Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Topeng Kemarahan: Mengapa Orang yang Agresif Sebenarnya Sedang Menahan Luka Batin yang Hebat?

Redaksi Prokal • Rabu, 24 Juni 2026 | 11:00 WIB
Ilustrasi marah dan agresif.
Ilustrasi marah dan agresif.

PROKAL.CO- Ungkapan "If a person is often aggressive, it means they have strong internal pain they tend to hide within themselves" (Jika seseorang sering bersikap agresif, itu berarti mereka memiliki luka batin yang hebat yang cenderung mereka sembunyikan di dalam diri mereka) adalah sebuah analisis psikologis tentang kaitan antara kemarahan luar dengan kerapuhan dalam.

Arti dari ungkapan ini adalah perilaku agresif, kasar, atau suka menyerang sering kali bukanlah tanda kekuatan, melainkan sebuah mekanisme pertahanan diri (defense mechanism) yang meledak-ledak untuk menutupi rasa sakit, trauma, atau ketakutan yang tidak terselesaikan di dalam hati.

Mengapa Luka Batin Berubah Menjadi Agresi?

Dalam dunia psikologi, fenomena ini sering digambarkan dengan kalimat: "Hurt people, hurt people" (Orang yang terluka, cenderung melukai orang lain). Berikut adalah alasan ilmiah dan psikologis di baliknya:

Kemarahan sebagai "Topeng" Rasa Sakit (Secondary Emotion): Rasa sakit hatinya terlalu perih, merasa ditolak, atau merasa tidak berharga adalah emosi utama (primary emotion) yang sangat menyakitkan untuk diakui karena membuat seseorang terlihat rapuh. Untuk melindunginya, otak secara otomatis mengubah rasa sakit itu menjadi kemarahan atau agresi (secondary emotion) yang membuat mereka merasa memiliki kendali dan terlihat "kuat".

Mekanisme Pertahanan "Menyerang Sebelum Diserang": Orang yang memiliki luka batin mendalam—misalnya akibat trauma masa lalu, penindasan, atau pengabaian—sering kali memandang dunia sebagai tempat yang tidak aman dan penuh ancaman. Akibatnya, mereka selalu dalam mode siaga tempur. Mereka memilih bersikap agresif dan menyerang orang lain terlebih dahulu sebagai tameng agar diri mereka tidak terluka untuk kedua kalinya.

Ketidakmampuan Meregulasi Emosi: Ketika seseorang menyimpan beban emosional yang terlalu berat dan penuh sesak di dalam dadanya tanpa pernah disembuhkan, cangkir emosional mereka akan meluap. Hal sepele dari luar bisa menjadi pemantik bom waktu yang membuat mereka meledak menjadi tindakan agresif karena sistem saraf mereka sudah terlalu lelah menahan rasa sakit.

Sikap agresif yang sering ditunjukkan seseorang sering kali merupakan jeritan minta tolong yang menyamar menjadi kemarahan. Tentu saja, agresi atau perilaku kasar tidak bisa dibenarkan. Namun, memahami filosofi ini membantu kita melihat melampaui perilaku buruk mereka. Di balik kepalan tangan yang keras atau bentakan yang kasar, sering kali ada jiwa yang sedang ketakutan, terluka parah, dan tidak tahu bagaimana cara menyembuhkan dirinya sendiri selain dengan cara mengamuk kepada dunia. (*)

Editor : Indra Zakaria
#agresif #psikologi