Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Mengintip Luka Tersembunyi Usia 20-an: Kenali Isyarat Darurat Anak Muda yang Butuh Pelukan Emosional

Redaksi Prokal • Selasa, 9 Juni 2026 | 08:48 WIB
Ilustrasi remaja / Foto: Magnific
Ilustrasi remaja / Foto: Magnific

PROKAL.CO- Usia 20-an kerap diagungkan sebagai masa keemasan yang penuh kebebasan, petualangan, dan kemandirian. Namun, di balik topeng kedewasaan yang tegap, tidak sedikit anak muda di fase emerging adulthood ini yang diam-diam sedang tertatih-tatih menahan gempuran tekanan hidup yang luar biasa berat. Transisi radikal menuju dunia nyata—mulai dari tuntutan finansial, ambisi akademis, hingga persaingan karier—sering kali memicu badai stres emosional yang tak kasat mata.

Menghadapi fase rentan ini, kepekaan orang tua dalam membaca perubahan psikologis anak menjadi benteng pertahanan yang paling krusial. Salah satu alarm awal yang paling sering muncul adalah perubahan sikap anak yang mendadak menarik diri dari pergaulan dan lingkaran keluarga. Ketika seorang anak yang biasanya hangat berubah menjadi pendiam, jarang pulang, atau enggan berkomunikasi, hal itu bukanlah bentuk pembangkangan, melainkan mekanisme pertahanan diri karena mereka merasa tidak ada orang yang mampu memahami kerumitan beban batin yang sedang mereka pikul sendirian.

Beban pikiran tersebut biasanya akan tumpah dalam bentuk keluhan yang berulang-ulang mengenai arah hidup, pilihan karier yang abu-abu, hingga kecemasan akut seputar masa depan. Rentetan overthinking yang tidak divalidasi ini perlahan akan merusak kestabilan emosi anak, menyebabkannya menjadi mudah tersinggung, sensitif, hingga kehilangan motivasi total terhadap aktivitas sehari-hari maupun hobi yang sebelumnya sangat mereka gemari. Fase krisis seperempat abad atau quarter life crisis ini kerap diperparah oleh racun media sosial, di mana anak mulai terjebak dalam kebiasaan tidak sehat membandingkan pencapaian diri dengan orang lain yang akhirnya mengikis rasa percaya diri mereka.

Ketika energi emosionalnya mulai terkuras habis, anak muda cenderung mencari pelarian instan yang kurang produktif, seperti begadang tanpa alasan jelas atau kecanduan game demi mengalihkan rasa takut yang menghantui kepala. Sinyal darurat paling kritis adalah ketika anak mulai melontarkan candaan atau pernyataan minor yang mengisyaratkan bahwa dirinya merasa tidak berharga, gagal, atau tidak dicintai. Kalimat-kalimat tersebut merupakan jeritan minta tolong paling nyata bahwa sang anak sedang meragukan eksistensi dirinya dan sangat merindukan validasi, arahan tanpa penghakiman, serta dekapan hangat dari orang tua untuk menguatkan kembali langkah mereka. (*)

Editor : Indra Zakaria
#remaja #Remaja Labil