmu pengetahuan tidak lagi hanya milik kaum bangsawan. Rakyat biasa segera bisa memiliki naskah sendiri.

Rencana pembangunan pusat riset Bayt al-Hikmah (Rumah Kebijaksanaan) kini mendapatkan momentum besar berkat ketersediaan media tulis yang melimpah. Dan tentu revolusi birokrasi dimana pencatatan pajak dan hukum negara akan menjadi jauh lebih teratur.

Kekalahan militer Dinasti Tang di Sungai Talas mungkin menjadi duka bagi Kaisar di Chang'an, namun bagi dunia, ini adalah awal dari "Zaman Keemasan" intelektual. Baghdad kini bukan hanya pusat kekuatan militer, tetapi juga pusat literasi dunia. (*)

Editor : Indra Zakaria