Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Ternyata Biaya Perawatan Gigi di Indonesia Termahal Kedua di ASEAN, "Malaikat Pencabut Gigi" Bagikan Tips Gigi Putih dan Sehat dengan Hemat 

Redaksi • Kamis, 16 Juli 2026 | 11:53 WIB
Zahrah
Zahrah Almira Cita Utami

PROKAL.CO, JAKARTA-Ternyata, duit yang dikeluarkan warga Indonesia untuk perawatan kesehatan gigi menempati posisi tertinggi kedua di Asia Tenggara (ASEAN). Angkanya mencapai rata-rata US$ 1.160, membayangi Singapura di posisi pertama. 

Fakta ini merujuk pada laporan WHO’s Oral Health Country Profile 2022 yang dilansir oleh Badan Kebijakan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI).

Dalam siaran pers Bayu Wardhana dari, Public Relations Lead, usmile Indonesia, menyebutkan merujuk Markethac penjualan pasta gigi sensitif  mencapai 339,3 produk pada periode Maret – Juni 2026, salah satu pasar yang berpotensi di e-commerce. 

Baca Juga: Kepada Para Pencari Kerja di Kabupaten Berau, Siap-Siap Disnakertrans Bakal Gelar Job Fair 2026 

Lebih spesifik dari data ini, kanal TikTok Shop x Tokopedia jadi yang paling diminati, dengan memiliki market share sebesar 58,2 persen, sementara Shopee 41 persen.

Hal ini menunjukkan bahwa social commerce jadi tempat yang tepat untuk mempromosikan produk, sekaligus mengedukasi manfaat dari bahan-bahan aktif yang digunakan pada produk.

Praktisi kesehatan gigi yang dikenal di TikTok dengan akun "Malaikat Pencabut Gigi", drg Zahrah Almira Cita Utami, menekankan pentingnya edukasi preventif bagi masyarakat agar tidak terjebak pada kebiasaan yang salah yang akhirnya menguras kantong. 

"Banyak pasien yang datang ke saya dan mengeluhkan mengapa belum ada perubahan meskipun sudah menggunakan pasta gigi pencerah. Kenyataannya, kalau kebiasaan merokok, mengopi, dan makan makanan yang berwarna pekat masih terus dilakukan, stain (noda di gigi) akan tetap menempel dengan kuat," jelas drg Zahrah.

Sebagai tindakan preventif harian, ia menyarankan langkah mitigasi yang mudah diaplikasikan.

"Kalau kebiasaan tersebut tidak bisa dikurangi, pastikan untuk selalu bilas atau berkumur menggunakan air mineral setelahnya. Jika mengonsumsi minuman yang berwarna, bisa menggunakan sedotan untuk mengurangi dampak diskolorasi warna gigi," sarannya.

Baca Juga: Kemenaker Petakan Kebutuhan Tenaga Kerja untuk Industri di Jepang, Ini Peluangnya

Dalam pemilihan produk perawatan, drg Zahrah juga mengingatkan konsumen untuk lebih kritis.

"Pastikan tidak hanya menggunakan pasta gigi yang hanya memiliki busa banyak, tapi nyatanya tidak dapat mengangkat noda atau stain. Saya menyarankan pasta gigi yang sudah ada uji labnya. Apabila memang setelah rutin melakukan perawatan mandiri ini keluhan atau masalahnya tidak selesai, baru langkah yang harus diambil adalah menemui dokter gigi untuk penanganan lebih lanjut," katanya. 

Michelle, Country Manager usmile Indonesia and Malaysia, mengonfirmasi pentingnya ketelitian dalam memilih kandungan pasta gigi seperti yang diedukasikan oleh drg Zahrah.

Baca Juga: Transfer Dana Pusat ke Balikpapan Diprediksi Anjlok Jadi Rp800 Miliar pada 2027, DPRD Andalkan PAD Naik Rp100 Miliar

"Apa yang disampaikan oleh dokter Zahrah sangat memotret realitas pasar. Konsumen harus semakin jeli menyadari bahwa pasta gigi dengan busa berlimpah atau bahan abrasif kasar yang diklaim memutihkan instan justru berisiko menggores enamel, yang pada akhirnya memicu tingginya biaya ke dokter gigi di kemudian hari," ungkap Michelle. (*)

Editor : Faroq Zamzami
perawatan gigi malaikat pencabut gigi indonesia asean